Tags

, , , , , , , , , ,

Usia saya bak terpangkas dengan paksa satu jam lamanya, setiba di Bandara Internasional Lombok, karena adanya perbedaan waktu. Meskipun masih sangat penasaran dengan keanehan pemandangan di bandara, tapi saya harus bergegas menuju Damri yang sebentar lagi akan beranjak pergi, secara jarum jam sudah menunjuk angka sembilan, dan kami belum memesan penginapan.

Berhubung rencananya akan menginap di Cakranegara, kami disarankan agar turun di pool Damri Sweta saja. Dari sana, Cakranegara sudah dekat. Tinggal naik taksi yang kami tawar dimuka tarifnya. “Paling mahal 25 ribu”, begitu info yang kami peroleh dari teman Mas Bayu yang tinggal di Lombok.

Berbekal info hasil browsing di internet, kami langsung minta diantar ke Oka Homestay di Jalan Rapatmaja karena katanya homestay ini cukup nyaman dengan tarif yang aman buat kantong backpacker. Dua anjing sebesar herder menyambut kami sewaktu tiba dan mengintip dari balik pagarnya. Untungnya sebelum sempat mengendus kami, kedua anjing itu langsung menurut pergi begitu dipanggil pemiliknya. *fiuhh..

Okay, Oka Homestay memang keliatan nyaman, kawan. Tapi tarifnya ternyata berbeda dua kali lipat dari info yang kami dapat. Padahal saat itu bukan peak season. Dan 150 ribu bukanlah tarif yang murah untuk penginapan di Cakranegara, secara bisnis penginapan sangat menjamur di wilayah ini. Ya sudahlah, cari yang lain saja. Dan begitu keluar dari pagarnya, kami langsung di raungin anjing segede herder lagi. Arrghh..

Mas Bayu sempat berkelakar kalau tarif penginapannya jadi mahal, itu karena saya mengaku dari Jakarta. Meskipun cuma becanda, tapi barangkali ada benarnya juga, sih. Jadi setelah itu, saya putuskan untuk tidak banyak bicara sewaktu bertanya harga. Kalau terpaksa sekali, karena Mas Bayu gak pandai nawar, maka sebisa mungkin logatnya saya medok-medokin supaya dikira dari Jogja, hhehe..

Teorinya sederhana, berhubung biaya hidup di Jakarta itu lebih tinggi, jadi mungkin saja mereka mengira kalau saya tidak akan terlalu sensitif terhadap harga. Jadi dengan tanpa perasaan, mereka bisa menaikkan harga sesukanya. Tapi sih, kalau ngeliat ransel yang kami sandang, seharusnya mereka paham kalau kami ini backpacker yang irit oriented. :mrgreen:

Menyusuri ruas jalan di Cakranegara, sepintas awam, kita akan mudah berkesimpulan kalau Lombok itu sebelas dua belas dengan Bali. Ada banyak Pura di wilayah ini, karena memang sebagian penduduknya beragama Hindu. Maka tak heran kalau aroma dupa memenuhi udara di sejumlah jalan, dan canang (rangkaian bunga-bungaan di atas wadah yang terbuat dari janur) mudah ditemukan di halaman penginapan dan restoran. Tapi sebenarnya, Hindu bukanlah agama mayoritas di Lombok, kawan. Karena Lombok justru terkenal dengan sebutan ‘Pulau Seribu Masjid’.

Setelah cukup lama berjalan di kegelapan, keluar masuk gang mencari penginapan dengan jantung deg-degan karena takut ketemu anjing lagi, akhirnya kami menemukan penginapan yang lebih murah di Jalan Subak 1, di Hotel Ganesha Inn dengan tarif 100 ribu per malam. Masih cukup mahal, sih, sebenarnya untuk standar Cakranegara. Tapi berhubung kami sudah lelah, ya sudahlah. Lagipula hotel ini letaknya cukup strategis, dekat dengan jalan raya, dan gampang nyari warung makan.

Tips saya:

Ada banyak penginapan di Cakranegara dengan tarif yang gak tertulis secara resmi. Kalau sudah begitu, tidak perlu sungkan untuk menawar. Dan ada banyak penginapan dengan tarif di bawah 100 ribu, asal mau bersabar mencari, pasti bisa menemukan yang murah tapi nyaman, seperti yang kami temukan keesokan harinya. Tunggu bocorannya di tulisan berikutnya yaa πŸ˜‰

Travel Info:

Menurut info yang saya peroleh dari office girl di bandara, jam operasional Damri dari bandara tersedia sampai dengan penerbangan terakhir sekitar pukul 11. Tarifnya 15 ribu untuk satu orang, sekali jalan.

Tarif Resmi Damri Mataram

Advertisements