Tags

, , , , ,

Nesparnas

: Kepada Yth Bapak Arief Yahya

Sebelumnya ijinkan saya untuk memperkenalkan diri terlebih dulu. Nama saya Defi Laila Fazr, salah satu staf Bapak di Kementerian Pariwisata. Sampai detik ini kita memang belum pernah bertatap muka, Pak. Tapi setidaknya saya pernah berjumpa dengan Bapak dua kali. Pertama saat Bapak berkunjung ke setiap lantai untuk bertemu dengan seluruh staf baru Bapak; dan kedua saat Bapak bercengkerama dengan beberapa staf Bapak di kantin kantor, usai olahraga Jumat pagi. Dua pemandangan itu tidak pernah saya jumpai pada dua menteri pendahulu Bapak.

Saya juga mendengar, belum lama ini Bapak mengundang beberapa perwakilan travel blogger untuk diajak berdiskusi. Sebagai salah seorang travel blogger, saya ikut tersanjung karena ini berarti Bapak mengapresiasi kontribusi kami bagi pariwisata Indonesia; sebuah penghargaan yang (lagi-lagi) tidak saya temukan pada pendahulu Bapak.

Atas dasar ketiga hal tersebut, saya berkesimpulan bahwa Bapak adalah pribadi hangat yang terbuka dalam menerima masukan; sehingga akhirnya saya memberanikan diri untuk ikut serta bersama teman-teman travel bloggers Indonesia, mengirim sebuah surat terbuka untuk Bapak.

Awal tahun ini, genap dua bulan sudah Bapak memimpin Kementerian Pariwisata. Selama dua bulan itu Pak, sudahkah Bapak menyempatkan waktu untuk membaca Neraca Satelit Pariwisata Nasional (Nesparnas) kita?

Saya bisa maklum kalau ternyata jawaban Bapak adalah belum. Sejujurnya, saya pun baru (terpaksa) membacanya setelah lima tahun bekerja di Kemenpar, karena tesis yang saya garap, “Analisis Dampak Transaksi Ekonomi Sektor Pariwisata Terhadap Pemerataan Distribusi Pendapatan”, membutuhkan Nesparnas sebagai salah satu sumber data.

Ada tujuh periode Nesparnas yang saya kumpulkan dan seharusnya saya pelajari satu per satu. Selesai membaca satu periode Nesparnas, ternyata saya hanya perlu membolak-balik halamanΒ Nesparnas periode lain untuk mengetahui isinya, karena ternyata narasi Nesparnas begitu sama persis untuk setiap periode. Yang membedakannya dari tahun ke tahun hanyalah angka yang tertera.

Barangkali ini tidak akan saya pertanyakan apabila Nesparnas hanyalah sebuah laporan pemaparan angka-angka dengan sedikit uraian penjelasan. Tapi tentu saja, Pak, Nesparnas (seharusnya) tidak hanya sebatas itu. Pada bagian daftar isinya jelas tertera label ‘Analisis Neraca Satelit Pariwisata Nasional’ di Bab 5.

Untuk lebih jelasnya, sebagai gambaran, berikut saya kutipkan beberapa paragraf ‘Analisis Dampak Ekonomi Pariwisata’ pada dua periode Nesparnas yang berbeda.

Nesparnas data tahun 2007

Nesparnas data tahun 2007

Nesparnas data tahun 2011

Nesparnas data tahun 2011

Pada kedua gambar di atas jelas terlihat bahwa analisis Nesparnas yang tertuang di dua periode yang berbeda ternyata isinya hanya itu-itu saja. Padahal rentang periodenya cukup panjang. Dan bisa Bapak pastikan, selama kurun waktu itu (2007 – 2011), setiap tahunnya, Bapak akan menemukan ‘analisis’ yang sama persis pada Nesparnas setiap periode.

Lalu apabila Bapak memperhatikan konten Nesparnas dengan seksama, maka Bapak akan menemukan banyak narasi dalam Nesparnas yang asbun, asal bunyi saja. Seperti contoh yang saya kutipkan, disitu tertulis bahwa selama dua periode tersebut, bahkan sejak kerusuhan tahun 1998, jumlah kunjungan wisman dan jumlah perjalanan wisnus mengalami penurunan. Bahkan dikatakan merosot tajam pada jumlah wisman. Padahal data yang diterbitkan kementerian jelas-jelas menunjukkan adanya peningkatan jumlah wisman dan jumlah perjalanan wisnus selama kurun waktu tersebut.

Saya pun bertanya-tanya, kenapa kita lambat sekali dalam menerbitkan Nesparnas (yang seharusnya menjadi laporan tahunan). Saat mulai menggarap tesis di awal tahun 2014, Nesparnas terbitan terbaru saat itu adalah Nesparnas untuk data tahun 2011. Itu berarti dibutuhkan waktu setidaknya dua tahun untuk menyelesaikan satu periode Nesparnas.

Tapi yang paling membuat saya miris dan malu, Pak, salah satu dosen pembimbing tesis saya di MET Unpad bahkan meragukan teknik pengumpulan data dan validitas Nesparnas kita.

Saya tidak tahu seberapa berpengaruhnya Nesparnas bagi para stakeholder dalam pengambilan keputusannya. Tapi saya kira, Nesparnas bisa menjadi salah satu alat screening awal bagi para investor untuk melihat potensi pariwisata Indonesia. Bukankah infrastruktur pariwisata kita masih sangat buruk, Pak, sehingga penting untuk merangkul para investor agar tertarik untuk menanamkan modalnya?!

Bapak menteri yang terhormat, sesungguhnya ada banyak hal dalam Nesparnas kita yang perlu untuk dievaluasi dan dibenahi. Selain dari apa yang telah saya uraikan, saya juga acap menemukan kesalahan perhitungan dan ketidak-konsistenan data. Saya berharap semoga dalam masa kepemimpinan Bapak, kualitas Nesparnas kita bisa meningkat signifikan, menjadi jauh lebih baik.

Demikian sekelumit unek-unek yang ingin saya sampaikan terkait Nesparnas kita, Pak. Mohon maaf apabila ada kata-kata saya yang kurang berkenan.

Salam pesona Indonesia.

***

Sila klik tautan berikut untuk membaca surat lainnya dari teman-teman travel bloggers Indonesia:

Advertisements