Tags

, , ,

Meskipun terbilang cukup sering bolak-balik Jakarta – Bandung dan kini hampir sebulan lamanya menetap disana, tetap saja jalan raya di Kota Bandung masih suka membuat saya bingung. Apalagi kalau mesti ber-angkot ria kemana-mana. Rempong dehh jadinya. :mrgreen: Trayek angkot di Kota Bandung itu sungguh membingungkan. Ketika pulang belum tentu melewati jalan yang sama dengan ketika datang, secara jalan raya di Kota Bandung itu banyak yang searah. Jarak yang hanya 500 meter bisa saja ditempuh dengan dua kali naik angkot. Kalau jalan kaki, males capenya. Naik angkot, baru duduk udah turun lagi. Rempong kann?! πŸ˜†

***

Jadi ceritanya, waktu awal-awal saya ngekos di Bandung, mama dan adik saya datang berkunjung menjenguk saya. Tiga hari lamanya rencana mereka menginap di kosan saya. Tiga hari kalau hanya dihabiskan mendekam di dalam kosan tentulah akan membuat mereka bosan. Maka saya nekat saja mengajak mereka main ke Tangkuban Perahu meskipun saya tidak tahu mesti naik angkot apa saja untuk bisa sampai kesana.

Bagaimana repotnya tentu sudah bisa terbaca-lah yaa?! Beberapa kali salah naik angkot, bahkan sampai dipalakin abang angkot. He?! Kok bisa?

Angkot yang saya tumpangi, jurusan Lembang – Cikole, trayek normalnya hanya akan melewati pintu masuk Tangkuban Perahu. Mungkin berhubung penumpangnya hanya kami, si abang angkot menawarkan untuk mengantar sampai ke tujuan, ke Kawah Ratu. Tentu saja saya tidak keberatan. Dari pada bingung lagi, dari pintu masuk ke kawah mesti naik apa. Sedikit gambaran bagi yang belum pernah ke Tangkuban Perahu, jarak dari pintu masuk menuju objek wisata Kawah Ratu lumayan jauh. Ada kali yaa sekitar 5 Km jaraknya. Jalannya menanjak, berbelok-belok. Dijamin pingsan dehh kalau ditempuh dengan berjalan kaki. :mrgreen:

Saya paham, dimana ada servis ekstra tentu ada biaya tambahannya. Dan hanya dengan intuisi sederhana, saya bisa mereka-reka kira-kira berapa harga wajar yang pantas untuk servis ekstra tersebut. Maka saya merasa tak perlu banyak bertanya, si abang angkot pun diam saja. Begitu sampai di Kawah Ratu, tanpa tedeng aling-aling, si abang angkot minta dibayar 55 ribu per orang. Astaga! Mahal banget kan harga nilai tambahnya?! Angkot yang kalau bertrayek normal, ongkosnya hanya 3 ribu rupiah, masa hanya nambah 5 Km lagi, tarifnya naik berpuluh kali lipat dari ongkos normal. Mending yaa kalau itu sudah termasuk tiket masuk. Apa coba namanya kalau bukan pemalakan?!

Dengan berdalih angkotnya tadi sepi, si abang ngotot minta dibayar 55 ribu per orang. Ihh.., angkotnya sepi kan salah dia sendiri! Nggak mau bersabar ngetem nungguin penumpang. Rasanya emosi saya membuncah sampai ke ujung kepala. Kalau bukan di tempat wisata, pasti udah saya kasih bogem mentah dehh dari tadi. Bwahhaha.. Kayak berani aja πŸ˜›

Setelah sedikit berdebat tanpa adu urat, akhirnya saya sepakat membayar 30 ribu per orang. Meskipun sebenarnya saya masih gak rela dipalak seenaknya. Tapi yaa sudahlah.Β  Barangkali itu satu bentuk teguran karena saya kurang beramal :mrgreen:

Advertisements