Tags

, , , , , , , , , , ,

Bandara Mutiara

Oktober lalu, saya berkesempatan untuk menyambangi Kota Palu. Seperti biasa, sebelum melakukan perjalanan ke luar kota, saya selalu mencari tahu terlebih dulu banyak hal tentang kota yang akan dituju. Terutama, tentu saja, info tentang wisata alamnya. Salah satu artikel yang saya temukan mengatakan kalau Kota Palu itu merupakan kawasan kota yang dikelilingi teluk, lembah, dan perbukitan sekaligus. Pemandangan kota yang sangat langka katanya, karena hanya ada dua yang seperti ini di dunia. Satu lagi di Manhattan, Amerika. huaa.. endorfin saya menggelegak, gak sabar pengen cepet-cepet sampai sana πŸ˜†

Dan benar saja, begitu saya menginjakkan kaki di Kota Palu, saya langsung dibuat terpaku. Palu cantik banget!! Hanya dengan berdiri di pusat kotanya saja, mata saya bisa bermanja-manja menikmati pemandangan bebukitan yang berbaris-seri-berlapis-lapis-sarat-misteri. Belum lagi pemandangan pantai yang terbentang di sepanjang Teluk Palu. Dimanapun saya berdiri, kalau nggak ketemu perbukitan yaa ketemu hamparan pantai, atau malah keduanya. hmmm.. Bener-bener kota yang memesona!

Kawasan Teluk Palu di malam hari, ramai dipadati pedagang kaki lima yang menjual aneka kuliner. Disekitar Jembatan Teluk Palu (Jembatan Kuning), ada juga sejumlah resto yang dibangun hingga menjorok ke laut. Salah satunya Resto Taman Ria yang malam itu saya singgahi. Sebagian besar bangunan resto ini terbuat dari kayu, lantainya papan kayu, tak ada dinding, hanya ada pagar kayu setinggi pinggul yang mengelilingi resto.

Asik banget dehh menikmati nuansa malam Teluk Palu dari pinggir pagar kayunya. Angin malam menerpa membelai mesra, debur ombak bernyanyi riang, cahaya bulan mengerling-menggoda. Lebih asik lagi kalau dinnernya bareng kekasih, nih. hhehe.. Karena memang suasana restonya romantis banget dengan penerangan ruangan yang lembut. Sayangnya kenapa pake ada acara live music segala yang menurut saya malah merusak suasana secara pemilihan jenis musiknya yang nggak tepat. Sebenarnya, sudah cukuplah debur ombak saja yang jadi simfoninya πŸ˜‰ Bagaimana dengan kulinernya? Ada bermacam pilihan hasil tangkapan laut yang bisa kita pilih sendiri untuk diolah sesuai selera.

Selesai dinner, saya sempat juga mampir ke deretan pedagang kaki lima disana. Mau makan durian di pinggir pantai yang saat itu memang sedang musimnya. Ada dinding batu kali setinggi lutut yang memisahkan deretan pedagang dengan pantai. Bisa ditebak, kan, apa yang saya lihat kemudian?! Ada setumpuk sampah kulit durian teronggok begitu saja disana. Jorok sekali! Terbayang bagaimana ilfeelnya wisatawan saat menikmati pemandangan pantai ini di pagi atau di sore hari. πŸ˜•

Ada banyak pilihan lokasi wisata untuk menikmati keindahan Teluk Palu dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Mulai dari pesisir Pantai Tanjung Karang di Donggala, Pantai Kabonga Jaya, Pantai Tumbelaka, Taman Ria Palu, Pantai Talise dan Pantai Enu. Saya hanya mengunjungi dua diantaranya: Pantai Tanjung Karang dan Pantai Taman Ria. Kata sopir yang mengantar saya keliling kota, Pantai Enu juga sangat menarik untuk dikunjungi. Sayang saya tidak sempat melipir kesana.

Bagaimana dengan transportasi dalam kotanya? Ada banyak angkot yang berseliweran di kota ini. Semua tanpa trayek. Jadi waktu kita nyetop angkot, sopirnya akan langsung bertanya kemana tujuan kita. Ongkosnya cuma 2000 rupiah untuk jarak dekat, 3000 rupiah kalau agak jauh. Walaupun penumpangnya cuma dua orang sekalipun, tetap akan diantar sampai ke tujuan. Jadi kayak taksi kan?! Dan memang penduduk setempat menyebut angkot ini sebagai “Taksi”.

Lalu, adakah taksi yang beroperasi di Kota Palu? Ada. Tapi bukan taksi namanya. Penduduk setempat menyebutnya “Argo”. Unik yaa?! Nah, kalau berencana keluar kota, ngerental mobil bisa menjadi pilihan yang bijak kalau gak ada kenalan yang bisa ditebengin, hhehe.. Rental mobil di kota ini demikian menjamur. Biaya sewanya juga relatif terjangkau dan gak ribet syaratnya.

Tidak ada kendala bahasa selama saya berada disana. Penduduk setempat berdialog sehari-hari menggunakan Bahasa Indonesia dengan logat yang khas. Coba perhatikan ketika mereka mengatakan “tidak” dengan logatnya yang khas. “Tiidaakkkk”. Ada penekanan ketika menyebut suku kata “tii” dan kemudian agak meninggi di suku kata “daakkk”. Kali pertama mendengar, saya sampai terkejut dibuatnya. πŸ˜†

Ada satu istilah lucu yang cukup menggelitik saya. Mereka mengatakan “masih cewe” dan “masih cowok” untuk perempuan dan laki-laki yang belum menikah. Jadi agak emosi waktu pertama kali ditanya apakah saya masih cewe? he?! Tentu saja saya masih cewe! Kapan juga saya berniat berubah menjadi cowok atau banci πŸ˜› Tapi kemudian tertawa geli begitu tau maksud sebenarnya :mrgreen: Iyaa.. iyaa.. saya masih cewe, dan berniat untuk tidak cewe lagi dalam waktu dekat. bwahhaha…

Yang agak susah disana adalah sewaktu mencari oleh-oleh. Sentra oleh-oleh disana sangat jarang dan tidak memusat di satu kawasan. Tutup tokonya juga cepet banget. Sedangkan untuk jenisnya, bawang goreng dan kerajinan kayu ebony merupakan pilihan oleh-oleh khas dari Palu. Toko-toko suvenir yang menjual kerajinan kayu ebony bisa ditemui di Jalan Imam Bonjol dan Jalan Danau Lindu.

Oiya, kalau sudah di Palu, jangan lupa mencicipi Kaledo yaa. Makanan khas Kota Palu. Kaledo adalah hidangan sejenis sup iga sapi dan tulang kaki sapi berkuah bening. Rasanya asam pedas. Harus dimakan ketika masih panas, barulah terasa nikmatnya. Belum ke Palu katanya kalau belum mencicipi Kaledo ini. Begitu melihat Kaledo tersaji di meja, antara ‘ngeri’ dan gak tega,Β  saya mikir berkali-kali untuk mencobanya. Berhubung ‘takut’ dibilang belum ke Palu, akhirnya saya mencicipi kuahnya saja. hhihi.. Sedaap lho πŸ˜†

Perbukitan di Kota Palu

Pemandangan sisi seberang Teluk Palu

Teluk Palu

Note: Semua foto diambil dengan kamera hape beresolusi 5 megapixel

Advertisements