Tags

, , , , , , ,

Ide traveling bisa muncul dari mana saja. Ada banyak sumber yang mampu memprovokasi kita untuk mengunjungi objek wisata tertentu. Buat saya, ketertarikan itu bisa jadi merupakan hasil dari membaca novel, menonton film, membaca buku-buku traveling dan jurnal pariwisata, browsing di internet, ngobrol dengan teman yang berasal dari daerah, termasuk juga hasil dari ngintipin foto liburan teman di facebook. :mrgreen:

Referensi dari seorang teman termasuk salah satu sumber yang hampir selalu saya dengarkan. Seperti ketika saya menyambangi Pantai Menganti di Kebumen akhir tahun lalu dan Pantai Glagah di Jogja pada libur lebaran kemarin. Bermula dari foto saya sewaktu main ke Pantai Kukup yang dikomentari oleh seorang teman di facebook. Pada teman saya itu kemudian saya minta diberi referensi pantai-pantai kece mana lagi di Jogja yang menjadi favoritnya. “Selain Pantai Kukup yaa Pantai Glagah di Kulon Progo”, begitu kira-kira jawaban teman saya. Tak ada alasan bagi saya untuk meragukan referensinya, secara teman saya itu warga asli Jogja dan doyan jalan juga. Sejumlah artikel tentang Pantai Glagah yang saya temukan di internet pun berisi pujian akan keindahan pantai ini. Jadilah ketika liburan kemarin, saya menyisipkan Pantai Glagah sebagai salah satu objek wisata yang akan saya sambangi di Jogja.

Yogyakarta memiliki puluhan pantai berwajah istimewa. Dari total 14 pantai selatan Yogyakarta yang telah saya kunjungi, hanya Parangtritis yang kurang kece penampilannya menurut saya. Yaa, saya bisa maklumlah. Secara Parangtritis ini letaknya dekat dengan pusat kota, sudah pastilah ramai pengunjung, banyak sampah, lagi dekil pasirnya. Berbeda dengan Pantai Glagah yang saya prediksi masih ‘gagah’ secara letaknya yang melipir dari pusat kota, sepertinya tidak begitu sering terjamah.

Dan rasa takjub saya pun berlompatan ketika saya tiba di bibir pantai ini. Saya takjub pada para pembuat referensi Pantai Glagah yang artikelnya saya temukan di internet tempo hari. Betapa handalnya mereka dalam membuat referensi pariwisata. Saya juga takjub pada teman saya yang bisa-bisanya menyandingkan keindahan Pantai Kukup dengan pantai ini.

“Yaa, Pantai Glagah memang indah kawan. Saking indahnya, tahukah kau kalau tidak sampai 15 menit aku berada disana?! Tahukah kau kalau kondisiku sedang tidak terlalu baik hari itu, tapi tetap memaksakan diri pergi, karena berharap keindahan pantai yang akan kutemui bisa mengalihkan perhatianku?! Dan tahukah kau kalau stamina Mas Bayu pun belum benar-benar pulih, sisa-sisa demam tadi malam masih membekas jelas, tapi lalu diabaikannya demi menyenangkan aku?!”

He?! Lho kok?! Jadi curhat colongan?! :mrgreen:

“Ahh, tahu kah kau kawan, setelah 15 menit itu berlalu aku sungguh ingin bertemu, lalu menjitakmu sepuasku?!” πŸ˜›

Sore itu Pantai Glagah dipadati pengunjung yang kalau melihat dari wajahnya, sebagian besar saya tebak adalah warga lokal dan sekitar. Melihat keramaian dan joroknya pantai ini sedikit banyak mengingatkan saya akan Pantai Ancol di Jakarta. Yaa, sebegitu parahnya penilaian saya terhadap pantai ini sampai-sampai mengambil beberapa fotonya pun saya tak ada gairah, ogah-ogahanlah. Parangtritis bagaimanapun rasanya masih lebih menarik lho. πŸ˜› Satu hal yang membuat pantai ini terlihat ‘spesial’ adalah keberadaan laguna yang belum tentu dimiliki pantai-pantai lain. Tapi keberadaan laguna ini tak lantas membuat Pantai Glagah jadi terlihat kece lho yaa, secara warna airnya juga butek gak menarik.

Laguna Pantai Glagah

Pantai ini juga memiliki dermaga yang menurut saya penampilannya lebih mirip pasar malam daripada sebuah dermaga, secara yaa, dermaga ini diramaikan dengan kehadiran tukang jualan es krim, tukang jualan cilok, sampai kereta-keretaan juga ada. Ngomong-ngomong dermaga, pantai ini memang direncanakan akan dijadikan pelabuhan dalam beberapa tahun ke depan. Kalau melihat penampilannya, sih, saya kira memang pantai ini lebih cocok jadi pelabuhan daripada objek wisata. :mrgreen:

Dermaga Pantai Glagah

Satu lagi pantai tak indah lain yang pernah saya sambangi adalah Pantai Widarapayung di Cilacap, Jawa Tengah. Asli saya nyesel setengah mati sepulang dari menyambangi pantai ini. “Duilee segitunye!” Gimana gak nyesel coba kalau ternyata karena menyambangi pantai ini pada waktu itu, saya harus menanggung opportunity cost yang sangat besar keesokan harinya.

Jadi ceritanya, saya sudah menghabiskan waktu setengah hari di Curug Cipendok, Banyumas, sebelum akhirnya terdampar di pantai ini. Berhubung masih tersisa cukup banyak waktu hari itu, tanpa pikir panjang saya mintalah Mas Bayu untuk mengantarkan saya ke pantai terdekat, demi bisa menikmati senja sambil duduk santai di tepi pantai. Tak disangka ternyata jarak dari Curug Cipendok ke pantai ini tak juga bisa dibilang dekat. Cukup menyita waktu dan sisa energi kami hari itu. Angin kencang yang menerpa sepanjang jalan ditambah amburadulnya kondisi jalan cukup meletihkan fisik kami yang saat itu berkendara dengan roda dua. Hingga tak ada lagi tenaga yang tersisa untuk melanjutkan agenda wisata keesokan harinya.

Pantai Widarapayung sama sekali tak indah menurut saya. Pasirnya kucel dan kotor oleh tebaran sampah. Berkejaran dengan ombaknya pun saya ogah karena air lautnya berwarna kecoklatan gitu seperti telah tercemar limbah. Malangnya, demi melihat semua ketidak-indahan ini, saya mesti menukarnya dengan keindahan Dieng Plateau, agenda wisata kami keesokan harinya yang terpaksa batal. Jadi wajarkan, kalau saya bilang saya menyesal setengah mati telah mengunjungi pantai ini?! :mrgreen:

Pantai Widarapayung. Photo by wisatacilacap.orgfree.com

Advertisements