Tags

, , , , , , , , , ,

Photo by medanmagazine.com

Traveling ke luar kota dengan kereta, bagi saya, rasanya bak naik kereta wisata. Betapa tidak?! Hamparan sawah adalah sesuatu yang mewah bagi saya yang hari-harinya selalu dijejali dengan barisan pohon beton pencakar langit dan sesaknya lalu lintas ibukota. Rangkaian pegunungan atau bukit di kejauhan adalah surga bagi mata saya yang lelah. Tiap inchi yang dilewati bagai misteri, bagai membuka satu per satu kotak kado yang dihadiahkan Tuhan untuk saya. Kotak kado berisi pigura-pigura lukisan Tuhan yang selalu mampu membasuh jiwa saya yang haus akan belaian alam.

Detik demi detik yang mengalir, tak ayal memaku pandangan saya tak beralih dari jendela, mendekap jiwa saya dalam pelukan keindahan, hangat yang selalu saya rindukan. Memesan kopi di tengah perjalanan hampir selalu saya lakukan karena tak ingin sampai jatuh tertidur melewatkan begitu saja pameran lukisan Tuhan di sepanjang jalan.

Rute kereta yang pernah saya coba selalu bermula dari Jakarta dengan destinasi Bandung, Purwokerto, Jogja atau rute sebaliknya. Pemandangan sepanjang jalan selalu didominasi oleh hamparan permadani hijau atau sawah yang mulai menguning, ladang jagung, jembatan, dan sungai-sungai lebar. Kalau saya beruntung, saya akan melihat keceriaan segerombol anak kecil yang sedang mandi-mandi di pinggir kali.

Spot favorit saya saat berkereta rute Jakarta – Bandung ada di sepertiga terakhir perjalanan, yakni selepas Purwakarta. Ketika kereta menerobos perbukitan, melewati Terowongan Sasaksaat, melintasi jembatan dimana lembah sawah bertingkat-tingkat, indah menghampar di bawahnya. Kalau rute Jakarta – Purwokerto, yang paling menarik adalah lukisan alam selepas Stasiun Bumiayu, hamparan permadani hijau atau menguning dilatar-belakangi barisan bukit di kejauhan. Sedangkan kalau rute Jakarta – Jogja yang paling saya suka adalah ketika kereta melintasi Sungai Serayu.

Terowongan Sasaksaat. Photo by flickr.com

Photo by travelyuk.wordpress.com

Melintasi Sungai Serayu. Photo by flickr.com

Berhubung sedang kuliah di Bandung, sepulang dari berlibur di Jogja pasca lebaran kemarin, saya tidak lagi melewati jalur utara rute Jogja – Jakarta seperti biasanya, melainkan melalui jalur selatan melewati Banjar – Ciamis – Tasikmalaya. Norak tentu saja karena ini adalah kali pertama saya menyaksikan lukisan Tuhan di sepanjang rute Jogja – Bandung yang ternyata sangat-sangat-jauh-lebih menakjubkan! Sampai-sampai saya tak segan-segan tiada henti melongok ke jendela sebelah kanan, membuat si empunya kursi menjadi tidak nyaman, karena jendelanya saya lihatin mulu. :mrgreen: Secara lukisan-lukisan Tuhan yang indah itu kebanyakan dipajang di sisi sebelah kanan dan saya kebagian duduknya di sisi kiri. Saya bahkan dengan gagah berani rela berdiri di ujung gerbong, dekat sambungan kereta demi bisa mendapatkan koleksi fotonya. Jadi, sudah tahu kan sekarang mesti duduk dimana kalau pesan tiket kereta rute Bandung – Jogja?! :lol:

Selepas Banjar, hawa dingin mulai berebutan memenuhi ruang gerbong kereta karena kini kereta mulai melaju di dataran tinggi, menembus perbukitan, melintasi pegunungan. Stasiun-stasiun yang dilalui kini rata-rata berada di ketinggian diatas 600 mdpl. Laju kereta pun mulai melambat, karena jalur yang dilewati berkelok-kelok, dimana saya bisa melihat kepala lokomotif dari jendela kursi saya yang berada di gerbong tengah.

