Tags

, , , , , , , , , , , , ,

Mengamini ungkapan peribahasa yang berbunyi “Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui”; tak lengkap rasanya bila berlibur ke Hong Kong tanpa menyempatkan singgah ke Macau. Mengingat kedua wilayah berstatus Special Administrative Region ini dipisahkan oleh laut yang bisa diseberangi dengan kapal cepat hanya dalam waktu satu jam. Meski letak keduanya berdekatan dan berada di bawah otoritas yang sama, namun keduanya memiliki ritme dan daya tarik yang sangat berbeda. Jadi bila memiliki waktu, energi, dan dana yang memadai, kenapa tidak melampaui keduanya sekaligus dalam sekali kunjungan? Seperti yang kami lakukan kala berlibur ke Hong Kong awal Maret lalu.

Berhubung alokasi waktu berlibur kami di Macau hanya dua hari, maka segala perencanaan dan persiapan sedapat mungkin harus sudah diselesaikan di Jakarta. Sehingga saat berlibur nanti, saya tak lagi dipusingkan dengan pilihan mau ke mana dan menginap di mana. Alokasi waktu yang hanya dua hari pun menjadi lebih padat berisi.

1. Menukar Uang

Kala menukar uang di VIP Money Changer Jakarta, Macau Pataca (MOP) yang menjadi mata uang Macau sedang tidak tersedia. Berhubung nilai tukar Hong Kong Dollar (HKD) dan MOP dianggap setara (1:1), serta berlakunya penggunaan HKD di Macau, maka saya hanya menukarkan IDR ke HKD yang saat itu kursnya Rp 1.724. Bila terdapat selisih pembayaran saat bertransaksi di Macau, maka besar kemungkinan penjual akan memberi kembali dalam pecahan MOP, walau tak jarang juga mereka mengembalikan dalam bentuk HKD.

Meski di Macau nilai tukar HKD dan MOP dianggap setara; namun di Hong Kong, nilai MOP akan mengalami penurunan. Sehingga pandai-pandailah menggunakan MOP sebagai alat tukar sebelum keluar dari Macau. Bila kedua mata uang ini sama-sama sedang tidak tersedia, sebaiknya tukarkan saja IDR ke USD; karena nilai tukar USD lebih stabil dan “menguntungkan” ketimbang menukarkan IDR di negara tujuan.

Uang kertas Hong Kong diterbitkan oleh 3 bank yang berbeda: HSBC, Standard Chartered Bank dan Bank of China. Jadi jangan heran kalau mendapati uang kertas dengan nominal yang sama bisa punya 3 rupa yang berbeda.

2. Menumpang Kapal Cepat Dari dan Menuju Macau

Penyeberangan menuju Macau dari Hong Kong dapat ditempuh melalui tiga pelabuhan yang berbeda, yakni: Hong Kong Macau Ferry Terminal di Hong Kong Island, Hong Kong China Ferry Terminal di Kowloon, dan Hong Kong Internasional Airport Skypier di Lantau Island. Berhubung kami menginap di Mirador Mansion yang terletak di area Nathan Road, maka penyeberangan terdekat ditempuh melalui Hong Kong China Ferry Terminal yang letaknya tak jauh dari Harbour City Shopping Centre.

Menurut informasi staf hotel, pelabuhan bisa dicapai dengan berjalan kaki selama 15 menit saja. Namun karena pelabuhannya terintegrasi dengan shopping mall, mencarinya menjadi gampang-gampang susah dan memakan waktu lebih lama bagi kami yang baru kali pertama. Untungnya waktu itu kami berjumpa dengan pemuda baik hati yang bersedia mengantar hingga ke gerai tiket. Ada beberapa pilihan perusahaan ferry yang tersedia dan beroperasi di jam yang berbeda dengan tarif yang variatif. Namun karena hari telah beranjak gelap, saya memilih Turbojet Ferry yang waktu keberangkatannya lebih awal dengan tarif yang sedikit lebih mahal.

Photo credit: https://goo.gl/GXlvD2

Sebetulnya bila berniat mengunjungi Macau dan Hong Kong sekaligus dalam satu waktu, akan lebih efisien bila membeli tiket pesawat one way menuju Hong Kong dan kembali melalui Macau; atau sebaliknya. Berhubung saya terlanjur membeli tiket pesawat PP Jakarta – Hong Kong, maka sepulang dari Macau kami harus kembali menyeberang ke Hong Kong; namun kali ini melalui Hong Kong Internasional Airport Skypier yang terintegrasi dengan HKIA. Prosedur pembelian tiket kapal cepat menuju pelabuhan ini cukup ketat dibanding dua pelabuhan lainnya, dimana tiket hanya bisa dibeli di hari yang sama dengan waktu keberangkatan dengan menunjukkan tiket pesawat.

