Tags

, , , , , , , , , , , , ,

wonderful bandung

Sebagai warga pinggir Jakarta yang tiap weekend harus memutar otak untuk sekedar mencari tempat berelaksasi dari kejenuhan rutinitas; saya merasa sangat bersyukur ketika tiga tahun lalu diberi kesempatan untuk melipir sejenak dari aktivitas kantor dan melanjutkan kuliah. Bagaimana tidak? Selama kurun waktu studi itu, saya bukan hanya akan dibebastugaskan sementara oleh negara; tapi juga terbebas dari bermacam elemen negatif ibukota yang rentan timbulkan stres.

Meski sama-sama berlabel ibukota, namun Bandung (ibukota yang akan saya tinggali sementara waktu) memiliki kadar kemanusiaan yang jauh lebih baik ketimbang Jakarta. Walau arterinya semakin padat dan kemacetan pada ruas dan jam tertentu merupakan keniscayaan; namun di kota ini udara segar bukanlah sesuatu yang mahal. Menjelang pukul 12 siang, saya bahkan masih bisa mendengar nyanyian tonggeret bersahutan, padahal rumah kos saya berada persis di pusat kota. Bagi saya, ini merupakan sebuah indikator sederhana, penanda atmosfer yang masih sehat.

Meski selama di Bandung indeks kebahagiaan saya meningkat signifikan, namun ada kalanya saya mengalami kejenuhan menghadapi tugas-tugas kuliah yang bak Sisifus menggiring batu. Pada saat seperti itulah saya membutuhkan piknik sebagai pertolongan pertama. Untungnya negeri Priangan ini memiliki pilihan destinasi wisata yang berlimpah hingga saya tak perlu bersusah payah memutar otak untuk sekedar mencari tempat berelaksasi. Berikut 10 alternatif pilihan saya:

1. Lapangan Gasibu

Merupakan alternatif paling mudah dan paling murah karena letaknya yang hanya sepelemparan batu dari kosan saya. Kala malam menjelang, lapangan ini menjelma aula besar tempat meleburnya ratusan warga dan wisatawan. Dengan berbekal sebatang jagung bakar, biasanya saya duduk di anak tangganya yang menghadap Gedung Sate sambil menontoni bermacam aktivitas manusia dilatari Gedung Sate yang berwarna-warni.

Nuansa Gedung Sate di malam hari

Nuansa Gedung Sate di malam hari

Gedung Sate yang mendadak kece di malam hari pun tak luput dari buruan kamera pelancong dan penghobi fotografi. Tak jarang juga saya menontoni atraksi pre wedding yang memanfaatkan momen bergantinya lampu warna-warni. Sementara bagi para pemburu kuliner, area di sekitar Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat yang tak jauh dari Lapangan Gasibu juga bisa menjadi alternatif dengan pilihan menu lokal yang cukup variatif.

2. Museum Geologi

Letaknya yang berada di tengah-tengah, antara kampus dan kosan, menjadikannya sasaran dan pelampiasan kala saya harus menunggu jeda kuliah hingga berjam-jam. Menyambangi Museum Geologi memang tak cukup hanya sekali. Koleksinya yang berlimpah serta bergizi terlalu mubazir untuk dilewatkan dengan hanya sekilas pandang dan hanya untuk berselfie.

Bertempat di gedung persegi panjang bergaya art deco, museum ini menyimpan koleksi berbagai material geologi seperti fosil, mineral, dan batuan dari berbagai penjuru Indonesia. Bagi pecinta sejarah dan arkeologi, Museum Geologi menghadirkan koleksi fosil manusia dan hewan purba dari berbagai daerah dan rentang masa. Sementara bagi penggemar batu akik, museum ini merupakan tempat yang tepat untuk mengenal lebih dekat jenis-jenis batu mulia yang terdisplay lengkap dengan keterangan komposisi kimia, kekerasan, dan transparansinya. Tujuannya tentu saja agar tidak mudah tertipu dengan batu akik palsu. ๐Ÿ˜›

Display batu mulia di Museum Geologi

Display batu mulia di Museum Geologi

3. Bukit Moko

Pagi menjelang terbitnya matahari dan sore sebelum matahari terbenam merupakan waktu paling pas untuk menyambangi bukit ini. Konon kala matahari masih berdiam di ufuk timur, pengunjung bisa menyaksikan barisan awan yang mengapung, melingkupi kota Bandung. Letaknya yang berada di ketinggian 1500 mdpl menjadikan bukit ini bagai negeri di atas awan kala fajar menyingsing. Namun sayangnya, beberapa kali datang ke sini saya belum pernah sekali pun menjumpai fenomena awan yang menggantung di bawah kaki.

