Tags

, , , , , , , , ,

Maraknya pemberitaan tentang kapal tenggelam sebelum waktu keberangkatan kami ke Lombok membuat rencana menyeberang ke Gili Trawangan menjadi maju mundur cantik. Mas Bayu yang kadang masih suka parno saat terbang, kini menjadi parno juga untuk menyeberang lautan.

Ke Lombok tanpa ke Gili Trawangan? Oh, yang benar saja! Konon kabarnya, sekarang ini Gili Trawangan sudah nggak seasyik dulu. Semakin ramai, padat, dan mulai kumuh.

Duh, apalagi nanti; tiga atau lima tahun lagi?!

Demi membujuk Mas Bayu yang masih ogah-ogahan, saya pun gencar mencari info supaya bisa membujuk dengan alasan yang masuk akal. Sialnya, cuaca ekstrem yang tengah melanda Indonesia ternyata juga turut menyambangi Lombok dan perairannya tanpa terkecuali. Hujan berintensitas tinggi disertai angin kencang membuat penyeberangan kapal cepat dari Bali ke Gili Trawangan sempat terhenti karena gelombang yang tinggi. BMKG bahkan meramalkan akan terjadi badai!

Duh, bagaimana ini? Speedboat yang lebih canggih aja nggak berani menyeberang, apalagi public boat dari Bangsal yang notabene cuma perahu kayu bermesin!

Setelah membujuk setengah memaksa, akhirnya kami sepakat untuk tidak berangkat semisal nanti turun hujan lebat. Dan untuk menghindari ombak yang tinggi di siang dan sore hari, kami harus sudah sampai Bangsal dan menyeberang sebelum jam 11 siang.

***

Saat melintasi Kawasan Senggigi, senyum saya pun merekah karena cuaca ternyata cerah. Aktivitas di Pelabuhan Bangsal pun terlihat normal; para penumpang ramai berlalu-lalang dan berkerumun menunggu antrian menyeberang.

Setelah membayar 12.500 per orang untuk ongkos menyeberang, kami pun diberi tiket berwarna hijau yang berarti tujuan ke Gili Trawangan. Selain Gili Trawangan, pelabuhan Bangsal juga melayani penyeberangan ke Gili Meno dan Gili Air dengan tiket yang berbeda warna.

Bisa dibilang, pelayanan di pelabuhan ini agak semrawut karena tidak ada nomor antrian yang tertera pada tiket, atau jalur untuk mengantri; sehingga saat kapal tersedia dan terdengar panggilan melalui toa, penumpang pun berebutan menaiki kapal. Imbasnya, kapal yang menurut papan di loket hanya akan menampung 20 penumpang; melonjak hingga 40 orang. Itu pun masih ditambah lagi dengan beragam muatan penumpang yang memenuhi geladak kapal; mulai dari koper dan ransel, hingga kardus-kardus dan box berisi bahan makanan untuk dijual di pulau.

Tiba di dermaga, sejumlah calo hotel langsung berebut menghampiri. Salah satunya ada yang mengiming-imingi penginapan dengan fasilitas air bersih yang nggak berasa asin (bukan hasil penyulingan air laut). Berhubung sudah mengantongi beberapa rekomendasi penginapan, kami pun berjalan menuju utara, hingga menemukan Pondok Wildan yang lokasinya nyempil di samping bar.

Pondok Wildan merupakan penginapan berkonsep bungalow yang menurut saya cocok banget untuk pasangan yang sedang berbulan madu. Ehemm.. Setiap bungalow dilengkapi dengan teras, kamar yang luas, serta kamar mandi berkonsep taman dengan atap terbuka; sehingga kalau nongkrong di wc malam-malam bisa sembari lihat bintang. :mrgreen:

Dengan kondisi kamar yang serupa hotel berbintang, tarif menginap di Pondok Wildan terbilang cukup murah dan masih bisa ditawar! Awalnya kami ditawari kamar ber-ac dengan tarif menginap 300 ribu per malam. Berhubung saya tau kalau saat itu sedang low season, saya pun bernegosiasi dengan menawar tarifnya hingga setengah harga. Tak disangka, mereka langsung sepakat dengan syarat kami tidak dapat sarapan dan ac tidak boleh dinyalakan. “Oke, sip!”

Seharian di Gili Trawangan, ngapain aja?

Siang hari kami habiskan dengan bersepeda keliling pulau, menyimak geliat kehidupan di tiap inchinya. Beragam jenis penginapan, caffe, resto, bar, kios souvenir, travel agent, rental sepeda, dive center, hingga kelas memasak dan kelas yoga menjadi pemandangan silih berganti yang memenuhi sepanjang jalan lingkar luar pulau.

