Tags

, , , , , , , , , , , , , ,

Pulau Sumatera

Sumatera adalah Suwarnadwipa, pulau emas dengan selaksa pesona yang memikat panca indera. Entah bentang alamnya, warisan tradisi dan budaya, atau racikan rempah-rempah dalam kulinernya, adalah magnet; layaknya nektar yang mengundang kumbang untuk datang. Di antara selaksa pesona yang dikandungnya, Kopi Sumatera adalah salah satu daya tarik yang harumnya menyusup hingga ke mancanegara.

Dalam ekspedisi bertajuk ‘Terios 7 Wonders: Sumatera Coffee Paradise‘, para petualang yang menamakan diri sebagai tim Terios 7 Wonders telah meretas Pulau Sumatera selama 15 hari lamanya. Membelah Suwarnadwipa dari ujung selatan hingga ujung utara; menghampiri satu per satu dari tujuh produsen kopi yang bermukim disana. Sejauh 3.600 km rentang jarak telah ditempuh. Jutaan jejak telah terpacak. Beragam jenis medan resmi ditaklukkan, untuk sebuah pembuktian.

Demikianlah, kawan. Perjalanan selalu memiliki misinya masing-masing. Dan tulisan ini hanyalah catatan kecil dari jurnal perjalanan panjang yang mereka tunaikan demi mendulang selaksa makna sekaligus membuktikan pada dunia: bahwa Terios memang layak menyandang predikat sebagai ‘Sahabat Petualang’.

Liwa: Menyimak Seluk-beluk Kopi Luwak

Rabu, 10 Oktober 2012 merupakan tonggak dari rentang perjalanan panjang yang akan dilalui tim Terios 7 Wonders. Bertolak dari Jakarta dengan iring-iringan dua Daihatsu Terios TX-AT dan satu Daihatsu Terios TX-MT, tim Terios 7 Wonders bergerak menuju Merak untuk mencapai Bakauheni, ujung selatan Pulau Sumatera.

Kopi Luwak Liwa adalah surga kopi pertama yang menjadi tujuan mereka. Terletak di wilayah pegunungan, untuk mencapai Liwa, tim Terios 7 Wonders harus melewati kawasan Bukit Kemuning yang didominasi tikungan pendek serta tanjakan terjal. Inilah tantangan awal yang berhasil ditaklukkan Terios dengan elegan. Setelah menempuh jarak sejauh 525 km dari Jakarta, akhirnya mereka pun tiba di tepian Danau Ranau, area penangkaran luwak dan perkebunan Kopi Liwa.

Liwa

Dalam jurnal perjalanan Terios 7 Wonders dikisahkan bagaimana Kopi Luwak bisa begitu digemari dan sangat mahal harganya; yang tak lain ternyata karena kerumitan prosesnya. Untuk memperoleh cita rasa kopi terbaik, mula-mula dilakukan penyortiran terhadap biji kopi yang baru saja dipetik, karena luwak hanya mau memakan biji kopi dengan kualitas terbaik, yakni biji kopi yang bulat dengan warna merah merata dan tenggelam bila direndam. Setelah dipilah dengan seksama oleh petani kopi, biji kopi yang terpilih masih akan menghadapi proses seleksi lagi dari luwaknya sendiri. Untuk urusan perut, ternyata luwak jauh lebih pemilih dibanding manusia. :mrgreen:

Setelah terfermentasi di dalam perut luwak dan keluar menjadi kotoran, biji kopi ini lantas dipisahkan agar tak lagi berbentuk gumpalan, lalu dibersihkan dan dijemur hingga kering sebelum akhirnya melalui proses pengolahan di pabrik dan menghasilkan kopi termahal di dunia. Ajaib memang, setelah menjadi kotoran luwak, biji kopi ini justru semakin nikmat dan semakin wangi. Kekhasan aroma kopi pun bisa berbeda-beda apabila dihasilkan dari kotoran luwak dengan jenis yang berbeda.

Pengeringan biji kopi

Lahat: Kota Penghasil Kopi Yang Kini Bertransformasi

Lebih dari lima belas tahun yang lalu, saat kami sekeluarga masih sering mudik ke Sumatera Barat dengan jalur darat, adalah pantang hukumnya melewati Lahat di malam hari. Lahat yang saya ingat adalah kota sarat bajing loncat; salah satu jalur berbahaya pada lintas Sumatera. Kesan ini tak pernah berubah sampai saya membaca jurnal perjalanan Terios 7 Wonders dan mengetahui bahwa ternyata Lahat telah bertransformasi menjadi kota yang hangat dan bersahabat.

Lahat

Meski di satu sisi Lahat telah berubah secara mengagumkan, di sisi lain Lahat juga tengah mengalami perubahan yang mengkhawatirkan. Dikisahkan petani kopi di Lahat kini mulai meninggalkan kebunnya. Ulah tengkulak yang menguasai pemasaran kopi sehingga mudah mempermainkan harga beli dari petani merupakan alasan kenapa hal ini bisa terjadi. Kisah pilu petani kopi yang seperti ini sudah sangat sering saya dengar. Petani kopi tak pernah menikmati hasil jerih payahnya dengan layak. Padahal harga kopi dunia berada pada kisaran yang tidak murah.

