Tags

, , , , , , , , , , , , ,

Lautan yang tenang (barangkali) tak akan pernah melahirkan pelaut nan tangguh. Namun gelombang yang tinggi juga bukanlah arena yang asyik untuk bermain ayunan.

Di atas KLM Bunga Lestari yang menanam sauhnya di tepi Pelabuhan Badas, kami duduk termanggu, menunggu sang nahkoda yang tak kunjung rampung mengurus perpanjangan ijin melaut kapal layar mesinnya. Tersebab awan yang masih bersetia merintikan hujan, tak banyak pilihan aktivitas yang bisa saya lakukan selain memotret dan mengamati setiap kapal yang berlabuh. Hampir satu jam berlalu, sang nahkoda yang kemudian kami panggil dengan sebutan Pak Hamid barulah muncul dan menarik sauh. Pelayaran mengarungi Laut Flores dan Teluk Saleh pun dimulai.

Pelabuhan Badas

Meski hanya berlabel teluk, namun mengarungi Teluk Saleh di saat angin musim barat bukanlah sebuah pilihan yang tepat. Jelang 20 menit selepas KLM Bunga Lestari menjauh dari Pelabuhan Badas, saya mulai merasakan mual dan limbung akut. Dari tempat saya duduk dan menghirup aroma minyak kayu putih, Niken, teman seperjalanan saya terlihat sibuk mengeluarkan isi perutnya. Melihat kondisi Niken, saya pun mencoba berjalan menghampiri untuk berbagi minyak kayu putih. Namun angin dan ombak yang sedari tadi berkolaborasi mengguncang-guncang kapal, kini dengan kompaknya menghempaskan saya hingga terpelanting ke lambung kiri kapal. Saya pun hanya bisa terduduk, berusaha menenangkan gejolak dalam perut, hingga akhirnya jatuh tertidur.

Menjelang siang, saya terbangun oleh hiruk pikuk antusias para penghuni kapal yang berseliweran menghampiri haluan kapal. Rupanya Bunga Lestari kini hendak melempar jangkar. Di hadapan saya kini terhampar tanah berpasir cokelat muda dihiasi rumah-rumah mungil yang tampaknya tak berpenghuni. “Teman-teman, kita akan berhenti sebentar di Pulau Moyo untuk makan siang. Tapi berhubung kapal tidak bisa merapat, kita akan tetap makan di atas kapal.” Seketika, antusiasme pun bertukar rasa dengan kecewa. Bayangan untuk bisa trekking dan mencari air terjun di Pulau Moyo serta merta pupus sudah. 😦

Pulau MoyoSaat kapal kembali berlayar, Mas Aka, fotografer berdarah asli Sumbawa yang ikut dalam rombongan kami, menghampiri saya dan memberikan sekantong kecil bubuk kopi. “Nanti kalau mual lagi coba hirup ini aja.” Bubuk kopi pemberian Mas Aka memang terbukti lebih ampuh dari minyak kayu putih. Sepanjang sisa perjalanan mengarungi Teluk Saleh, saya mulai bisa menikmati pelayaran meski kapal tetap menjelma ayunan di lautan.

Di sisi kiri kapal kini terbentang hamparan hutan Pulau Moyo yang memiliki garis pantai lumayan panjang: 88 km. Sementara di sisi kanan, samar-samar terlihat siluet Tambora bertudung himpunan awan. Sesekali, satu-dua ekor lumba-lumba pun berlompatan di sisi kiri dan kanan kapal.

Garis pantai Pulau Moyo

Garis pantai Pulau Moyo

Siluet Pulau Satonda yang disebut mirip payuda**

Siluet Pulau Satonda yang disebut mirip payuda**

***

Langit dan laut di wilayah Samota masih bersemu biru kala KLM Bunga Lestari bersiap menanam sauhnya di tepian Pulau Satonda. Dari arah dermaga, sebuah speed boat kecil terlihat bergerak mendekat, menghampiri kapal yang kami tumpangi sedari pagi tadi. Rupanya perairan di dermaga Pulau Satonda terlalu dangkal untuk bisa dirapati sebuah kapal layar bermesin. Jadilah kami ditransfer bergiliran dengan kapal kecil menuju dermaga pulau.

