Tags

, , , , , , , , , , , ,

Oktober lalu, saya berkesempatan menyambangi Palu untuk pertama kalinya. Seperti biasa, sebelum melakukan perjalanan ke luar kota, saya selalu mencari tahu terlebih dulu banyak hal tentang kota yang akan dituju. Terutama, tentu saja, info tentang wisata alamnya. Salah satu artikel yang saya temukan mengatakan kalau Palu itu merupakan kawasan kota yang dikelilingi teluk, lembah, dan perbukitan sekaligus. Pemandangan kota yang sangat langka katanya, karena hanya ada dua yang seperti ini di dunia. Satu lagi di Manhattan, Amerika. Huaa.. endorfin saya menggelegak, nggak sabar pengin cepat-cepat sampai sana. ๐Ÿ˜ฎ

Dan benar saja, begitu saya menginjakkan kaki di Kota Palu, saya langsung dibuat terpaku. Palu cantik banget! Hanya dengan berdiri di pusat kotanya saja, mata saya sudah dimanjakan pemandangan perbukitan yang berbaris-seri-berlapis-lapis-sarat-misteri. Belum lagi pemandangan pantai yang terbentang di sepanjang Teluk Palu. Di mana pun saya berdiri, kalau nggak ketemu perbukitan ya ketemu hamparan pantai, atau malah keduanya. Hmmm.. Benar-benar kota yang memesona!

***

Kawasan Teluk Palu di malam hari, ramai dipadati pedagang kaki lima yang menjual aneka kuliner. Di sekitar Jembatan Teluk Palu (Jembatan Kuning), ada juga sejumlah resto yang dibangun hingga menjorok ke laut. Salah satunya Resto Taman Ria yang malam itu saya singgahi. Sebagian besar bangunan resto ini terbuat dari kayu. Lantainya papan kayu. Tak ada dinding. Hanya ada pagar kayu setinggi pinggul yang mengelilingi resto.

Asyik betul menikmati nuansa malam Teluk Palu dari pinggir pagar kayunya. Angin malam menerpa, mengusap mesra. Debur ombak bernyanyi riang. Cahaya bulan mengerling-menggoda. Lebih asyik lagi kalau dinner-nya bareng kekasih, nih. ๐Ÿ˜€ Karena memang suasana restonya romantis banget dengan penerangan ruangan yang lembut. Sayangnya kenapa mesti ada acara live music segala yang menurut saya malah merusak suasana, secara pemilihan jenis musiknya yang nggak tepat. Sebenarnya, sudah cukuplah debur ombak saja yang jadi simfoninya ๐Ÿ˜‰ Bagaimana dengan kulinernya? Ada bermacam pilihan hasil tangkapan laut yang bisa kita pilih sendiri untuk diolah sesuai selera.

Selesai dinner, saya sempat juga mampir ke deretan pedagang kaki lima di sana. Mau makan durian di pinggir pantai yang saat itu memang sedang musimnya. Ada dinding batu kali setinggi lutut yang memisahkan deretan pedagang dengan pantai. Bisa ditebak, kan, apa yang saya lihat kemudian?! Ada setumpuk sampah kulit durian teronggok begitu saja di sana. Jorok sekali! Terbayang bagaimana ilfilnya wisatawan saat mendatangi pantai ini di pagi atau di sore hari. ๐Ÿ˜•

Ada banyak pilihan lokasi wisata untuk memandangi keindahan Teluk Palu dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Mulai dari pesisir Pantai Tanjung Karang di Donggala, Pantai Kabonga Jaya, Pantai Tumbelaka, Taman Ria Palu, Pantai Talise dan Pantai Enu. Saya hanya mengunjungi dua di antaranya: Pantai Tanjung Karang dan Pantai Taman Ria. Kata sopir yang mengantar saya keliling kota, Pantai Enu juga menarik untuk dikunjungi. Sayang saya tidak sempat melipir ke sana.

Pantai Tanjung Karang

Bagaimana dengan transportasi dalam kotanya? Ada banyak angkot yang berseliweran di kota ini. Semua tanpa trayek. Jadi waktu kita menyetop angkot, sopirnya akan langsung bertanya ke mana tujuan kita. Ongkosnya cuma 2000 rupiah untuk jarak dekat, 3000 rupiah kalau agak jauh. Walaupun penumpangnya cuma dua orang sekalipun, tetap akan diantar sampai ke tujuan. Jadi kayak taksi, kan?! Dan memang penduduk setempat menyebut angkot ini sebagai “Taksi”.

Lalu, adakah taksi yang beroperasi di Kota Palu? Ada. Tapi bukan taksi namanya. Penduduk setempat menyebutnya “Argo”. Unik ya?! Sementara kalau berencana keluar kota, ngerental mobil bisa menjadi pilihan yang bijak apabila nggak ada kenalan yang bisa ditebengin, hhehe.. Rental mobil di kota ini demikian menjamur. Biaya sewanya juga relatif terjangkau dan nggak ribet syaratnya.

Tidak ada kendala bahasa selama saya berada di sana. Penduduk setempat berdialog sehari-hari menggunakan Bahasa Indonesia dengan logat yang khas. Coba perhatikan ketika mereka mengatakan “tidak” dengan logatnya yang khas. “Tii..daakkkk!”. Ada penekanan ketika menyebut suku kata “tii” dan kemudian agak meninggi di suku kata “daakkk”. Kali pertama mendengar, saya sampai terkejut dibuatnya. ๐Ÿ˜†

Ada satu istilah lucu yang cukup menggelitik saya. Mereka mengatakan “masih cewe” dan “masih cowok” untuk perempuan dan laki-laki yang belum menikah. Jadi agak emosi waktu pertama kali ditanya apakah saya masih cewe! He?! Tentu saja saya masih cewe! Kapan juga saya berniat berubah menjadi cowok atau banci ๐Ÿ˜› Tapi kemudian tertawa geli begitu tahu maksud sebenarnya :mrgreen: Iya.. iya.. saya masih cewe, dan berniat untuk tidak cewe lagi dalam waktu dekat. Bwahhaha..

Yang agak susah di sana adalah sewaktu mencari oleh-oleh. Sentra oleh-oleh di sana sangat jarang dan tidak memusat di satu kawasan. Tutup tokonya juga cepat. Sedangkan untuk jenisnya, bawang goreng dan kerajinan kayu ebony merupakan pilihan oleh-oleh khas dari Palu. Toko-toko suvenir yang menjual kerajinan kayu ebony bisa ditemui di Jalan Imam Bonjol dan Jalan Danau Lindu.

Oiya, kalau sudah di Palu, jangan lupa mencicipi Kaledo ya. Makanan khas Kota Palu. Kaledo adalah hidangan sejenis sup iga sapi dan tulang kaki sapi berkuah bening. Rasanya asam pedas. Harus dimakan ketika masih panas, barulah terasa nikmatnya. Belum ke Palu katanya kalau belum mencicipi Kaledo ini. Begitu melihat Kaledo tersaji di meja, antara ‘ngeri’ dan nggak tega,ย  saya mikir berkali-kali untuk mencobanya. Berhubung ‘takut’ dibilang belum ke Palu, akhirnya saya mencicipi kuahnya saja. Hhihi.. Sedap lho! ๐Ÿ˜†

Note: Semua foto diambil dengan kamera handphone beresolusi 5 megapixel

Advertisements