Lembah yang luas serta hamparan sawah berlatar-belakang rangkaian pegunungan mendominasi di sepanjang jalan. Sedikit banyak mengingatkan saya akan keindahan Bedugul, Bali. Satu lagi yang melengkapi sensasi nikmatnya perjalanan ini adalah ketika kereta membelah Sungai Citanduy, melintasi Jembatan Cirahong nan unik. Yaa, jembatan ini unik karena satu jembatan digunakan oleh kereta api dan kendaraan bermotor sekaligus, secara paralel. Jadi bagian atas jembatan merupakan jalur kereta, sedangkan kendaraan bermotor melintas di bawahnya. Penasaran gak sih?! Seperti apa yaa kira-kira sensasinya kalau melintasi jembatan ini dengan roda dua berbarengan dengan kereta api yang sedang melaju di atasnya? :roll: Memacu adrenalin banget dehh pastinya :shock:

Jembatan Cirahong. Photo by efenerr.wordpress.com

Jalur Kendaraan Bermotor di Jembatan Cirahong. Photo by efenerr.wordpress.com

Meskipun saya lebih senang melakukan perjalanan dengan kereta api di pagi hari, seringkali ketika berangkat, saya ‘terpaksa’ memilih waktu di malam hari sepulang ngantor karena alasan efisiensi waktu dan terbatasnya hari libur. Karena berangkatnya di waktu yang ‘tanggung’ sampai di tujuan pun jadinya di waktu yang ‘tanggung’ pula. Pernah suatu kali, waktu saya dan Mas Bayu ke Purwokerto, kami masih saja terlelap ketika kereta telah sampai di stasiunnya pukul satu dini hari. Kalau bukan karena suara penjual getuk goreng yang membangunkan kami, pasti bablas sampai Kutoarjo dehh. :mrgreen: Kalau ke Jogja, biasanya kami akan tiba di Stasiun Tugu sekitar pukul lima pagi, ketika langit jingga mulai tampak di kejauhan, dari balik barisan pepohonan. Sambil menunggu motor sewaan yang baru akan diantarkan jam sembilan, kami akan berjalan kaki mencari penginapan di sekitar stasiun atau tidur di bangku stasiun sampai jam sembilan. Kalau ke Bandung, saya pernah menunggu Mas Bayu ngambil motor sewaan, duduk sendiri di bangku stasiun menikmati live music sampai mereka pada bubar dan stasiun menyepi. Meskipun kadang terasa membosankan, tapi ketika sudah berlalu, hal-hal seperti ini justru menjadi salah satu bagian yang saya rindukan dari perjalanan. ;)

Seperti sudah menjadi sebuah kebiasaan, karena sejumlah pertimbangan dan alasan, ketika berangkat kami akan memilih menggunakan kereta bisnis dan pulang dengan kereta eksekutif. Intinya, yaa, bersenang-senang dahulu, senang kuadrat kemudian. :mrgreen: Kereta bisnis sekarang ini sudah lebih nyaman karena adanya larangan merokok di gerbong kereta dan tak ada lagi penumpang yang bergelimpang di lorong gerbong. Pengemis yang mencari uang dengan menyapu lorong kereta juga sudah tidak lagi saya temukan.

Pedagang keliling yang langsung menyerbu ketika kereta tiba di stasiun-stasiun besar masih tetap ada walaupun telah dilarang, sehingga tak jarang mereka kena usir petugas. Menurut saya, sih, keberadaan mereka bukan masalah selama tidak mengganggu dan tidak memaksa. Malah enak, kan, penumpang jadi gak kelaparan secara buat sebagian orang rasa masakan di kereta itu tidak sesuai selera, sehingga memilih mie seduh sebagai pelarian. Saya banget dehh. :mrgreen: Cara pengucapan merek saat mereka menjajakan dagangannya itu kocak banget. Bikin saya tertawa geli waktu kali pertama mendengarnya. Misalnya yaa, mereka menyebut ‘Mizone’ dengan ‘mijon’, ‘Energen’ menjadi ‘enegren’. Lalu sempat juga saya tertipu ketika mereka menyebutkan mie ayam baso yang ternyata maksudnya Pop Mie rasa ayam dan baso. Bwahhaha..

Sedangkan bedanya petugas penjual makanan resmi di kereta bisnis dan eksekutif, kalau di kereta eksekutif, mbak-mbak cantik akan dengan anggun menghampiri satu per satu kursi penumpang untuk menanyakan dan mencatat pesanan. Yang mengantarkan pesanannya pun mas-mas berdasi rapi. Kalau di kereta bisnis, petugas penjual akan membawa apa saja makanan dan minuman yang tersedia di dapur kereta, untuk dijajakan di sepanjang gerbong, tanpa harus kita memesan terlebih dulu.  Jadinya yaa 11-12 gitu dehh dengan pedagang keliling yang diusir petugas. Sama berisiknya, cuma yang resmi, berisiknya lebih mahal. :-P

Note :

Ada banyak cerita yang bisa kita dapatkan dari gerbong kereta. Kalau sama sekali belum pernah, sesekali cobalah. Meskipun ketika sampai tak ada ide, selanjutnya akan kemana, sekedar menikmati perjalanannya lalu kembali pulang pun saya kira tak kan ada ruginya. :wink:

Advertisements