Pulau satondaPulau SatondaPUlau SatondaTiba di dermaga kayu minimalis, kami disambut beberapa perempuan muda berperawakan hitam manis yang dengan sigap menyandang koper bawaan kami di atas kepala. “Mumpung hari belum gelap, teman-teman yang ingin melihat danau silakan menyusuri tangga di sebelah sana”, suara Pak Taufik Rahzen, ketua rombongan, memecah lamunan saya yang sempat terpana menyaksikan mereka, para perempuan perkasa.

Semula saya mengira kalau kami harus trekking terlebih dulu untuk bisa sampai ke Danau Motitoi. Ternyata pengelola pulau sudah mempermudah aksesnya melalui sejumlah anak tangga.

Danau SatondaDanau Motitoi atau yang dikenal dengan sebutan Danau Satonda merupakan danau purba yang bersemayam di tengah Pulau Satonda. Tak ada referensi pasti perihal asal muasal Danau Satonda yang sering disebut sebagai miniatur laut ini. Namun beberapa referensi yang saya baca menyebutkan bahwa 30 tahun yang lalu ada dua orang ilmuan asal Eropa yang mencoba merekonstruksi sejarah pembentukan Danau Satonda beserta ekosistemnya.

Adalah Stephan Kempe dan Josef Kazmierczak, yang dari hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa Danau Satonda sesungguhnya telah ada sejak sepuluh ribu tahun yang lalu; ia muncul bersamaan dengan terbentuknya kawah Pulau Satonda. Menurut keduanya, dahulu kala Danau Satonda sejatinya berair tawar; tidak asin seperti sekarang. Namun proses panjang merembesnya air laut melalui celah dinding kawah menyebabkan air danau bersalin rasa menjadi asin; bahkan lebih asin ketimbang air laut.

Tingginya kadar salinitas yang dikandung Danau Satonda menjadikannya memiliki karakteristik yang hampir serupa dengan Laut Mati yang kandungan garamnya mencapai 33 persen. Seperti halnya di Laut Mati, di Danau Satonda pada kedalaman tertentu, tak ada makhluk yang sanggup bertahan hidup karena tingginya kadar garam dalam air.

Danau Satonda

Danau Satonda dari atas bukit

Danau Satonda dari atas bukit

“Kak, jangan ke sana. Kata Pak Ridwan di sana masih banyak ular.” Semula saya berniat menyusuri tepian Danau Satonda hingga sejauh yang mungkin dicapai. Namun himbauan Iwa yang lebih terdengar seperti ancaman berhasil membuat saya takut dan berbalik arah.

“Def, mau ngapain ke sana? Ayo sini berenang aja.”

Saya menoleh ke sumber suara dan mendapati beberapa teman terlihat antusias membuktikan keajaiban Danau Satonda yang berhasil membuat mereka mengapung. Sementara sebagian lainnya tengah asyik merendam kaki. Mereka percaya bahwa mineral yang terkandung dalam air danau bisa meremajakan kulit menjadi halus. Sesekali lantas terdengar celoteh tawa mereka yang terkejut oleh gelitik ikan kecil yang berseliweran di tepi danau. Kabarnya, air hujan yang terakumulasi selama bertahun-tahun telah membuat permukaan danau bersalin rasa menjadi lebih tawar sehingga memungkinkan bagi ikan-ikan kecil untuk hidup di tepiannya. Bila diperhatikan, ikan-ikan kecil di danau ini mirip sekali dengan ikan cupang hitam; dimana ikan terbesar yang saya temukan, panjangnya tak lebih dari jari telunjuk.

Satonda perlu icon, seperti Laut Mati dengan korannya

Satonda perlu icon, seperti Laut Mati dengan korannya

“Kak, kita gantung batu aja yuk.” Tanpa menunggu anggukan saya, Iwa serta merta bergerak mencari batu.

“Kamu pasti mau minta jodoh yah? πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ “

“Ih, nggak, Kak. Aku cuma berharap bisa balik ke sini lagi”

Satu lagi keunikan yang menjadi daya tarik Pulau Satonda adalah keberadaan batu karang yang tergantung masif di ranting pohon Kalibuda. Pohon yang tumbuh di pesisir Danau Satonda ini menurut mitosnya dipercaya sebagai pohon harapan yang bisa mengabulkan keinginan seseorang. Kelak bila keinginan itu terwujud, mereka harus kembali ke Pulau Satonda untuk melepaskan ikatan batunya sambil memotong hewan persembahan sebagai wujud rasa syukur. Mitos tersebut lantas menjelma menjadi tradisi yang dipelihara oleh wisatawan hingga kini.

Pohon Kalibuda

Advertisements