Tags

, , , , , , , , , , ,

Betapa waktu berlari dengan sangat tergesa, dan kita (mau tak mau) ikut terbawa oleh ritmenya (meski kadang tak terasa).

Saya masih ingat ketika lima tahun lalu memijakkan kaki untuk yang pertama kali di Kota Palu. Kala itu, Bandara Mutiara lebih mirip seperti kantor kelurahan ketimbang sebuah bandar udara; namun juga sekaligus lebih “akrab”. Masih melekat dalam ingatan saat pesawat yang kami tumpangi hendak lepas landas, para kru bandara lantas berdiri berjajar di halaman landasan pacu seraya melambaikan tangannya. Saat itu jumlah maskapai beserta frekuensi penerbangannya belumlah sebanyak sekarang. Petugas yang sama bisa merangkap sebagai penjaga counter check in dan petugas pemeriksa identitas sekaligus saat boarding.

Betapa lima tahun adalah waktu yang cukup panjang bagi sebuah fasilitas publik untuk berbenah dan mematut diri. Tak hanya bersalin rupa, sejak Maret 2014, Bandara Mutiara yang kini sangat mirip dengan Bandara Internasional Lombok juga resmi bersalin nama menjadi Bandara Mutiara Sis Al Jufri.

Belumlah tamat kekaguman saya pada transformasi fisik Bandara Mutiara, saat memasuki terminal kedatangan, saya pun dibuat terpana dengan komposisi wisatawan mancanegara yang memadati areal bandara. Sejenak saya merasa seperti sedang berada di Bali saja. Seulas tanya lantas menari di udara: apakah bila Gerhana Matahari Total (GMT) tidak melintasi Sulawesi Tengah, pengunjung Bandara Mutiara akan tetap seramai dan seberagam ini?

Tagline GMT Palu: Pesona Gerhana Matahari Total Menyatukan Peradaban Dunia

Tagline GMT Palu: Pesona Gerhana Matahari Total Menyatukan Peradaban Dunia

Saya jadi teringat ketika Lapan bersama BMKG dan Kementerian Pariwisata me-launching hitung mundur 55 hari jelang GMT di kantor pusat Lapan, di bilangan Rawamangun. Saat itu, Ibu Esthy Reko Astuti selaku Deputi P3N (Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara) yang mewakili Kementerian Pariwisata dengan antusias memaparkan berbagai event pariwisata yang akan digelar di berbagai kota dalam rangka memeriahkan fenomena GMT. Dalam kesempatan yang sama beliau juga menyampaikan bahwa situasi keamanan di dalam negeri sangat kondusif sebagai daerah tujuan wisata.

Saya masih ingat ketika pada saat yang sama handphone saya berdering dan di seberang sana suara adik saya dengan paniknya mengabarkan peristiwa ledakan bom yang baru saja terjadi di Sarinah, seraya menghimbau agar saya tidak keluar kantor dulu. Nuansa mencekam seketika hadir dalam kepala. Siang itu, saya kembali ke kantor dengan kekhawatiran yang membuncah lantaran memperoleh isu bahwa jalur yang saya lewati juga menjadi jalur pelarian para teroris.

Setelah kejadian itu, banyak pihak yang meramalkan bahwa peristiwa bom Sarinah akan sangat berkorelasi pada penurunan jumlah wisman; mengingat faktor keamanan merupakan salah satu pertimbangan utama mereka saat akan berkunjung ke sebuah negara. Kekhawatiran serupa juga ditunjukkan Kementerian Pariwisata yang sempat menunda promosi Wonderful Indonesia di media internasional selama beberapa jam. Namun melihat Bandara Mutiara yang dipenuhi wisman siang itu, saya pun berani berkesimpulan bahwa peristiwa bom Sarinah tidaklah berpengaruh signifikan pada animo kunjungan wisman.

