Aku Diponegoro: Sang Pangeran Dalam Bingkai Seni

Pangeran Diponegoro dan Raden Saleh

“Mbak…” Setengah berteriak, tergopoh-gopoh, seorang perempuan berpostur mahasiswa menghentikan langkah saya. “Sepatunya tolong dilepas ya Mbak, sembari dibaca aja keterangannya,” ujarnya lagi sambil menunjuk poster tulisan yang tersampir di sisi kiri pintu masuk.

Dingin yang menggigit seketika merambat melalui telapak kaki, ditingkahi aroma melati yang sayup-sayup mulai menyusup. Melalui taburan melati dan AC yang disetel lebih dingin, nuansa mistis seperti dipaksa hadir di ruang ini.

Read the rest of this entry

Narasi Tentang Gua Terindah se-Asia Tenggara

gua gong

Tiap kali traveling bareng Mas Bayu, hampir tak pernah saya memasukan gua ke dalam itinerary. Apa pasal? Sebab travelmate saya itu (ternyata) memiliki fobia (yang aneh) pada gua; fobia yang baru terdeteksi sejak beberapa tahun silam, saat kami tengah menyuruk masuk ke rongga perut Gua Gelatik.

Waktu itu, tiba-tiba saja Mas Bayu mengalami kepanikan dan minta diantar keluar. Padahal kami baru saja tiba di rongga perut gua setelah menyusuri batang tenggorokannya sepanjang puluhan meter dengan merangkak dan merayap.

Seumur-umur, belum pernah saya melihat raut takut yang begitu kentara di wajah Mas Bayu. Apa sebetulnya yang membuat air mukanya berubah?

Read the rest of this entry >>

Sekelumit Tanda Tanya Perihal Neraca Satelit Pariwisata Nasional

Nesparnas

 

: Kepada Yth Bapak Arief Yahya

Sebelumnya ijinkan saya untuk memperkenalkan diri terlebih dulu. Nama saya Defi Laila Fazr, salah satu staf Bapak di Kementerian Pariwisata. Sampai detik ini kita memang belum pernah bertatap muka, Pak. Tapi setidaknya saya pernah berjumpa dengan Bapak dua kali. Pertama saat Bapak berkunjung ke setiap lantai untuk bertemu dengan seluruh staf baru Bapak; dan kedua saat Bapak bercengkerama dengan beberapa staf Bapak di kantin kantor, usai olahraga Jumat pagi. Dua pemandangan itu tidak pernah saya jumpai pada dua menteri pendahulu Bapak.

Read the rest of this entry >>

Seharian Telusur Gili Trawangan

Maraknya pemberitaan tentang kapal tenggelam sebelum waktu keberangkatan kami ke Lombok membuat rencana menyeberang ke Gili Trawangan menjadi maju mundur cantik. Mas Bayu yang kadang masih suka parno saat terbang, kini menjadi parno juga untuk menyeberang lautan.

Ke Lombok tanpa ke Gili Trawangan? Oh, yang benar saja! Konon kabarnya, sekarang ini Gili Trawangan sudah nggak seasyik dulu. Semakin ramai, padat, dan mulai kumuh.

Duh, apalagi nanti; tiga atau lima tahun lagi?!

Demi membujuk Mas Bayu yang masih ogah-ogahan, saya pun gencar mencari info supaya bisa membujuk dengan alasan yang masuk akal. Sialnya, cuaca ekstrem yang tengah melanda Indonesia ternyata juga turut menyambangi Lombok dan perairannya tanpa terkecuali. Hujan berintensitas tinggi disertai angin kencang membuat penyeberangan kapal cepat dari Bali ke Gili Trawangan sempat terhenti karena gelombang yang tinggi. BMKG bahkan meramalkan akan terjadi badai!

Duh, bagaimana ini? Speedboat yang lebih canggih aja nggak berani menyeberang, apalagi public boat dari Bangsal yang notabene cuma perahu kayu bermesin!

Read the rest of this entry >>

Eksplorasi Kopi Sumatera: Sebuah Pembuktian Sahabat Petualang

Pulau Sumatera

Sumatera adalah Suwarnadwipa, pulau emas dengan selaksa pesona yang memikat panca indera. Entah bentang alamnya, warisan tradisi dan budaya, atau racikan rempah-rempah dalam kulinernya, adalah magnet; layaknya nektar yang mengundang kumbang untuk datang. Di antara selaksa pesona yang dikandungnya, Kopi Sumatera adalah salah satu daya tarik yang harumnya menyusup hingga ke mancanegara.

Read the rest of this entry >>

Menggoda Nyali di Kaki Rinjani

Tiap kali mengingat Lombok sering saya menerka kalau Tuhan pastilah sedang bersenang hati saat menciptakannya. Setiap inchi alam yang terbentang, nyaris sempurna dan jauh lebih indah dari objek serupa di banyak tempat lainnya; entah itu gunungnya, bentang pantai, barisan bukit, atau untaian air yang jatuh membentuk air terjun. Bisa dipastikan saya lantas menutup kilas ingatan ini dengan rasa iri yang teramat sangat pada para penghuninya; betapa beruntungnya mereka dihadiahi Tuhan kampung halaman seelok ini. Tuhan menciptakan Lombok dengan tersenyum.

Read the rest of this entry >>

Mengenal Sekelumit Hasil Tambang Di Museum Geologi

Kosan saya di Bandung, letaknya hanya sepelemparan batu dari Museum Geologi. Bisa ditempuh dengan hanya berjalan kaki. Hampir setiap hari saya bertegur pandang dengan kemegahan arsitekturnya yang bergaya art deco. Hampir setiap hari pula saya bisa menemukan wajah-wajah penuh keriaan para pengunjungnya dari balik kaca bus-bus besar berspanduk ‘Rombongan Study Tour‘ yang terparkir seri di tepi jalan.

Meskipun hanya berjarak sepelemparan batu, namun belum pernah sekali pun saya menyisihkan waktu untuk benar-benar singgah dan mengintip apa saja yang tersimpan di dalamnya. Bukan karena tidak tertarik. Jarak yang hanya sepelemparan batu membuat saya merasa bisa menyambangi Museum Geologi kapan saja. Jadilah saya menunda dan menunda, hingga tanpa terasa periode studi saya hampir berakhir masanya, dan saya belum juga berkunjung kesana.

Adalah di suatu siang di Bulan Februari, ketika akhirnya langkah kaki saya sampai juga di pelataran halamannya.

Read the rest of this entry >>