Tags

, , , , , , , , , , , , ,

Di saat banyak orang mulai menggeser traveling menjadi kebutuhan primer, mama saya adalah pengecualian yang masih setia beranggapan bahwa traveling hanya akan menghabiskan waktu, tenaga, juga uang. Seingat saya, sepanjang hidupnya, mama hanya pernah dua kali ke luar negeri; yaitu untuk tujuan umroh dan naik haji.

Dalam hal memilih destinasi liburan, mama lebih senang menghabiskan waktu cutinya di kampung halaman, di Bukit Tinggi. Tiap kali saya tawarkan alternatif lain, mama selalu menolak dengan ribuan alasan. Jadi ketika pada suatu hari beliau akhirnya setuju untuk liburan bersama ke Hong Kong, saya pun bertekad mempersiapkan segala sesuatunya dengan seksama supaya mama terkesan dan ketagihan jalan-jalan.

Setelah berkompromi perihal waktu cuti yang bisa diambil oleh mama dan adik saya, akhirnya kami sepakat untuk berlibur selama 7 hari. Awalnya saya berniat memadatkan itinerary, sehingga dalam waktu 7 hari itu kami bisa singgah juga di Macau dan Shenzhen. Namun setelah mencari informasinya kesana-kemari, dan tidak juga menemukan kejelasan perihal masih berlaku atau tidaknya VOA di Shenzhen bagi WNI; maka saya putuskan untuk membagi waktu libur menjadi 3 hari di Hong Kong, 2 hari di Macau, dan 2 hari di perjalanan.

1. Menukar Uang

Berhubung nilai tukar mata uang Hong Kong (HKD) dan mata uang Macau (MOP) dianggap setara (1:1), serta berlakunya penggunaan HKD di Macau, maka saya hanya menukarkan IDR ke HKD yang saat itu kursnya Rp 1.724. Bila terdapat selisih pembayaran saat bertransaksi di Macau, maka besar kemungkinan penjual akan memberi kembali dalam pecahan MOP, walau tak jarang juga mereka mengembalikan dalam bentuk HKD.

Meski di Macau nilai tukar HKD dan MOP dianggap setara; namun di Hong Kong, nilai MOP akan mengalami penurunan. Sehingga pandai-pandailah menggunakan MOP sebagai alat tukar sebelum keluar dari Macau hingga hanya menyisakan sedikit untuk dikoleksi 😉 Selain HKD, saya juga menukar sejumlah kecil SGD untuk dipergunakan selama transit di Changi.

Uang kertas Hong Kong diterbitkan oleh 3 bank yang berbeda: HSBC, Standard Chartered Bank dan Bank of China. Jadi jangan heran kalau mendapati uang kertas dengan nominal yang sama bisa punya 3 rupa yang berbeda.

2. Memilih Transportasi

Hong Kong memiliki sistem transportasi yang sangat mengagumkan, dengan alternatif moda yang beragam. Setiap jenis transportasi massal terintegrasi antara satu dengan yang lainnya. Dengan mudah saya bisa berganti moda dari MTR ke Bus atau Ferry. Demi mengecap kemewahan transportasi publik di sini, sedapat mungkin saya mengombinasikan penggunaan moda transportasi; walau untuk alasan kepraktisan, MTR merupakan pilihan terbaik.

Meski ini merupakan kali pertama saya menyambangi Hong Kong, namun kemudahan sistem transportasi di sini seketika mengeliminasi kekhawatiran akan tersasar. Setiap bus dan MTR dilengkapi dengan papan running teks yang menandai stasiun/pemberhentian berikutnya. Yang perlu saya lakukan hanyalah mencari tahu di mana saya harus turun, kapan harus berpindah jalur, dan di pintu exit mana saya harus keluar. Informasi perihal rute, jalur, dan pintu exit MTR dapat dipelajari di sini. Sementara jadwal keberangkatan Star Ferry dapat dicek di sini.

