Tags

, , , , , ,

Ada kali sekitar lebih dari 15 menit saya mengamati ban berjalan bagasi di bandara, menanti satu lagi barang bawaan saya yang belum juga kunjung tiba. Satu kardus oleh-oleh melintas di depan saya. Sama persis dengan kardus milik saya, bedanya punya saya ada namanya. Saya tunggu sampai bete, yang nongol tetap kardus yang itu-itu saja. Dan ternyata hanya tinggal kardus itu satu-satunya bagasi yang tersisa. Penasaran saya ambil juga kardus satu itu. Barangkali nama yang saya buat terhapus. Saya cocokan nomor bagasinya. Ternyata memang bukan milik saya. Pasti tertukar.

Saya yang hanya tinggal sendirian di depan ban berjalan, dihampiri petugas bandara pengecek nomor bagasi. Ditanya apa barang bawaan saya ada yang masih kurang. Saya jelaskan ini itu ke si petugas. Lalu saya diantar ke kantor. Diminta menunjukkan boarding pass. Ditanya tentang kapasitas dan isi kardus. Diminta menuliskan alamat rumah lengkap. Jadilah selembar kertas report, tanda terima bagasi yang tertukar.

Di sudut lain kantor, saya perhatikan petugas bandara yang lain sibuk melacak keberadaan pemilik kardus (yang ada di saya) dari nomor bagasinya via telepon. Berhubung akan sangat memakan waktu kalau ditunggu, saya dipersilakan untuk pulang. Nanti barang yang tertukar akan diantarkan langsung ke rumah.

Jam sebelas malam hari itu juga saya ditelpon petugas bandara, diberi tahu kalau barang saya sudah ada dan akan diantar malam itu juga. Ha!! Yang bener aja! Masa saya mesti ngeronda nungguin oleh-oleh yang tertukar. ๐Ÿ˜ฎ

Siang keesokan harinya saya sudah menerima barang saya yang tertukar. Masih utuh dan lengkap. Tanpa biaya administrasi maupun secangkir kopi. hhehe.. Sudah saya tawarin lho, tapi ditolak. Ya apa boleh buat :mrgreen:

Begitulah. Kelalaian petugas bandara sangat mungkin terjadi. Secara waktu itu sudah malam, konsentrasi makin menipis. Barangkali karena lelah jadi kurang teliti. Syukur barangย  saya yang tertukar bisa kembali. Banyak lho kasus serupa yang gak ada kejelasan penyelesaian dan tindak lanjutnya.

Antisipasinya, lain kali saya mesti menandai barang-barang bawaan saya secara lebih mencolok. Tidak cukup kalau hanya diberi nama saja. Disampul kado untuk barang bawaan berupa kardus misalnya. Kalau travel bag bisa diberi pita berwarna ngejreng atau gantungan kunci segede babon. Digantungin boneka beruang juga boleh :mrgreen:

Entah bagaimana prosedurnya kalau di maskapai penerbangan lain, yang baru saja saya ceritakan adalah pengalaman ketika saya menggunakan jasa Garuda Indonesia. Semoga bermanfaat ๐Ÿ˜€

Note: Gambar diambil dari sini

Advertisements