Keprihatinan serupa juga turut dirasakan para petualang Terios 7 Wonders. Namun optimisme juga bermunculan ketika mereka berkesempatan mendatangi home industry pengolahan kopi tradisional milik Zahari Cikman. Usaha yang dirintis Zahari sejak tahun 1980 ini masih terus bertahan, bahkan kini telah mampu mengolah kopi hingga mencapai 100 kg per hari dengan melibatkan partisipasi masyarakat setempat.

Semoga citra Lahat sebagai salah satu penghasil Kopi Sumatera terbaik tak pernah berubah.

Pagar Alam: Manifestasi Kecerdasan Petani Kopi Dalam Berinteraksi Dengan Alam

Tercatat sebagai daerah penghasil kopi terbesar di Pulau Sumatera, Pagar Alam merupakan surga kopi berikutnya yang disinggahi tim Terios 7 Wonders. Meski hanya berjarak 48 km dari Lahat, namun jalur yang terbentang cukup menantang untuk bisa dilalui dengan aman. Performa mesin dan ketangguhan Terios pun kembali diuji. Melaju di jalan kelok berbatu dengan tanjakan terjal membuat shifter matik Terios berkali-kali mengalami perpindahan untuk menjaga akselerasi. Namun dengan suspensi yang dimiliki, medan yang demikian tetap bisa terlampaui dengan nyaman.

Pagar Alam

Sejuknya udara pegunungan menyambut kedatangan tim Terios 7 Wonders di kota ini. Hamparan kebun teh dan kopi serta bentang sawah yang dilatari Gunung Dempo menjadi lukisan yang menghiasi sepanjang jalan. Di kota ini para petualang Terios 7 Wonders kembali melengkapi khasanah pengetahuannya tentang seluk-beluk biji kopi; mulai dari gimana cara membedakan buah kopi yang sudah kering, gimana cara memisahkan biji kopi dari cangkangnya, serta bagaimana teknik penyimpanannya agar lebih tahan lama.

Buah kopi yang sudah kering akan mengeluarkan bunyi bila diguncang dengan kepalan tangan. Ini berarti biji di dalamnya sudah terpisah dari daging buah dan siap untuk diolah. Para petani biasanya akan menyimpan buah kopi dalam kondisi masih terbungkus dengan kulitnya. Selain agar lebih awet dan tidak mudah susut, teknik ini juga berguna untuk mensiasati harga kopi yang sedang jatuh. Pada saat harganya membaik nanti, barulah biji-biji yang tersimpan diolah menjadi kopi.

Pagar Alam 2

Empat Lawang: Perpaduan Sempurna Antara Robusta dan Arabika

Selepas melibas jalan sempit yang terapit hutan di kiri kanan selama tiga jam, tim Terios 7 Wonders akhirnya tiba di Kabupaten Empat Lawang; sebuah wilayah yang mengandalkan kopi sebagai komoditas utama. Meski bukan penghasil kopi terbesar di Pulau Sumatera, namun kabupaten hasil pemekaran dari Lahat ini begitu bangga menjadikan biji kopi sebagai ikon wilayahnya. Masyarakat Empat Lawang seperti memiliki ikatan yang spesial dengan kopi. Tak hanya sebagai ikon, wujud biji kopi juga turut dijadikan corak pada batik yang dikenakan di kantor-kantor pemerintahan setempat.

Seperti halnya wilayah lain yang memiliki ciri khas tersendiri pada kopi yang diproduksi, di Empat Lawang, kopi yang dihasilkan merupakan perpaduan unik antara Robusta dan Arabika. Jadi meski berwujud Robusta, namun aromanya serupa dengan kopi Arabika. Lalu seperti apakah gerangan cita rasanya? hmmn.. Sepertinya kelak saya harus mencoba sendiri untuk bisa tahu dengan pasti πŸ˜‰

Kopi Empat Lawang

Curup: Kopi Adalah Candu

Melanjutkan persinggahan di surga kopi berikutnya, Terios kembali digoda oleh jalur khas lintas Sumatera yang berkelok-kelok, dengan tanjakan dan turunan tajam. Performa mesin berkapasitas 1.500 cc ini pun kembali menemukan arena untuk membuktikan ketangguhannya. Dengan suspensi yang mumpuni, berkali-kali terjebak lubang tak menjadi masalah berarti. Tangkasnya akselerasi membuat ganasnya medan dapat terlampaui dengan elegan, tim Terios 7 Wonders pun akhirnya tiba di sentra Kopi Sumatera berikutnya; di Kabupaten Curup, Propinsi Bengkulu.

Curup

Di kota ini, kenikmatan menyeruput kopi seperti tidak akan pernah ada habisnya. Masyarakat setempat begitu menggandrungi cita rasa dan aroma khas yang menguar dari kopi yang diproduksi tanah kelahirannya. Begitu tandas satu gelas, mereka akan kembali menyeduh ampasnya. Begitu seterusnya. Berkali-kali. Lagi dan lagi. Di kota ini, kopi adalah candu.