Rabu, 9 Maret 2016, pukul 06.00 WITA

Sepagi itu kami telah berseliweran di halaman Hotel Santika, bersiap menuju lokasi pengamatan. Sempat muncul kegalauan apakah akan mengamati GMT dari halaman TVRI di pesisir Teluk Palu ataukah mengamati dari Desa Pulu di Kabupaten Sigi yang juga menjadi lokasi pengamatan Pak Wapres, Jusuf Kalla. Sejatinya, letak kedua lokasi ini hanyalah terpaut jarak sejauh 25 km. Namun kabarnya, durasi GMT di Desa Pulu akan berlangsung sekian detik lebih lama ketimbang dari halaman TVRI.

Lapangan Tolu di Desa Pulu yang menjadi lokasi pengamatan Pak JK

Lapangan Tolu di Desa Pulu yang menjadi lokasi pengamatan Pak JK

Sehari sebelumnya, kami sempat pula melakukan survei lokasi ke Desa Pulu yang ternyata telah disterilisasi. Ada kekhawatiran bilamana nanti kami dijegal saat memasuki Desa Pulu, dan tidak punya cukup waktu untuk kembali ke halaman TVRI. “Daripada nggak dapat dua-duanya, mending kita langsung ke halaman TVRI aja”, tukas salah seorang teman saya.

Halaman TVRI yang sebetulnya hanya sepelemparan palu dari Hotel Santika, pagi itu menjelma labirin yang sulit ditemukan karena banyak akses jalan yang sudah ditutup bagi kendaraan. Sepanjang jalan tikus yang kami lewati, saya melihat limpahan antusiasme masyarakat yang muncul dari berbagai penjuru. Mereka semua bergerak ke arah yang sama: bermuara di Anjungan Nusantara, membanjiri pesisir Teluk Palu, memenuhi halaman TVRI, hingga menutup akses kendaraan di Jembatan Kuning.

Anjungan Nusantara Sehari Selepas GMT

Anjungan Nusantara Sehari Selepas GMT

Sejatinya, halaman TVRI merupakan salah satu titik strategis pengamatan GMT yang oleh pemkot Palu telah di-setting sedemikian rupa dengan berbagai aktivitas dan event pariwisata guna menarik minat kunjungan wisatawan. Sejak sehari sebelumnya, di area ini telah berlangsung beragam atraksi seni budaya etnik nusantara juga pameran produk potensi daerah.

Menurut rundown yang saya terima, saat puncak GMT nanti akan ada penampilan khusus dari grup band Slank yang secara akustik menyanyikan lagu khas milik Suku Kaili berjudul “Tananggu Kaili” dengan diiringi suara tumbukan lesung sebagai bagian dari tradisi Suku Kaili kala menyambut fenomena alam. Sebagai informasi, Suku Kaili merupakan suku mayoritas yang mendiami sebagian besar wilayah Sulawesi Tengah; khususnya wilayah Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, dan Kota Palu.

SlankTentu saja semua atraksi yang ditawarkan pemkot Palu tadi sangat menarik. Namun naluri fotografi saya (yang masih sangat amatir) mengatakan bahwa halaman TVRI bukanlah lokasi ideal untuk mengabadikan momen GMT. Maka saya pun berpamitan sejenak, memisahkan diri dari rombongan. Saat itu, waktu telah beranjak ke pukul 07.46 WITA dan matahari di angkasa sudah mulai tercungkil sebagian kecil lingkarnya. Gerhana Matahari Sebagian di Kota Palu telah dimulai sejak 19 menit yang lalu. Ini berarti masih ada rentang waktu sekitar 51 menit sebelum gerhana matahari beralih ke fase total.

Pukul 07.46 WITA Matahari telah tercungkil sebagian kecil lingkarnya

Pukul 07.46 WITA Matahari telah tercungkil sebagian kecil lingkarnya

Di luar halaman TVRI, populasi para pemburu gerhana terlihat semakin membludak saja. Ribuan wisatawan yang berbaur dengan masyarakat lokal tumpah ruah membanjiri pesisir Teluk Palu. Beberapa diantaranya ada yang menggelar tikar dan rantang layaknya keluarga besar yang sedang berpiknik. Ada juga sekumpulan anak muda yang asyik bermain kartu sambil menunggu detik-detik puncak gerhana. Mereka semua larut dalam nuansa sukacita menyambut momen GMT.

