Tags

, , , , , , , , ,

Kedai Filosofi Kopi

Apa yang lazimnya orang cari dari sebuah kedai kopi? Kelana rasa dalam pusaran secangkir kopi? Bubungan uap hangat yang tebarkan aroma wangi? Atmosfer yang nyaman untuk sekedar bertukar cerita dan bercengkerama? Atau nuansa kedai kopi yang hadirkan sensasi “melihat dan dilihat”?

Apa yang saya cari dari sebuah kedai kopi siang ini, lebih dari sekedar apa yang lazimnya orang cari dari sebuah kedai kopi.

Berbekal secarik ulasan minim informasi lokasi, siang itu, di bawah teriknya mentari pukul dua belas, kami melenggang tak tentu ke seputar area Blok M.

“Coba browsing yang bener alamatnya,” tukas mas Bayu mulai tak sabar setelah kami berputar-putar di sekitar area Blok M Square.

“Nggak ada, Mamas. Ini cuma ditulis: depan tulisan Blok M Square persis.”

Berjalan di bawah terik mentari dan menemukan bahwa tulisan “Blok M Square” ternyata tidak hanya ada satu membuat kesabaran saya ikut mengikis. Deretan ruko sepanjang jalan yang hampir semuanya menjaja sandang; semakin membuat sangsi akan keberadaan kedai kopi.

Hingga akhirnya mata saya tertumbuk secara tak sengaja pada standing banner berbentuk VW Combi bertuliskan “Filosofi Kopi”.

Kedai Filosofi Kopi

Kalau saja tidak ada standing banner yang berdiri di sana, niscaya kedai kopi ini sudah luput dari pandangan mata. Tak ada atribut mencolok apapun yang menandai eksistensinya sebagai kedai kopi. Pun sekedar papan nama, atau deretan huruf bercat pada jendela kacanya seperti dalam fiksi.

Mesin kasir merupakan atribut pertama yang tertangkap mata kala pintu kaca kedai ini terbuka. Di baliknya berdiri sosok lelaki bertopi yang saya identifikasi sebagai Jody; menyapa hangat dalam posisi siap menghitung pesanan kami. Sejenak saya dihinggapi kecewa karena tak menemukan buku tipis berisi daftar menu kopi lengkap dengan filosofinya. Yang ada hanyalah sebuah standing menu sederhana dengan tujuh macam racikan kopi dalam daftarnya; tanpa Ben’s Perfecto maupun Kopi Tiwus.

Sambil menunggu secangkir hot Cappucino mengepul di atas meja, mata saya berkelana mengamati setiap sudut kedai kopi; menelisik satu per satu furnitur dan ornamennya, mencari nuansa yang pernah tercipta di dalam kepala.

Dinding bata merah dan material kayu mendominasi interior kedai

Dinding bata merah dan material kayu mendominasi interior kedai

Dinding rolling door dan kursi besi berkarat hadirkan nuansa lawas

Dinding rolling door dan kursi besi berkarat hadirkan nuansa lawas

Menempati lantai dasar sebuah bangunan usang, kedai kopi ini sejatinya merupakan lokasi shooting film layar lebar yang keberadaannya tetap dipertahankan meski prosesย shooting telah rampung dan filmnya telah tayang. Barangkali karena alasan itulah kedai ini tidak dibuat selayaknya kedai kopi pada umumnya.

Ornamen yang mewarnai tiap sudutnya terlihat minimalis dan sederhana, dengan peletakan yang ditata sedemikian rupa, sehingga tidak terlalu menyita tempat karena luas kedai yang memang tak seberapa; tanpa mengabaikan unsur estetika.

Tepat di tengah ruangan, sepasang meja panjang berdiri secara paralel sebagai pusat orbit. Sementara di sisi tepinya, beragam model kursi dan meja kayu berdiri memutar mengelilingi poros ruangan. Di pusat orbit itulah, terlihat geliat Jody yang sibuk meracik kopi, bersama sosok lelaki gondrong yang saya identifikasi sebagai Ben.

