Tags

, , , , , , , , , , , ,

Kings Park and Botanic GardenApa yang paling diidamkan warga terhadap kota yang didiaminya? Ruas jalan yang bebas dari kemacetan dan mengakomodasi para pejalan kaki? Jaminan keamanan hingga sepanjang hari? Udara segar yang bebas dari polusi? Atau ruang publik yang nyaman untuk sekedar bercengkerama dan menikmati penghujung hari? Perth punya semuanya!

Di suatu siang yang tidak begitu terik, saya berkesempatan mengunjungi salah satu ruang publiknya yang berada tak jauh dari pusat kota. “Selamat datang di Kings Park, salah satu taman kota terbesar di dunia yang luasnya melebihi Central Park di New York,” Ann Newman menyambut kedatangan kami dan memperkenalkan diri sebagai salah seorang volunter di taman ini.

Kings Park merupakan sebuah taman kota seluas 400 hektar yang dua per tiga areanya didominasi oleh semak dan rerumputan, serta menjadi rumah bagi 3.000 spesies flora khas Australia. Ada banyak pilihan aktivitas yang bisa dilakukan selama berada di Kings Park. Mengikuti tur untuk mengenal beragam jenis flora lokal merupakan salah satunya. Seperti yang kami lakukan bersama Ann siang itu.

John Forrest“Coba hirup tanaman ini”, ujar Ann seraya menyodorkan potongan daun di tangannya. “Apakah kalian mengenali baunya?”, Ann meminta kami menebak jenis tanaman yang setelah dihirup lekat-lekat kami identifikasi sebagai kayu putih. “Bukan! Bukan! Ini peppermint”, seru Ann mengklarifikasi yang langsung kami tanggapi dengan suara “oh” bersahutan. Memiliki pengalaman selama lebih dari 30 tahun sebagai relawan di Kings Park membuat Ann mengenal betul seluk beluk setiap spesies yang hidup di sini.

Kepada kami, Ann juga menunjukkan tanaman penghuni tertua sekaligus salah satu daya tarik utama di Kings Park, “ini pohon boab. Usianya ditaksir sudah lebih dari 750 tahun.” Boab merupakan salah satu spesies flora asli Australia Barat yang banyak ditemukan di wilayah Kimberley. “Pohon ini merupakan pemberian dari suku Aborigin Gija, yang dibawa langsung dari Kimberly dengan menempuh jarak sejauh 3.200 km!” Wow! Kami berdecak takjub. Menempuh jalur darat sejauh 3.200 km hanya untuk sebuah pohon?! Bukankah itu sama jauhnya dengan menempuh jarak dari Banda Aceh hingga Banyuwangi?! Sudah tentulah boab ini bukan pohon sembarangan.

Boab JumuluBoab yang dalam bahasa Gija disebut dengan jumulu merupakan spesies flora yang sangat unik. Setiap pohon memiliki karakternya tersendiri. Namun untuk dapat mencapai bentuknya yang unik, pohon ini membutuhkan waktu hingga ratusan tahun karena pertumbuhannya yang sangat lambat. Sejumlah pohon boab yang hidup di wilayah Kimberley bahkan ditaksir telah mencapai usia ribuan tahun. Oleh masyarakat Aborigin, pohon boab yang konon memiliki keterkaitan dengan pohon baobab di Madagaskar ini biasa digunakan sebagai bahan makanan dan obat-obatan.

Begitu istimewanya pohon ini bagi masyarakat adat suku Gija, hingga mereka sampai menggelar upacara perpisahan sebelum pohon itu berpindah habitat. Tak hanya bagi suku Gija, masyarakat kota Perth juga menanti kedatangan pohon ini dengan antusiasme berlimpah. Pada tanggal 20 July 2008, dengan disaksikan oleh lebih dari 3.000 orang, pohon boab Jumulu secara resmi ditanam kembali dan menghuni salah satu sudut di Kings Park.

Menurut Ann Newman, budaya suku Aborigin merupakan salah satu unsur signifikan yang mewarnai Kings Park dan sejarah Australia. Di Kings Park, budaya suku Aborigin ini dilestarikan dengan cara mempertahankan penamaan spesies khas Australia dengan nama-nama pemberian suku Aborigin. Seperti halnya boab jumulu.

Swan River ViewTak hanya melestarikan spesies khas Australia dan budaya suku Aborigin, Kings Park juga menjadi ruang bagi warga Australia Barat untuk mengenang dan menghormati jasa para pahlawannya. Di Honour Avenues misalnya, ada ribuan tanaman yang ditandai dengan papan kecil berisi nama seorang pahlawan sebagai bentuk penghormatan. Selain itu, Kings Park juga memiliki sejumlah memorial yang didedikasikan bagi para pahlawannya yang gugur di medan perang.

Sore itu saya berkesempatan mengunjungi salah satu memorialnya yang paling ikonik: The State War Memorial. Konon, setiap tahunnya memorial ini dikunjungi oleh lebih dari 40.000 orang pada saat ANZAC (Australian and New Zealand Army Corps) day dawn service. Selain ikonik, The State War Memorial juga memiliki konfigurasi taman yang indah dengan panorama sungai Swan sebagai latar belakangnya sehingga begitu menawan sebagai ruang publik.

The State War MemorialBeberapa pengunjung terlihat sangat menikmati waktunya dengan berbaring di hamparan rumput sambil membaca. Sementara di sudut lainnya, sejumlah pengunjung terlihat asyik bercengkerama, bermain bola, dan berlari-lari kecil mengitari taman. Setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk melewati waktu luangnya bersama Kings Park.

Saya sendiri sangat menikmati perjalanan saat menyusuri Lotterywest Federation Walkway: sebuah jembatan sepanjang 620 meter yang membentang membelah area Western Australian Botanic Garden di ketinggian, dengan pepohonan eucalypts sebagai kanopinya serta lanskap sungai Swan dan kota Perth sebagai panorama di sisinya.

Lotterywest Federation WalkwaySeandainya kami memiliki cukup waktu, bersepeda menyusuri Kings Park hingga senja menyapa tentulah akan sangat menyenangkan. Sungguh tiada sia-sia upaya para pendiri dan konseptor Kings Park yang berjuang mewujudkan keberadaan sebuah ruang publik yang layak bagi masyarakat. Sebagai salah satu taman kota terluas di dunia, Kings Park memang memesona.

***

Note: Tulisan ini merupakan bagian dari rangkaian catatan perjalanan selama 6 hari menyusuri Western Australia bersama Tourism Western Australia dan National Geographic Indonesia. Artikel selengkapnya bisa ditelusuri di #NGTravelMate.

Advertisements