Untuk kemudahan bertransaksi, saya membeli Octopus Card yang saya temukan di customer service HKIA. Octopus Card merupakan kartu multi payment yang bisa digunakan untuk membayar ongkos transportasi dan berbelanja di gerai tertentu. Kartu ini bisa ditop-up di stasiun MTR maupun 7Eleven dengan minimal pengisian 50 HKD. Saya membelinya seharga 150 HKD yang telah terisi dengan nilai nominal 100 HKD. Sementara biaya deposit kartu sebesar 50 HKD dapat dicairkan saat kita mengembalikan Octopus Card di stasiun MTR. Konon kartu ini memiliki masa berlaku hingga 3 tahun, sehingga kita tidak perlu terburu-buru mengembalikan bila berencana kembali ke Hong Kong lagi dalam waktu dekat.

3. Memesan Penginapan

Dengan mempertimbangkan kedekatan destinasi dan fleksibilitas transportasi, saya memilih tinggal di area Tsim Sha Tsui yang sarat dengan areal pertokoan. Ada tiga gedung yang diwacanakan forum backpacker sebagai pusat penginapan murah di mana saya menyewa dua di antaranya melalui booking.com untuk tiga malam. Berpindah-pindah penginapan seperti ini tentu sangat tidak praktis. Namun demi memperkaya pengalaman, serta mengingat lokasi keduanya yang berdekatan dan mama pun tidak keberatan, maka tidak ada salahnya untuk dicoba.

Dua malam pertama kami habiskan di Cebu Hostel yang terletak di Chungking Mansion nan legendaris. Menurut ulasan para backpacker, Chungking Mansion merupakan pilihan yang sebaiknya dihindari mengingat berbagai citra negatif yang melekat: banyak calo, antrian lift yang panjang, gedung yang usang dan fasilitas kamar yang tidak sebanding dengan harganya.

Bukan. Ini bukan rusun. Inilah mansion versi Hong Kong 😛

Saya mafhum jika tarif penginapan di Hong Kong bisa berkali lipat mahalnya dibandingkan penginapan berfasilitas sama di negara-negara Asia Tenggara. Keterbatasan lahan di negara ini bahkan membatasi warna negaranya untuk bisa memiliki properti yang luas. Untuk mengantisipasi kekagetan mama dan adik saya, maka sedari jauh hari saya jelaskan pada mereka tentang kondisi penginapan yang akan kami tempati. Dan ternyata Chunking Mansion tidaklah se-mengerikan yang saya bayangkan, meski di malam ketiga saya mendapati Gold Sparrow Hotel di Mirador Mansion jauh lebih manusiawi kondisinya, dengan tarif yang tidak jauh berbeda.

4. Mencari Tempat Makan Halal

Salah satu hal yang paling saya khawatirkan ketika berlibur ke Hong Kong adalah kesulitan menemukan tempat makan halal. Bagi saya pribadi, saya masih bisa berdamai apabila ternyata resto yang saya singgahi juga menjual menu non halal; selama saya masih punya pilihan lain dan tidak menyantap yang tidak halal. Namun bagi mama saya yang konservatif, tidak akan ada kompromi. Mama bahkan mengancam akan memilih berpuasa dan hanya mengonsumsi sereal yang beliau bawa dari Indonesia apabila kami tidak bisa menemukan resto berlabel halal.

Beruntunglah saya yang memilih Chungking Mansion sebagai persinggahan di malam pertama karena ternyata lantai dasar gedung ini merupakan pusat berkumpulnya para imigran Muslim asal Pakistan dan Sri Lanka sehingga ada banyak resto yang menjajakan menu curry halal ala Pakistan. Senangnya lagi, mereka sangat ramah terhadap kami yang dianggapnya sebagai saudara sesama Muslim hingga tak segan memberi bonus. Tiap kali kami lewat di depan restonya, mereka akan menyapa dengan sebutan “sister” dan membujuk kami untuk singgah; sebuah keramahan yang sulit untuk diabaikan.

Untunglah cuma 3 hari makan yang bersantan kayak gini 🙄

5. Memilih Destinasi

Sejujurnya, Hong Kong bukanlah destinasi idaman yang masuk dalam daftar negara wajib kunjung versi saya; karena produk utama pariwisata Hong Kong adalah destinasi belanja, sementara saya bukanlah perempuan penggila belanja. Keputusan untuk berlibur ke Hong Kong semata-mata dilatari penemuan tiket promo beberapa bulan sebelumnya dan ketertarikan untuk menyimak geliat kehidupan di negara maju.