Mandailing Natal: Menyusuri Sisa Aroma Sang Primadona

Bila mencermati peta ekspedisi tim Terios 7 Wonders, sesungguhnya jarak tempuh di antara kelima surga kopi pertama tidaklah seberapa bila dibandingkan dengan rentang jarak yang harus ditempuh untuk mencapai surga kopi berikutnya, Mandailing Natal di Sumatera Utara. Meski jalur yang dilalui bukan lagi kawasan pegunungan atau perbukitan, namun karakter jalan yang bersisian dengan pantai barat Sumatera ini memiliki ciri khas yang hampir serupa, bahkan dengan tikungan-tikungan yang lebih ekstrem dari jalur yang telah terlampaui sebelumnya.

Tak hanya medan yang semakin menggila, dalam rentang jarak sepanjang 628 km, tim Terios 7 Wonders juga sempat melintasi ruas jalan yang mengalami kerusakan akibat gempa. Beberapa ruas bahkan mengalami longsor, sehingga lebar jalan semakin menyempit. Tak jarang Terios pun harus berselisihan dengan truk-truk besar pengangkut batubara atau kelapa sawit. Dengan kondisi jalan yang demikian, otomatis, inilah medan laga sesungguhnya bagi Terios untuk membuktikan ketangguhan performanya.

Madina

Berbekal ground clearence yang tinggi, setelah menempuh ujian selama 18 jam, melintasi ganasnya medan antara Bengkulu hingga Madina, akhirnya tim Terios 7 Wonders pun tiba di surga Kopi Sumatera berikutnya.

Kopi Mandailing Natal merupakan industri kopi pertama yang berkembang di tanah Sumatera. Menurut catatan sejarah, Belanda telah membawa dan menanam kopi jenis Arabika di wilayah ini sejak tahun 1699. Sempat menjadi primadona dan andalan ekspor hingga ke Eropa, namun kabarnya, pamor Kopi Madina kini mulai meredup. Entah apa sebabnya; sebuah pertanyaan besar yang tak saya temukan jawabannya pada jurnal ekspedisiΒ Terios 7 Wonders: Sumatera Coffee Paradise.

Takengon: Kopi Yang Menjelma Menjadi Budaya

Ada yang spesial dalam rute perjalanan menuju surga kopi paling utara di tanah Sumatera. Selain menempuh jalur khas lintas Sumatera yang hampir serupa karakternya, untuk mencapai Takengon, Terios juga dihadapkan pada medan offroad di Bukit Oregon yang kabarnya merupakan salah satu arena ajang uji kehebatan komunitas 4WD setempat. Dan bukan Terios namanya kalau tak mampu taklukkan medan yang demikian. Perlahan tapi pasti, meski hanya berpenggerak 2WD, Terios sebagai mobil SUV kembali membuktikan ketangguhannya sebagai sahabat petualang.

Takengon

Terletak di ketinggian 1.300 mdpl, Takengon merupakan lahan yang sesuai untuk ditanami kopi jenis Arabika. Seperti halnya di Kabupaten Empat Lawang, masyarakat Takengon pun memiliki keterikatan yang erat dengan kopi. Menurut penuturan Bambang, pengusaha Kopi Gayo yang ditemui petualang Terios 7 Wonders, hampir setiap penduduk di kota ini memiliki kebun kopi. Setidaknya, satu keluarga memiliki kebun seluas setengah hektar. Bahkan bila memungkinkan, pekarangan rumah pun tak luput ditanami kopi.

Tak hanya kebunnya saja, kedai kopi pun dapat dengan mudah dijumpai; menjamuri berbagai sudut kota. Karena di bumi Serambi Mekah yang begitu tersohor dengan aroma Arabikanya, menyeruput kopi telah menjelma menjadi budaya.

Epilog

Setelah 15 hari meretas Suwarnadwipa dari selatan hingga utara, ekspedisi Terios 7 Wonders pun mencapai klimaksnya di titik nol Kota Sabang. Akumulasi 3.657 km rentang lintasan yang telah terlampaui, tentu bukanlah jarak yang singkat untuk ditempuh melalui jalur darat. Tangguhnya performa mesin dan kenyamanan dalam kabin mutlak diperlukan untuk tetap bisa menikmati perjalanan.

Dilengkapi berbagai spesifikasi yang mumpuni sebagai SUV, selama 15 hari perjalanan, Terios dengan elegan telah membuktikan bahwa ketangguhan yang diusungnya bukan hanya sekedar slogan. Terios memang layak menyandang predikat sebagai ‘Sahabat Petualang’.

***

Tulisan ini terinspirasi dari jurnal perjalanan Terios 7 Wonders: Sumatera Coffee Paradise yang bisa dibaca di sini dan di sini. Seluruh foto adalah milik Daihatsu Indonesia.

Advertisements