Bukit Moko

Saya sendiri lebih suka bertandang ke sini kala senja menjelang malam. Bila cuaca cerah, di puncak bukit ini saya bisa melewati momen sunset paripurna, dimana langit jingga bersalin rupa menjadi biru tua, lalu memekat disertai kerlip lampu kota yang perlahan mulai menyala, berbaur dengan gemintang di angkasa. Biasanya saya menyimak momen spektakuler ini dengan ditemani secangkir kopi dan segelas bandrek dari Warung Dawung untuk mengusir dingin yang berebut menggigit kulit.

4. Tebing Keraton

Tebing yang keberadaannya terkuak karena peran sosial media ini berada di ketinggian 1200 mdpl dengan akses jalan yang masih perlu banyak perbaikan. Keberadaannya yang menghadap Taman Hutan Raya (Tahura) Juanda menjadikannya paling pas dikunjungi menjelang pagi; kala kabut masih bersetia menggantung menyusupi celah pepohonan dan matahari masih bersembunyi di balik cakrawala. Sayangnya eksistensi tebing ini baru terdeteksi kala studi saya hampir berakhir masanya, hingga saya hanya sempat menyambangi satu kali dan momennya pun kesiangan pula. ๐Ÿ˜ฅ

tebing keraton

5. Trans Studio

Saya percaya, di dalam setiap tubuh orang dewasa masih tersimpan secuil naluri kanak-kanak yang pada suatu waktu menuntut untuk disalurkan. Bagi saya, taman bermain merupakan tempat penyaluran paling ideal dimana saya bisa bersinggungan dengan bermacam atribut kanak-kanak tanpa takut disebut kekanak-kanakan; tempat paling tepat untuk membuncahkan emosi dan meledakkan suara tanpa khawatir dianggap sakit jiwa. :mrgreen:

Terletak di antara kawasan pemukiman kota Bandung, Trans Studio merupakan taman bermain indoor yang hadirkan beragam wahana dengan segmentasi beragam usia; mulai dari yang unyu-unyu seperti “Si Bolang”, hingga yang cukup menggoda adrenalin seperti kincir raksasa dan roller coaster tercepat di dunia. Kalau saya, sih, paling suka dengan “Dunia Lain”; wahana yang mengajak pengunjungnya memasuki lorong gelap “berhantu”, menyusuri miniatur tempat-tempat legendaris beraroma mistis di antero Bandung.

trans studio

6. Tangkuban Perahu

Sebagai warga kota Depok yang sejak SD dijejali Basa Sunda sebagai muatan lokal, legenda Sangkuriang sudah tentu menjadi cerita rakyat yang paling akrab di telinga selain kisah Malin Kundang si anak durhaka. Menurut cerita yang berkembang di kalangan rakyat Jawa Barat, gunung Tangkuban Perahu merupakan buah dari kemurkaan Sangkuriang yang gagal mempersunting Dayang Sumbi, ibu kandungnya sendiri. Alkisah, Sangkuriang yang gagal memenuhi permintaan Dayang Sumbi untuk membuatkannya perahu dalam satu malam lantas menjadi murka dan menyepak perahu hingga terbang melayang dan jatuh menelungkup, menjelma gunung berbentuk perahu terbalik.

Tak hanya akrab dengan kisah percintaannya, selama di Bandung saya pun kerap menyambangi Tangkuban Perahu yang menjadi bagian dari legendanya. Letaknya yang berada di ketinggian, berhawa sejuk dengan nuansa alami yang masih terpelihara, serta lokasinya yang tak jauh dari pusat kota membuat saya tak pernah bosan menjadikannya sebagai pilihan berelaksasi. Seringkali saya datang ke sini hanya untuk duduk-duduk di tepian kawahnya, memandang lepas ke segala penjuru sambil menikmati gorengan hangat yang banyak dijual di sekitar kawah. Biasanya ritual relaksasi ini akan digenapi dengan menyusuri jalan setapak yang memagari tepian Kawah Ratu.

tangkuban perahu

7. Lembang Floating Market

Sudah bukan rahasia kalau urang Bandung itu terkenal dengan kreativitasnya dalam menyulap sesuatu yang sederhana menjadi luar biasa. Lembang Floating Market salah satu buktinya. Dengan sedikit sentuhan kreativitas, sebuah danau buatan bernama Situ Umar bisa menjelma taman wisata atraktif yang aktif menjaring kunjungan wisatawan. Dengan mengusung konsep pasar terapung, Lembang Floating Market merupakan pasar yang didominasi jajanan kuliner lokal dimana para penjualnya melayani pembeli dari atas perahu yang berbaris rapi.