Karena tidak ada destinasi wajib yang ingin saya kunjungi, saya pun menentukan pilihan secara mainstream berdasarkan pengalaman mayoritas turis yang baru kali pertama menyambangi Hong Kong, seperti: Ngong Ping 360, Disneyland, dan The Peak. Saya juga menyisipkan Ladies Market untuk mengakomodir keinginan mama membeli oleh-oleh. Untuk mengetahui pilihan destinasi lainnya, kamu bisa mencari tahu di website resmi pariwisata Hong Kong. Karena Hong Kong terdiri dari beberapa pulau besar, saran saya perhatikanlah di pulau mana letak destinasi yang ingin kamu kunjungi supaya rute jelajah kamu lebih efisien dan efektif.

Mama excited banget diajak ke Disneyland 😀

6. Susahnya Mencari Tempat Beribadah

Ini merupakan persoalan berikutnya setelah perihal mencari tempat makan halal. Satu-satunya mesjid yang kami temukan hanyalah Kowloon Mosque yang letaknya tak jauh dari penginapan. Menemukan mushola di destinasi wisata sama mustahilnya dengan menemukan jarum di tumpukan jerami. Untuk mengakalinya, kami berwudhu di toilet dan mencari pojokan sepi untuk menggelar sajadah. Namun solusi ini menjadi tidak berlaku ketika kami menyambangi Ngong Ping 360 yang di toiletnya tidak ada air mengalir. Alhasil, mama pun merajuk ingin cepat-cepat pulang walau kami belum selesai menjelajahi tiap sudutnya.

7. Kapan Waktu Terbaik Untuk Berlibur ke Hong Kong

Hong Kong merupakan negara sub-tropis yang memiliki empat musim: musim semi (Maret – Mei), musim panas (Juni – Agustus), musim gugur (September – November), dan musim dingin (Desember – Februari). Ketika kami menyambanginya pada awal Maret lalu, Hong Kong baru saja bersalin dari musim dingin ke musim semi di mana udara siang tetaplah sejuk meski matahari bersinar terik dan udara malam masih menyisakan gigil. Sebaiknya hindari berkunjung ke Hong Kong pada bulan Mei hingga November karena pada bulan-bulan tersebut Hong Kong tengah diliputi musim angin topan yang acap disertai badai hingga mengakibatkan penundaan penerbangan dan tutupnya sejumlah destinasi wisata.

Belum mau lepas jaket meski hari beranjak siang 😆

8. Berkomunikasi Dengan Orang Lokal

Kala menyusuri lorong bawah tanah saat hendak menumpang MTR, saya cukup terperangah melihat laju pergerakan warga lokal yang berjalan bagai robot yang terburu-buru. Demi mengimbangi ketergesaan mereka, eskalator pun turut melaju dengan kecepatan yang terbilang kencang. Mendapati kondisi seperti itu, rasanya mustahil menginterupsi pergerakan mereka untuk sekedar bertanya arah. Lorong bawah tanah MTR di pagi hari sungguh mengesankan wajah Hong Kong yang tidak ramah.

Namun di luar dari lorong bawah tanah MTR, saya justru menemukan kondisi yang berkebalikan. Berulang kali saya bertemu dengan orang-orang ramah yang dengan tulus membantu, bahkan kadang tanpa diminta. Mereka yang tanpa sengaja mencuri dengar, dengan ringan akan turut membantu menunjukkan jalan. Ada yang tanpa sungkan mengeluarkan gawainya demi bisa membantu lewat peta. Ada pula yang menawarkan diri untuk menemani kami hingga ke tujuan karena kebetulan satu arah. Jadi, tak perlulah khawatir tersasar; karena perjalanan akan membuktikan padamu bahwa di luar sana masih banyak orang baik yang bersedia memandangmu tanpa kacamata SARA.

Selamat melancong ke Hong Kong! 😉

Advertisements