Tags

, ,

Lombok International Airport

Keren adalah kesan pertama yang terlintas begitu saya mendaratkan kaki untuk yang pertama kalinya di Bandara Internasional Lombok, Praya (LOP). Sepintas pandang, bangunan bandara ini mengingatkan saya pada Bandara Internasional Hasanuddin di Makassar yang tahun 2012 lalu dianugerahi predikat sebagai ‘Bandara Terbaik di Indonesia‘ oleh Kementerian Perhubungan. Sepintas pandang, kedua bandara ini memang terlihat mirip, kawan.

Enam belas bulan sudah bandara ini beroperasi sejak peresmiannya, 1 Oktober 2011, menggantikan Bandara Selaparang yang sudah dipensiunkan karena over kapasitas. Bukan hanya sekedar menggantikan, tapi juga menyandang fungsi yang lebih tinggi secara bandara ini berlabel internasional. Sepintas pandang, tidak ada yang aneh dengan bandara ini. Segala sesuatunya terlihat sudah pada tempatnya. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Gak ada yang salah. Gak ada yang bermasalah. Setidaknya tidak, sampai saya keluar dari pintu terminal kedatangan dan disambut tontonan kerumunan orang.

Sejujurnya saya belum merasakan adanya keanehan saat itu. Sampai ketika tiba-tiba Mas Bayu berkomentar:

“Neng, kita lagi ditontonin lho”

“Apa?”

“Orang-orang itu lagi nontonin kita”, sambil nunjuk kerumunan orang di pagar pembatas tempat menunggu kedatangan penumpang.

“Nontonin gimana maksudnya, ayang?”

“Mereka itu lagi piknik, ngeliatin pesawat yang hilir-mudik sama nontonin orang-orang yang datang”

“Masa sih?! Bukannya mereka lagi ngejemput keluarganya yaa?”

“Gak percaya! Beneran neng..”

Antara percaya dan gak percaya, sih. Bisa jadi ada benarnya, secara ini bukan pertama kalinya Mas Bayu menyambangi Lombok. Tapi saya juga curiga, jangan-jangan ini bagian dari kejahilan Mas Bayu yang emang doyan ngerjain saya. Errr..

Tapi keanehan berikutnya terlihat dengan cepat. “He?! Lho kok bisa ada pedagang lesehan di halaman bandara? Bandara internasional kok halamannya jadi kayak terminal gini yaa?”

Bandara Internasional Lombok

Pedagang di Bandara Internasional Lombok

Tiga hari berselang, dan pertanyaan-penasaran saya itu akhirnya menemukan klarifikasinya. Ternyata memang iyaa, kawan. Kerumunan orang yang saya kira sedang menjemput keluarganya itu tak lain adalah penduduk lokal yang sengaja datang untuk berwisata di bandara. Saya mendapatkan klarifikasinya dari pemandu di Desa Sade dan teman Mas Bayu yang menetap di Lombok. Mereka memang sedang berwisata, memenuhi rasa keingintahuan karena melihat langsung aktivitas pesawat yang landing dan lepas landas adalah sesuatu yang baru bagi mereka. Dan seperti kebanyakan orang yang sedang piknik, mereka bahkan dengan sengaja membungkus rantang dari rumah untuk dimakan di atas tikar yang digelar di halaman bandara. Dan yang lebih mengherankan lagi, saat itu sudah hampir jam 9 malam!

Sedangkan para pedagang lesehan yang terlihat di halaman bandara, mereka tadinya adalah pemilik lahan di areal bandara yang menghidupi diri dengan bertani, lalu melepaskan lahan penghidupan mereka satu-satunya itu untuk pembangunan bandara. Jadilah kemudian mereka tak lagi memiliki pekerjaan dan penghasilan. Karena keterbatasan pendidikan dan kemampuan, akhirnya mereka hanya bisa berdagang. Dan di bekas lahan yang pernah menghidupi mereka inilah, mereka kembali mencoba peruntungan. Miris sekali yaa?! πŸ˜•

Advertisements