Bagi saya, taman wisata ini merupakan salah satu tempat paling ideal untuk berburu kuliner lokal sekaligus berelaksasi karena nuansa tamannya yang asri dan sedap dipandang. Tak hanya monoton dengan danau dan perahu pedagang yang menjaja kuliner, Lembang Floating Market juga disemarakkan dengan adanya taman-taman tematik dan wahana bermain.

floating market lembang

8. Curug Cimahi

Siapa yang menyangka bila di tepian jalan raya yang cukup padat lalu lintasnya ternyata bersembunyi sebuah air terjun yang cukup tinggi? Curug Cimahi merupakan destinasi yang terletak di kabupaten Bandung Barat dengan jarak tempuh yang cukup dekat dari pusat kota Bandung. Seingat saya, inilah satu-satunya air terjun yang pernah saya sambangi selama menetap di Bandung.

Meluncur dari ketinggian hampir 90 meter yang bersumber dari aliran sungai Cimahi, Curug Cimahi memiliki debit air yang cukup lumayan untuk berbasah-basahan. Meski penampilannya tak seindah dan sejernih air terjun lain yang pernah saya kunjungi, namun lantunan gemuruh air terjun serta sejuknya udara yang dibawa pepohonan rindang di sekitarnya cukup ampuh untuk menciptakan efek rileks sekaligus mengerat segumpal penat.

curug cimahi

9. Kawah Putih

Bila ditanya destinasi mana yang paling saya suka dari semua alternatif relaksasi di Bandung dan sekitarnya, jawaban saya sudah tentu Kawah Putih. Terletak di kabupaten Bandung dengan jarak sekitar 40 km dari pusat kota Bandung, Kawah Putih sejatinya merupakan danau vulkanik yang terbentuk akibat aktivitas letusan gunung Patuha. Memiliki kandungan belerang dengan kadar yang tak menentu menjadikan danau ini kaya akan gradasi warna; mulai dari hijau toska hingga putih kehijauan, bergantung intensitas sinar matahari, suhu udara, dan cerahnya cuaca.

kawah putih

Itulah sebabnya kenapa saya betah berlama-lama memandangi danau Kawah Putih meski terdapat peringatan batas kunjungan yang tak lebih dari 20 menit. Sebagai penikmat lukisan Tuhan stadium akut dan pecinta warna hijau garis keras, buat saya Kawah Putih merupakan destinasi relaksasi paling ampuh.

10. Situ Patenggang

Terletak di tengah hamparan permadani hijau kebun teh, tak jauh dari Kawah Putih, Situ Patenggang merupakan klimaks yang menggenapi relaksasi saya di kawasan kabupaten Bandung. Sejuknya udara yang kaya akan kandungan oksigen merupakan penetralisir sempurna setelah sebelumnya terpapar aroma belerang dalam durasi yang cukup lama.

Di Situ Patenggang, pengunjung bisa menyeberangi danau dengan perahu untuk menyambangi Pulau Asmara dan melihat Batu Cinta, tempat bertemunya sepasang kekasih, Ki Santang dan Dewi Rengganis, setelah terpisah dan saling mencari sekian lama. Menurut mitosnya, bagi pasangan yang singgah di Batu Cinta dan mengelilingi Pulau Asmara konon akan dianugerahi hubungan cinta yang abadi.

Bagi saya, Situ Patenggang merupakan obat awet muda alami. Selain tingginya kandungan oksigen yang baik untuk meremajakan sel, hijaunya permadani kebun teh merupakan terapi efektif bagi mata saya yang lelah berinteraksi dengan paparan radiasi dan angka-angka.

situ patenggang

***

Berniat menghabiskan liburan di Bandung dan menamatkan ke-10 alternatif destinasi pilihan saya? Berikut rekomendasi itinerary-nya:

Hari ke-1: Tebing Keraton, Museum Geologi, Bukit Moko

Hari ke-2: Tangkuban Perahu, Lembang Floating Market, Curug Cimahi

Hari ke-3: Trans Studio, Lapangan Gasibu

Hari ke-4: Kawah Putih, Situ Patenggang

Advertisements