3. Memilih Transportasi

♠ Bus

Sistem transportasi Macau belumlah secanggih sistem transportasi Hong Kong. Pilihan modanya pun tak sebanyak di Hong Kong. Transportasi publik di sini hanya dilayani oleh bus yang pembayarannya masih menggunakan uang cash tanpa layanan uang kembali. Jadi harus selalu siap dengan uang pas kalau tidak mau rugi saat bertransaksi.

Nuansa menumpang bus di Macau tidaklah jauh berbeda dengan di Jakarta. Bus tetap akan mengangkut penumpang walau kursi telah terisi penuh dan tetap melaju kencang walau penumpang berdiri berdesakan. Yang berbeda, bus-bus ini hanya akan berhenti di shelter yang telah ditentukan dan penumpang harus membunyikan bel bila hendak turun di pemberhentian selanjutnya.

Photo credit: https://goo.gl/RMCz2S

Buat saya, mobilitas dari dan menuju destinasi dengan menggunakan bus menjadi tantangan tersendiri. Gampang-gampang susah walau rute perjalanan terpampang di setiap shelter dan bus dilengkapi dengan papan running teks yang menandai pemberhentian selanjutnya. Setiap tempat di sini ditulis dalam bahasa Portugis dan bahasa Cantonese dengan huruf China. Jadi harus sering-sering bertanya untuk bisa tahu rute dan no bus dengan tepat.

Tantangan berikutnya, supir bus yang kami jumpai tidak satu pun yang mengerti bahasa Inggris. Tiap kali saya bertanya, mereka selalu menjawab dalam bahasa Cantonese dengan intonasi tinggi seperti sedang marah-marah; sehingga saya lebih banyak mengandalkan bantuan staf hotel dan penumpang bus. Tapi kami cukup beruntung karena beberapa kali berjumpa dengan penumpang yang ternyata tenaga kerja Indonesia.

♠ Taksi

Untuk alasan kepraktisan, kami juga beberapa kali menumpang taksi. Walau tarifnya tidak terlalu mahal, tapi saya cukup tergelitik ketika tahu bahwa taksi di sini membebankan biaya tambahan untuk setiap bagasi yang dibawa penumpang. Kendala bahasa juga saya jumpai pada pengemudi taksi, sehingga komunikasi yang tercipta hanya sebatas menunjukkan destinasi melalui gambar dan peta.

♠ Free Shuttle Bus

Sejumlah hotel mewah di Macau seperti Grand Lisboa dan Venetian Resort memiliki free shuttle bus yang melayani antar jemput dari dan menuju Ferry Terminal. Wisatawan bisa memanfaatkan fasilitas shuttle bus ini bila destinasi yang dituju kebetulan berdekatan dengan hotel yang bersangkutan; seperti yang kami lakukan di malam pertama saat hendak menuju penginapan yang lokasinya tak jauh dari Hotel Grand Lisboa. Saya juga memanfaatkan fasilitas shuttle bus kala hendak menyambangi Venetian Resort yang di dalamnya terdapat wahana gondola bernuansa kanal Venesia.

Shuttle bus milik Venetian Resort

4. Memilih Destinasi

Macau identik dengan deretan casino mewah yang bersemayam dalam hotel-hotel besar hingga membuatnya mendapat julukan Las Vegas of Asia. Macau juga mewarisi peninggalan akulturasi budaya China dan Portugis sebagai World Heritage yang sekaligus menjadi daya tarik utama wisatanya. Ada banyak pilihan destinasi bernuansa sejarah dan budaya yang tersebar di wilayah Macau Peninsula. Namun berhubung waktu kunjung kami hanya dua hari, maka saya memilih destinasi yang paling populer dan paling ingin kami kunjungi saja, seperti Senado Square dan Ruins of St. Paul’s. Saya juga menyisipkan Macau Fisherman’s Wharf, Macau Tower, dan Venetian Resort untuk menyimak sisi modernitas pariwisata Macau.

Colosseum versi Macau

Venesia KW 1 😛

5. Memesan Penginapan

Untuk menghindari kerepotan mencari penginapan saat berlibur, saya memesannya sejak jauh-jauh hari melalui online travel agent. Dengan mempertimbangkan kedekatan destinasi dan letaknya yang strategis, saya memilih menginap di Hou Kong Hotel yang berjarak hanya 400 meter dari Senado Square sehingga kami bisa mencapainya dengan berjalan kaki.

Bila dibandingkan dengan Hong Kong, Macau memiliki alternatif penginapan yang lebih terbatas dengan kisaran tarif yang jauh lebih mahal. Namun tarif yang lebih tinggi ini cukup sebanding dengan fasilitas yang ditawarkan. Setidaknya, luas kamar yang kami tempati jauh lebih lapang ketimbang dua penginapan sebelumnya di Hong Kong.

