Tags

, , , , , , , ,

Pulau Bidadari

Siapapun yang bersinggungan dengan Jakarta lebih dari 8 jam sehari, 5 hari dalam seminggu tentulah potensial dan rentan mengidap stres; entah itu warga kotanya, entah warga pinggir ibukota, atau bahkan para pendatang yang ratusan kilometer jauhnya dari kampung halaman.

Kemacetan yang semakin menggila, transportasi publik yang kian tak ramah, hingga polusi yang terus meracuni paru-paru menjadi tiga penyebab utama selain tingginya biaya hidup, rumitnya tuntutan pekerjaan, serta penghasilan yang tak kunjung mengalami perubahan. Maka tak heran bila sebagian dari mereka memilih melarikan diri dari Jakarta tatkala akhir pekan tiba.

Namun, terbatasnya durasi akhir pekan yang tak lebih dari dua hari membuat lokasi pelarian cenderung melulu tertuju pada 3B: Bandung, Bogor, Banten. Alhasil, membanjirlah kendaraan berplat B, berseliweran menyesaki arteri 3B; area yang jangankan pada akhir pekan, di hari kerja pun tak lepas dari kemacetan. Ibarat kata pepatah: “terlepas dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau”; lepas dari kemacetan ibukota, hanya untuk bermacet ria di kota lainnya.

Tak bisa dipungkiri bila 3B memang memiliki magnet pesonanya sendiri hingga kemacetan (barangkali) bukanlah perkara besar untuk sebuah penebusan yang setimpal. Namun bila kamu terlanjur lelah bergulat dengan kemacetan, melipir ke Kepulauan Seribu bisa menjadi salah satu pilihan ideal. Tak perlu sampai harus melarikan diri jauh dari Jakarta karena letak salah satu pulau terdekatnya, Pulau Bidadari, hanya berjarak 20 menit waktu tempuh dari keriuhan ibukota.

Dengan KM Bidadari Express, ke Pulau BIdadari cuma butuh 20 menit

Dengan KM Bidadari Express, ke Pulau BIdadari cuma butuh 20 menit

Sebagai pulau berlabel eco resort, Pulau Bidadari menyuguhkan beragam pilihan aktivitas seru untuk mengisi masa pelarian kamu. Seperti yang saya cicipi bersama teman-teman vlogger (blogger Vivalog) pada pekan lalu; atas undangan PT Seabreez (pengelola Pulau Bidadari) yang bertajuk “One day trip to Pulau Bidadari“, kami berkesempatan menelusuri antero pulau dan mencicipi langsung beragam fasilitasnya. Jadi apa saja pilihan aktivitas serunya? Ini dia reviewnya:

Menelusuri Jejak Sejarah Kolonial Belanda

Bila merunut rekam sejarahnya, Pulau Bidadari merupakan salah satu pulau di Kepulauan Seribu yang lekat dengan aktivitas VOC dan pemerintah Kolonial Belanda. Di abad ke 17, bersama Pulau Kelor dan Pulau Cipir, Pulau Bidadari pernah menjadi basis pertahanan VOC sekaligus menjadi penunjang aktivitas di Pulau Onrust, pulau tersibuk pada masa itu. Sebagai pulau penunjang, konon di pulau ini pernah dibangun rumah sakit bagi penderita lepra yang merupakan pindahan dari Angke. Karena perannya itulah Pulau Bidadari pernah menyandang sebutan sebagai “Pulau Sakit”.

Saat wabah lepra menghilang di tahun 1800, pulau ini berganti fungsi menjadi benteng pertahanan bagi armada kapal perang Belanda. Untuk melindungi dan memperkuat armada lautnya, pada tahun 1850 Belanda membangun sebuah menara pengawas yang kemudian dikenal dengan nama Benteng Martello. Selain berfungsi sebagai menara pengawas, benteng ini juga didesain sedemikian rupa agar dapat mengakomodir berbagai kebutuhan tentara kolonial.

Benteng Martello di Pulau Bidadari

Benteng Martello di Pulau Bidadari

Bangunan berbentuk lingkaran dengan diameter 23 meter ini memiliki beberapa ruang bawah tanah yang salah satunya difungsikan sebagai gudang amunisi. Strukturnya yang bulat dengan sejumlah jendela konon dimaksudkan agar senjata bisa bermanuver hingga 360 derajat. Sementara untuk mengakomodir kebutuhan akan air bersih, di bagian tengah benteng juga dibangun tembok bundar mungil yang berfungsi sebagai bak penampung air.

Tak hanya di Pulau Bidadari, Belanda juga membangun benteng serupa di Pulau Onrust dan Pulau Kelor. Karena lokasi pulau yang saling berdekatan, maka dibangunlah jembatan penghubung dan jalur bawah laut antar benteng yang menghubungkan Pulau Bidadari dan Pulau Onrust. Namun, serangan bertubi-tubi tentara Inggris yang digenapi dengan hempasan gelombang tidal dari aktivitas Gunung Krakatau di tahun 1883 membuat hampir sebagian benteng di ketiga pulau ini rusak total.

