Tags

, , , , , , , ,

Titik balik itu terjadi karena satu peristiwa di suatu pagi yang tidak berenergi, namun begitu berarti hingga ingatannya selalu melekat-terpatri. Waktu itu Hari Selasa, sekitar pukul setengah sembilan. Sepagi itu saya dan Mas Bayu sudah berada di kawasan Kaliurang. Kami memang berencana untuk menyambangi satu per satu objek wisata yang ada disana. Sengaja memulainya sepagi mungkin agar sempat menjelajahi tiap inchinya tanpa ada yang terlewat. Petugas kebersihan masih terlihat sibuk menyapu halaman kotor. Halaman parkirnya baru terisi oleh empat buah motor. Saya melihat salah dua pengunjung terakhir, yang tiba sebelum saya, terlihat ragu-ragu beranjak mendekati loket masuk. Kalau masing-masing motor itu sepasang pengendaranya, berarti baru ada delapan orang yang memasuki hutan. Tlogo Nirmolo baru saja buka.

Pagi itu saya menjelma seorang penakut yang surut pada misteri kabut. Entah bagaimana bukit di hadapan saya terlihat begitu misterius. Bak beraura mistis. Semakin ragulah langkah kaki saya untuk menjelajahinya. Di depan loket masuk Tlogo Nirmolo itu saya menemukan diri saya yang pengecut. Hanya karena melihat foto-foto isi Tlogo Nirmolo, yang dipajang di kaca loket, saya mengurungkan niat bertualang. Membiarkan upaya bangun pagi saya sia-sia terbuang.

Mungkin tulisan saya ini terbaca lebay yaa?! Apa sih yang ditakutin? Kaliurang cuma gitu doang kok! :mrgreen:

Secara saya adalah warga kota yang terbiasa dijejali keramaian dari Mal ke Mal pada hampir setiap waktu luangnya, sepi bisa menjelma menjadi momok tersendiri. Entah bagaimana saya jadi merinding membayangkan akan melintasi Goa Jepang di kesunyian. Saya ngeri membayangkan barangkali masih ada tulang-belulang sisa-sisa perang di dalam Goa Jepang (baca: hantu gentayangan). Hhehe..

Tentu ini lucu. Sangat lucu! Saya saja sering tertawa sendiri saat mengingatnya lagi. Lalu menyesal bertubi-tubi. Betapa ketakutan yang tidak masuk akal itu sangat merugikan. Memang benar kata Trinity, “Worrying gets you nowhere!”. Dan kesempatan itu belum tentu datang lagi, karena sampai hari ini saya belum pernah menginjakkan kaki lagi, yang kedua kali, di Kaliurang. Padahal sudah beberapa kali kembali ke Jogja. Tapi entah kenapa, gak pernah cocok aja waktu dan agenda liburannya.

Tapi itu dulu, ketika saya masih cupu -culun punya-. Sejak itu, saya tak pernah lagi mengijinkan ketakutan membatasi langkah kaki saya menjamah dunia. Tak boleh lagi rasa takut membuat saya surut. Saya mulai menantang diri saya untuk menaklukkan rasa takut. Mengikisnya selapis demi selapis. Tidak benar-benar hilang tentu saja. Rasa takut itu tetap ada, hanya saja saya mulai bisa dan terbiasa mengabaikannya.

Seperti ketika saya berwisata ke Curug Seribu yang non touristy dan sepi pengunjung. Bahkan baru saja ditutup untuk umum karena Curug Seribu baru saja menelan korban. Empat wisatawan dinyatakan hilang lalu ditemukan tewas tenggelam, terseret arus. Bukan hanya debit airnya saja yang berbahaya karena bisa berubah menjadi air bah seketika tatkala turun hujan. Tapi juga aksesnya yang sangat tidak layak sebagai objek wisata: jalan setapak berbatu nan sempit, licin berlumut lagi rawan longsor, berundak-undak dengan tingkat kemiringan yang sinting, dimana salah satu sisi jalannya adalah jurang tanpa pagar pengaman. Berjarak satu kilometer jauhnya dari pintu masuk.

Police Line : Dilarang Melintas!

Meskipun police lice jelas-jelas membentang, palang sengaja di-melintang-kan untuk menghalau jalan, dan papan pengumuman tegas bertuliskan: β€˜Untuk sementara lokasi wisata Curug Seribu di tutup untuk umum’, itu semua saya abaikan demi satu pembuktian: langkah kaki saya tak akan pernah lagi surut karena rasa takut! Cieee.. πŸ˜†

Efeknya, keberanian saya melambung tinggi sejak saat itu. Bukan lagi masalah jika saya harus traveling sendiri. Karena semakin kesini, saya semakin haus akan penaklukkan, ingin mencoba berbagai hal baru yang dulu saya anggap ‘tabu’. Dan sepertinya saya mulai tidak takut lagi pada hantu. :mrgreen: Karena sangat penasaran, baru-baru ini saya bahkan merencanakan mengikuti tur hantu ‘Urban-Dung Legend’ di Bandung. Mumpung sedang menetap di Bandung πŸ˜† Sepi tak lagi berasa sunyi. Karena semakin sering mencumbui alam, semakin saya mengerti bahwa alam pun berbahasa. Saya bisa mendengar mereka berkata-kata, menyapa, dan bernyanyi untuk saya. Dan saya sangat menikmatinya. πŸ˜€

Bersenang – senang di Jogja. Sendirian!!

Menjumpai Dewa Bejo : Caving Goa Gelatik

***

Awalnya hanya saya niatkan untuk berbagi tulisan perjalanan, sambil mengisi waktu luang agar tidak sia-sia terbuang, maka saya mulai menuangkan cerita perjalanan saya di blog ini. Tak disangka, ternyata blog saya cukup lumayan pengunjungnya. Kebanyakan mereka, datang karena referensi dari om gugel. Huahhh.. Saya sungguh senang tak berbilang. Tulisan saya ternyata bisa dijadikan sebagai referensi wisata dan ada manfaatnya. Semakin hari, semakin ramai pengunjungnya, semakin semangatlah saya untuk terus berbagi catatan perjalanan.

Hingga suatu ketika saya tergoda menyertakan salah satu tulisan saya untuk mengikuti kontes menulis yang sedang menjamur di dunia maya. Bukan kebetulan kalau kontes yang saya ikuti bertema pas dengan tema blog saya: Kompasiana-Opera Travel Blog Competition. Saya memang sangat tertarik mengikuti kontes menulis bertema pariwisata, atau yang ada kaitannya dengan pariwisata, atau yang bisa dikaitkan dengan dunia pariwisata. Karena mengikuti kontes bisa membantu saya dalam melihat kualitas tulisan saya.

Tak disangka tulisan saya terpilih sebagai pemenang ketiga. Bahagia tentu saja. Bukan semata karena hadiahnya, melainkan sebuah kebanggaan karena tulisan saya dinilai berkualitas dan layak baca oleh media berkelas: Kompasiana dan Opera Indonesia. Betapa berjuta pintu kesempatan itu akan terbuka lebar tatkala kita mampu mengesampingkan rasa takut, yaa?! πŸ˜€ Kini saya semakin terpacu untuk terus berkarya,Β  menghasilkan tulisan berkualitas yang bermanfaat bagi pembacanya. Saya bahkan kini berani bermimpi untuk suatu saat kelak mengikuti jejak Trinity, dari travel blogger menjadi travel writter. πŸ˜‰

Advertisements