Tags

, , , , , , , , , , , , , ,

Sudah pernah liburan ke Jogja? Ke mana? Seputar Jalan Malioboro pastinya pernahlah ya?! Ke mana lagi? Parangtritis? Prambanan? Kaliurang? Kemungkinan besar juga sudah. Kalau Gunung Kidul? Hmmn? Hmmn? πŸ™„

Pernah suatu kali teman saya bercerita kalau dia sering sekali berlibur ke Jogja. Hampir setiap tahun. Waktu saya tanya sudah ke mana saja di Jogja dan apa destinasi favoritnya, dia pun menjawab hanya menyusuri Jalan Malioboro. Sisanya berbecak mengunjungi Keraton, Beringin Kembar, pusat kerajinan perak, dan pusat penjualan kaos dagadu. Dalam hati saya menggumam: β€œHadeh, males banget deh. Bolak-balik ke Jogja cuma ke Malioboro dan hanya melulu di Malioboro?!”.

Mungkin bagi teman saya yang sangat doyan belanja itu, Malioboro adalah liburannya. Beda dengan saya yang orientasinya wisata alam, belanja dan membeli oleh-oleh saat traveling adalah urusan paling belakang. Ummn.. Baiklah, mari kita maklumi saja teman saya yang satu itu.

Intinya saya ingin bilang, kalau kalian pecinta alam dan sering bolak-balik ke Jogja, sesekali mampirlah ke Gunung Kidul. Jogja nggak cuma punya Parangtritis saja. Ada belasan (mungkin lebih) pantai β€˜mewah’ nan cantik menghampar di sepanjang pesisir Gunung Kidul. Dan tiap pantai itu memiliki pesona khasnya masing-masing meskipun beberapa pantai letaknya saling berdekatan. Sejauh ini, sih, saya mencatat terdapat empat belas pantai di sepanjang pesisir Gunung Kidul. Saya menyambangi empat di antaranya enam bulan lalu, dan berniat menyambangi sisanya long weekend Maret ini.

***

Pagi-pagi sekali hari itu kami sudah menggilas jalanan Kota Jogja dengan roda dua. Di saat orang lain tergesa dengan aktivitas Senin paginya menuju kantor dan sekolah, kami justru sibuk menikmati liburan kami. :mrgreen: Adalah sebuah sensasi yang menyenangkan ketika kami melintasi sawah, lalu berselisih jalan dengan anak-anak sekolah bersepeda. Pemandangan yang sudah sangat jarang saya temukan di Jakarta.

Tak lupa saya mencuri pandang ke arah bukit-bukit yang masih bersembunyi di balik kabut. Menghirup segarnya pagi. Bermandi mentari sepuasnya. Lalu melipir sejenak di jembatan besar (apa ya namanya? saya tidak tahu) menuju Parangtritis yang masih lengang, untuk ber-narsis-ria. Ya, perjalanan kami menuju Gunung Kidul kami tempuh melalui Bantul.

Menyusuri Gunung Kidul adalah perjalanan melewati barisan perbukitan meliuk-liuk nan lengang dengan tanjakan dan turunannya yang menyenangkan. Sepi sekali. Kami berasa sendiri. Namun sepi itu terasa semarak oleh riuh orkestra alam: deru angin menggesek dedaunan dan dahan-ranting pepohonan. Tidak jarang saya merentangkan kedua tangan demi merasakan sensasi melayang bersama angin. Inilah nikmatnya bertamasya dengan roda dua: mencumbui alam tanpa sekat. πŸ˜€

Kanan-kiri jalan yang kami lalui kadang berupa jajaran bukit kapur, kadang tebing-tebing menjulang, kadang lembah, kadang sawah, kadang ladang, dan seringkali pepohonan meranggas yang hanya tinggal dahan-rantingnya saja. Di banyak titik, Gunung Kidul memang terlihat gersang. Kekeringan yang selalu melanda wilayah ini di kala kemarau membuat warganya kesulitan dalam memperoleh air bersih.

Tidak jarang kami menjumpai warga lokal yang berjalan kaki sambil memanggul dirijen berisi air bersih. Entah seberapa jauh mereka harus melangkah untuk bisa mendapatkan air bersih. Sebuah potret hidup ketimpangan pembangunan di negeri ini. Dengan hanya memperhatikan deretan rumah di sepanjang Gunung Kidul, kita akan langsung bisa menyimpulkan kalau Gunung Kidul merupakan daerah tertinggal yang lekat dengan kemiskinan.