Benteng Martello di Pulau Kelor

Benteng Martello di Pulau Kelor

Benteng Martello di Pulau Bidadari merupakan salah satu jejak sejarah yang tersisa, meski konstruksinya sudah tidak seutuh Benteng Martello yang berada di Pulau Kelor. Namun setidaknya nasibnya masih lebih baik ketimbang Benteng Martello di Pulau Onrust yang kini hanya tertinggal sisa-sisa fondasinya saja.

Sejak tahun 1970, Pulau Bidadari yang lama terbengkalai akhirnya difungsikan sebagai pulau resort di bawah pengelolaan PT Seabreez. Untuk mempertahankan nuansa kolonial, pihak pengelola pun menghias berbagai penjuru pulau dengan sejumlah replika meriam dan puluhan patung beraroma kolonial. Tujuannya tentu saja untuk melestarikan ingatan akan sejarah bangsa; agar generasi penerus bisa dengan mudah menelusuri akar sejarahnya.

Memperkaya Wawasan Dengan Ekowisata

Siapa bilang sebuah pelarian harus identik dengan bermalas-malasan? Rugi banget kalau datang ke Pulau Bidadari hanya untuk bermalas-malasan, sebab di pulau berlabel eco resort ini kita bisa melakukan beragam aktivitas ekowisata; mulai dari mendaur ulang kertas, membuat pupuk kompos, mengolah air limbah dengan cara sederhana, mengenal flora dan fauna langka, hingga bersenang-senang dengan lumba-lumba.

Selain sepetak hutan mangrove yang memang acap ditemukan di kawasan Kepulauan Seribu, Pulau Bidadari juga ditumbuhi oleh beragam tanaman langka berusia ratusan tahun. Pohon kepuh yang tumbuh di sisi tenggara pulau merupakan salah satunya dan acap digadang-gadang sebagai salah satu ikon Pulau Bidadari. Menurut mitosnya, pasangan yang berfoto di bawah pohon ini akan dikaruniai hubungan yang langgeng; hingga jadilah pohon kepuh ini dilabeli sebagai pohon jodoh.

Pohon Kepuh bernama Pohon Jodoh

Pohon Kepuh bernama Pohon Jodoh

Tak hanya kaya akan flora langka, Pulau Bidadari juga menjadi rumah bagi beberapa jenis satwa. Saat mengitari Pulau Bidadari, acap saya jumpai biawak yang dengan leluasa berseliweran melintasi pulau. Konon populasi biawak di pulau ini telah mencapai 100 ekor.

Kala berada di Benteng Martello, saya pun menemukan sebatang pohon menjulang di sisi baratnya yang ternyata dijadikan sarang oleh elang bondol, jenis burung langka yang menjadi ikon kebanggaan Jakarta.

Sarang Elang Bondol

Sarang Elang Bondol

Selain biawak dan elang bondol, beberapa ekor rusa totol juga mendiami pulau ini dan beranak-pinak. Salah satu rusa betinanya yang bernama Yuni bahkan kami jumpai tengah berbadan dua.

Dan yang paling menarik buat saya adalah kesempatan untuk berinteraksi dengan Unggul, si lumba-lumba. Menurut Mas Zawir, pawang lumba-lumba yang kami temui, Unggul ini lagi sensitif banget karena pasangannya lagi dilarikan ke Ancol; padahal sekarang lagi musim kawinnya lumba-lumba. Tapi dengan kelihaian Mas Zawir sebagai pawangnya, si Unggul masih mau diajak bermain, bersalaman, bahkan berciuman. 😀

Ditium lumba-lumba :

Ditium lumba-lumba :”)

Menguras Keringat di Pulau

Paham dengan kebutuhan warga ibukota yang sering kesulitan menemukan ruang terbuka, Pulau Bidadari pun melengkapi resortnya dengan beragam fasilitas olahraga seperti: lapangan futsal, dermaga untuk memancing, arena pijat refleksi, serta aneka watersport. Tak hanya ideal untuk melarikan diri, Pulau Bidadari juga ideal untuk kamu yang doyan lari-lari karena ruas jalan di sepanjang lingkar pulaunya ditata sedemikian rupa sehingga nyaman untuk berjalan santai bahkan bersepeda.

***

Berminat melarikan diri ke Pulau Bidadari?

Resort ini menawarkan beragam paket liburan untuk bermalam atau sekedar one day tour mengelilingi pulau. Bila berniat menginap, ada 5 jenis kamar berkapasitas hingga 300 orang dengan konsep rumah pesisir yang bisa dipilih sesuai budget dan kebutuhan. Semua cottage-nya berbahan dasar kayu dengan bentuk arsitektur tradisional khas Manado.

Suite Cottage

Suite Cottage

Untuk detail tarifnya, sila cek di sini:

Rate Pulau Bidadari

Selamat melarikan diri 🙂

Advertisements