Ben dan Jody berkolaborasi meracik kopi

Ben dan Jody berkolaborasi meracik kopi

Di alam nyata, keduanya adalah barista yang sama lihainya kala meramu kopi. Tak ada spesialisasi pembagian tugas antara Ben dan Jody seperti dalam fiksi. Tak ada Ben yang sibuk di pusat orbit sementara Jody melayani pesanan dari belakang mesin kasir. Keduanya sama-sama tenggelam diantara onggokan mesin espresso, tabung, cangkir, dan segala macam perkakas. Berdua mereka kompak berkolaborasi dalam meracik kopi.

“Hot Cappucino…” Jody berujar seraya menyorongkan secangkir Cappucino dengan buih berbentuk hati. Saya memilih duduk di kursi besi tua yang telah mengelupas sebagian catnya, seraya berspekulasi bahwa kursi inilah yang paling “sejiwa” dengan secangkir Cappucino pesanan saya. Seulas tanya sempat membersit dalam kepala: adakah Ben di alam nyata mencoba satu per satu kursi yang ada untuk menguji tingkat keselarasannya dengan pengalaman minum kopi seperti yang dilakukannya dalam fiksi?

Cappucino Filosofi Kopi

“Kalau mau gula, silakan tambah sendiri yah, ada di pojok sana,” ujar Jody sambil menunjuk ujung bar saji. Saya mengambil sekantong kecil gula putih, namun tak ingin tergesa-gesa mencampurnya. Sekelebat dialog Ben dengan pelanggannya menggema dalam kepala: “Seorang penikmat Cappucino sejati pasti akan memandangi penampilan yang terlihat di cangkirnya sebelum mencicip.”

Setelah puas memotret, memandang, serta menghirup aromanya yang lamat-lamat; saya pun mulai menyeruput perlahan. Rasa pahit yang tidak terlalu kentara dibalut lembutnya buih Cappucino bergantian terkecap lidah. Kala sepertiga isi cangkir telah tandas tertenggak, saya mulai mengawinkan gulanya dengan adukan perlahan. Meski tak lagi berbentuk hati, namun buihnya masih bersetia mengapung di permukaan cangkir.

Di antara dua pertiga isi cangkir yang tersisa, ada khayalan dimana sesosok pria perlente tiba-tiba muncul dari balik pintu kaca dan mentraktir kami semua, para pengunjung kedai Filosofi Kopi. Lalu dengan suara lantang, ia menantang Ben untuk membuat kopi dengan rasa paling sempurna sebagai ramuan kopi yang paling mewakili gambaran hidupnya. Sebuah tantangan yang kelak melahirkan Ben’s Perfecto sebagai mahakarya racikan kopi terenak di dunia, dengan filosofi: “Sukses adalah wujud kesempurnaan hidup”.

Namun hingga Cappucino saya tandas tak bersisa, pria perlente itu tak juga muncul dari balik kaca.

Bersama Jody ala-ala :-P

Bersama Jody ala-ala ๐Ÿ˜›

Meski imajinasi saya tentang kedai Filosofi Kopi tak mewujud dengan sempurna, namun saya cukup puas bisa menemukan tempat yang memungkinkan saya untuk mengkonfirmasi apa tercipta di alam fantasi dengan bentuk visualisasi yang begitu nyata; tak hanya sekedar melihat gambar bergerak yang tersaji di layar lebar atau layar kaca.

Tak ada kartu Filosofi Kopi yang diberikan Ben kala saya berpamitan pulang meninggalkan kedai kopi. Dari balik meja saji mereka hanya melambai, melempar senyum seraya mengucapkan terima kasih. Namun sehari setelah pulang dari kedai Filosofi Kopi, entah kenapa saya sudah rindu ingin menyeruput secangkir Cappucinonya lagi.

Daftar menu kedai Filosofi Kopi

Kedai Filosofi Kopi Melawai

Kompleks Blok M Square

Buka pukul 11 am – 11 pm

Advertisements