Jalan tanah yang tak rata dan tak seberapa lebarnya membuat bersepeda keliling pulau menjadi tak begitu leluasa. Berkali-kali saya harus melipir menghentikan sepeda karena ruas jalan dipadati oleh cidomo dan orang-orang yang lalu-lalang. Kalau kata saya, sih, bersepeda di Gili Trawangan itu asyiknya saat menjelang petang; karena biasanya pada jam-jam segitu wisatawan lebih suka leyeh-leyeh berjamaah di pesisir, sehingga ruas jalan menjadi lebih sepi. Beda dengan waktu siang, dimana bule-bule lebih suka berjemur memadati pantai; sementara turis Asia keliling pulau dengan berpayung. :mrgreen:

Saat matahari tak lagi sengit menggigit kulit, barulah kami berenang-renang ke tepian. Di sekitar saya berseliweran tubuh-tubuh mengambang; mereka yang snorkeling dengan berpelampung, ada juga satu dua yang mengintip isi lautan dengan beralaskan papan surfing didayung.

Menjelang senja, kami mengayuh sepeda ke arah barat. Di sebuah pendopo panjang yang menghadap lautan, kami ikut larut bersama puluhan wisatawan dalam ritual mengantar mentari kembali ke peraduan. Rupanya, matahari di Lombok baru tenggelam menjelang pukul tujuh. Saya yang sudah ngetem sedari dua jam sebelumnya dengan kondisi basah kuyup sehabis renang, tak ayal jadi menggigil kedinginan karena terus menerus dibalut angin laut.

Saat langit semakin menggelap, ruas jalan lingkar luar pulau justru semakin semarak. Sejumlah caffe, bar, dan resto di sepanjang timur hingga ke barat pulau berlomba-lomba menarik perhatian wisatawan dengan memajang menu sajiannya di tepi jalan, menyetel musik keras-keras, menggelar beragam atraksi, menampilkan live music, hingga mengadakan pesta bertajuk full moon party. Kebetulan sekali kami main ke pulau ini saat bulan sedang bulat sempurna; momen bulanan yang kehadirannya selalu dirayakan.

Tapi berhubung badan terlalu letih untuk diajak terjaga lebih lama, dan memang saya juga bukan tipe cewek yang doyan pesta, saya pun membiarkan keriaan full moon party berlalu begitu saja. Selamat malam Gili Trawangan. πŸ˜€

Info dan tips seputar Gili Trawangan:

  • Transportasi dari Bandara Internasional Lombok menuju Pelabuhan Bangsal bisa dengan menggunakan Damri sampai Senggigi, yang disambung dengan taksi hingga ke pelabuhan. Alternatif lain adalah dengan menyewa kendaraan di Mataram. Kendaraan bisa dititipkan di pintu masuk pelabuhan.
  • Untuk akses dengan kendaraan umum selain taksi, dari Mataram bisa menempuh Jalur Rembiga – Pusuk yang dilewati engkel dan colt.
  • Pelabuhan Bangsal melayani penyeberangan ke Gili Matra mulai jam 8 pagi hingga 5 sore dengan waktu tempuh 25 – 45 menit. Selain public boat, pelabuhan ini juga melayani charter dan penyeberangan antar gili.
  • Motor dan mobil merupakan benda terlarang di Gili Trawangan. Sebagai gantinya, wisatawan bisa menggunakan cidomo (semacam dokar) atau sepeda untuk berkeliling pulau. Tarif sewa sepeda mulai 35 ribu rupiah per hari. Semakin lama menyewa, tarifnya bisa semakin murah. Jangan sungkan untuk tawar menawar.
  • Bulan Januari hingga Maret merupakan low season di Gili Trawangan, dimana penginapan bisa ditawar hingga setengah harga.
  • Ada banyak sekali pilihan tempat makan di pulau ini, mulai dari warung hingga fine dinning. Kalau pengin yang murah meriah, saya rekomendasikan Green Cafe sebagai salah satu pilihan. Meskipun judulnya caffe, tapi Green Cafe pada dasarnya adalah warung yang menjual beragam menu rumahan.
  • Saat malam hari, lapangan kecil di sisi selatan pulau akan dipenuhi oleh pedagang kaki lima (serupa pasar malam) yang menjual aneka jajanan dan makanan berat dengan harga yang juga bersahabat.
Advertisements