Saya sendiri memilih jembatan megah yang membentang di atas Sungai Palu sebagai titik lokasi pengamatan. Jembatan Ponulele atau yang lebih dikenal dengan sebutan Jembatan Kuning merupakan landmark Kota Palu yang menurut saya merupakan lokasi paling ideal untuk berburu foto gerhana sekaligus paling ideal sebagai latar untuk menunjukkan lokasi pengamatan. Dengan mengambil sudut pandang dari ujung barat jembatan, matahari yang bersalin rupa akan terbingkai dengan indahnya oleh kisi-kisi jembatan.

GMT PaluPukul 08.31 WITA, tujuh menit jelang fase total, matahari kian berhimpitan dengan bulan. Dari viewer ND 5 yang saya kenakan, matahari tampak bagai bulan sabit berlapis emas. Sementara himpunan awan sepertinya telah bersepakat dengan langit untuk tidak menudungi matahari pagi ini. Melihat matahari yang semakin kehilangan intensitasnya, tanpa menggunakan filter lensa, saya pun mulai membidik secara masif lewat monitor kamera, hingga nuansa atmosfer yang semakin menggelap hadir mengingatkan saya agar tak terlena.

Seperti banyak peristiwa penting dalam hidup yang seringkali menghadapkan kita pada sederet pilihan sulit; begitupula yang terjadi pada fenomena langka GMT yang mungkin hanya dapat dinikmati sekali seumur hidup. Menurut hasil perhitungan para peneliti, fase GMT di Palu hanya akan berlangsung selama 2 menit 4 detik. Dalam durasi 124 detik itulah matahari akan hadir dalam penampilan terbaiknya, layaknya cincin bertahta mutiara. Demi menyaksikan proses persalinan rupa matahari secara utuh, saya memilih untuk terus menatap matahari; tak lagi berfokus pada lensa kamera.

Memasuki fase total, gema takbir yang sejak tadi lirih berkumandang kini semakin lantang terdengar. Sementara orang-orang di sekeliling saya bersorak-sorai mendapati langit pagi yang tiba-tiba serupa malam. Ribuan kamera serta-merta menyorot ke angkasa, berlomba-lomba mengabadikan gerhana saat korona hadir melingkar di angkasa dengan indahnya.

Pukul 08.42 WITA, dua menit selepas fase GMT

Pukul 08.42 WITA, dua menit selepas fase GMT

GMT PaluSaat bulan mulai meninggalkan matahari, efek cincin berlian yang paling dinantikan akhirnya muncul menghias angkasa. Lingkaran korona yang tampak membingkai manik-manik Baily sejenak kompak berkolaborasi membentuk cincin berlian paling indah di angkasa. Pada momen ini saya merasakan haru membasahi relung kalbu; dalam hati tak henti mengucap syukur karena Tuhan telah memilih saya sebagai salah satu saksi kebesaran-Nya. Di saat yang sama, ada perasaan sendu yang turut menyeruak hadir lantaran tak bisa menyaksikan keindahan langka ini bersama orang-orang yang saya sayangi.

Durasi 124 detik fase gerhana matahari total berlalu sekejap mata tanpa terasa, seperti waktu yang terus berlari dengan tergesa. Rasanya baru kemarin Kementerian Pariwisata menggelar jumpa pers GMT yang hadirkan 4 gubernur sekaligus dalam satu waktu; mendatangkan ratusan wartawan; menghimbau pada masyarakat luas agar tak lagi takut menyimak gerhana. Bagaimanapun, rasa sesal itu tetap ada lantaran tak sempat mendokumentasikan momen langka ini dengan sebaik-baiknya. Seiring dengan kembali membulatnya sang surya, secarik doa sederhana saya layangkan dengan sepenuh hati ke angkasa: semoga masih ada kesempatan bagi saya untuk menyaksikan momen Gerhana Matahari Total berikutnya. Aamiin..

Turis GMT :-P

Turis GMT πŸ˜›

Advertisements