6. Mencari Tempat Makan Halal

Selain dekat dengan kawasan Senado Square, keberadaan Hou Kong Hotel juga dilingkupi oleh ruko-ruko yang menjual beragam pilihan kuliner. Tapi seperti halnya di Hong Kong, mencari rumah makan halal di sini bukanlah perkara mudah. Setelah menyusuri ruas-ruas jalan yang mengapitnya, kami hanya menemukan satu rumah makan halal yang dimiliki oleh pasangan Muslim China bernama Lou Lang Islam Restaurant. Pilihan menu yang ditawarkan cukup beragam dengan porsi jumbo yang sebetulnya cukup untuk dua orang. Yang membuat saya tergelitik, selain kisaran harga yang relatif tinggi (hampir dua kali lipat dari standar harga di Hong Kong), mereka juga mengenakan charge untuk pemakaian tissu! 😆

Untuk menu sarapan dan camilan, saya memfavoritkan portuguese egg tart yang selalu saya beli di Pastelaria Koi Kei. Toko kue dan pastry ini memang paling mudah ditemukan karena paling banyak cabangnya seantero Macau. Namun telitilah sebelum membeli karena ada banyak varian menunya yang mengandung olahan babi.

Sueeer, ini enak banget!!

7. Waktu Terbaik Untuk Berlibur ke Macau

Macau memiliki suhu yang relatif lebih hangat dibanding Hong Kong. Saat berkunjung ke sana di awal bulan Maret, Macau sedang dalam masa peralihan menuju musim hujan yang dimulai pada bulan April. Meski tak sampai terjebak hujan, namun langit kelabu yang menaungi Macau sepanjang hari membuat hasil foto saya menjadi kurang menarik.

Pertengahan Oktober hingga Desember merupakan waktu terbaik untuk mengunjungi Macau karena pada periode ini cuaca cenderung cerah dan sejuk. Sebaiknya hindari berkunjung ke Macau pada bulan Mei yang menjadi puncak musim penghujan dan bulan Juli hingga September yang menjadi periode kehadiran taifun. Bila ingin melihat Macau dalam nuansa yang lebih meriah, datanglah pada bulan Januari hingga Februari, karena Macau tengah merayakan pergantian tahun dengan parade di jalan dan ritual di kuil yang bernuansa warna-warni.

8. Memilih Operator Seluler

Selama ini, setiap kali ke luar negeri saya lebih suka memanfaatkan jasa operator lokal sebagai pilihan berkomunikasi karena biasanya tarif yang ditawarkan lebih terjangkau ketimbang mengaktifkan fasilitas roaming. Tapi pilihan ini tak selalu bisa saya gunakan karena adakalanya saya kesulitan menemukan penjual sim card lokal dan terkendala saat mengaktivasi kartu karena perbedaan bahasa. Kelemahan lainnya, saya jadi kehilangan kontak dengan kolega dan teman di tanah air karena nomor yang berbeda. Jadi, layanan operator lokal yang saya gunakan murni hanya untuk keperluan internet dan menelpon keluarga.

Untungnya sebelum berangkat ke Hong Kong, saya sempat berkenalan dengan XL Pass, layanan roaming prabayar terbaru dari XL yang memungkinkan saya berkomunikasi di luar negeri tanpa harus ganti kartu. Cukup dengan mengaktivasi layanan roamingnya di *123*747# saya langsung bisa berkomunikasi dengan lancar di luar negeri. Jauh lebih praktis daripada membeli sim card lokal. Tarif yang ditawarkan pun cukup terjangkau; mulai dari 150 ribu rupiah untuk aktivasi XL Pass selama 3 hari, hingga 350 ribu rupiah untuk aktivasi selama sebulan!

Lancar update sosmed pakai XL Pass 😛

XL Pass ini bisa saya gunakan di Hong Kong dan Macau sekaligus hanya dengan sekali aktivasi. Layanan XL Pass juga tersedia di 37 negara lain yang daftarnya bisa kamu cek di sini. Keuntungan lainnya, XL Pass memungkinkan saya untuk tetap bisa mengakses YouTube tanpa kuota. Asyiknya lagi, saya bisa memakai kuota yang saya miliki dari tanah air untuk keperluan akses internet di luar negeri dan sisa kuota sepulang dari luar negeri tetap bisa saya gunakan kembali di tanah air. Cuma XL Pass deh yang menawarkan fleksibilitas penggunaan akses internet seperti ini.

Lalu bagaimana dengan kualitas sinyalnya? Sudah tentu lancar jaya karena XL telah bermitra dengan operator lokal. Oiya, selain XL Pass, XL Easy Roaming juga memiliki dua produk roaming lainnya yang bisa kamu gunakan sesuai kebutuhan, yakni XL Umroh dan Combo Roaming. Kalau sudah begini, urusan komunikasi di luar negeri bukan lagi menjadi kendala yang menginterupsi kegembiraan berlibur.

Berikutnya ngajak XL Pass jalan-jalan ke mana lagi ya? Sebulan traveling ke Eropa mungkin? 😀

Baca juga:

8 Hal Yang Perlu Kamu Ketahui Sebelum (Family) Backpacking Keliling Hong Kong

Advertisements