Meskipun miskin akan air tawar, di sisi lain Gunung Kidul justru kaya akan pesona air asinnya. Belasan jumlahnya pantai-pantai indah nan ‘mewah’ di sepanjang dataran ini. Mewah bukan dalam artian tiket masuknya yang mahal. Melainkan kealamian pantai-pantainya yang masih terjaga. Bahkan kemewahan itu bisa kita nikmati secara cuma-cuma, gratis tanpa tiket masuk. Paling-paling hanya akan dipungut biaya parkir yang tarifnya juga sangat murah. Memang sepertinya objek wisata yang sangat potensial ini belum mendapat perhatian serius pemda dan dinas pariwisata setempat. Fasilitas standar seperti parkir dan toiletnya sajaΒ  masih dikelola oleh warga lokal.

Pantai-pantai ini memang menjadi berkah tersendiri bagi sebagian warga Gunung Kidul. Banyak di antara mereka yang mencoba mengais rezeki di pesisirnya dengan mendirikan rumah makan dan toilet umum, mengelola lahan parkir, hingga menjajakan souvenir. Sayangnya jumlah pengunjung yang datang tak sebanding dengan fasilitas yang tersedia. Entah mungkin karena waktu itu hari Senin sehingga pantai menjadi sepi pengunjung.

***

Pantai Baron

Pantai Baron menjadi pantai pertama yang kami singgahi: pantai sempit berpasir cokelat yang diapit bukit di sisi kiri-kanannya. Di bibir pantainya tertata manis deretan perahu-perahu biru nelayan. Sepengamatan saya, Pantai Baron termasuk pantai yang paling banyak rumah makannya dibanding pantai-pantai lain di Gunung Kidul. Mungkin karena terdapat tempat pelelangan ikan di pantai ini, sehingga bagi pengunjung penyuka seafood bisa langsung dimanjakan lidahnya oleh hidangan laut yang masih segar.

Di sisi kiri pantai ini terdapat jalan setapak menanjak menuju puncak bukit. Saran saya, jelajahilah jalan setapak itu kalau tidak mau menyesal seperti kami. Kenapa? Karena setelah kepulangan kami dari Gunung Kidul, Mamas menemukan link berisi foto-foto keindahan Pantai Baron dari atas bukit. Pertimbangannya waktu itu, kami ingin menghemat waktu supaya bisa lebih banyak lagi pantai di Gunung Kidul yang bisa kami singgahi. Selain jalannya yang lumayan curam, waktu itu kami memprediksi kalau pemandangan dari atas bukit tidak akan jauh berbeda dengan yang kami lihat dari pesisir. Ternyata, kami menyesal sangat di kemudian hari. πŸ˜₯

Pantai Kukup

Pantai Kukup menghampar tak jauh dari Pantai Baron. Meski lokasinya berdekatan, tapi kedua pantai ini memiliki karakter yang sangat berbeda. Pantai Kukup memiliki bentang pasir putih yang sangat luas. Di sepanjang pesisirnya menyembul batu-batu karang besar, juga gua karang.

Di antara ke empat pantai yang kami singgahi, Pantai Kukup merupakan salah satu yang terfavorit. Ada satu pulau karang di pantai ini yang dibuatkan aksesnya melalui tangga dan jembatan di atas pantai yang sangat memadai. Bukan jalan setapak seperti di Pantai Baron. Di pulauΒ  karang itu terdapat gazebo tempat kita bisa dengan leluasa memandang ke seluruh penjuru pantai. Debur ombak yang berdentam-dentam menghantam pulau karang akan menjadi sensasi tersendiri. Bikin ngeri mendebarkan tapi juga sekaligus menyenangkan. πŸ˜€

Pantai Siung

Selanjutnya kami beranjak ke Pantai Siung dan Pantai Wediombo. Meski letak kedua pantai ini cukup jauh dari Pantai Kukup, namun ketiganya memiliki karakter yang hampir serupa. Bentang pasir putih nan luas. Batu-batu karang besar di pesisir. Dan hamparan karang-karang ‘datar’ tergenang ombak di bibir pantai. Di tiap ceruk karang-karang itu tersembunyi beraneka biota laut yang lucu menggemaskan tapi juga menakutkan. :mrgreen:

Ini pasti gara-gara papan peringatan di pinggir pantai yang mewanti-wanti agar kami berhati-hati dengan biota laut. Kami jadi agak grogi sewaktu mengeksplorasi hamparan karang. Niatnya, sih, ingin hunting foto-foto kece. Semakin menjauh dari bibir pantai, ternyata biota lautnya semakin kaya. Kami yang menyusuri hamparan karang tanpa alas kaki pun jadi semakin grogi hingga memutuskan kembali ke pesisir untuk mengambil sendal.

Dalam perjalanan ke pantai, entah bagaimana Mamas terpeleset! Saya, sih, curiga ini ada hubungannya dengan keberadaan bulu babi yang ‘menakut-nakuti’ kami πŸ˜† . Kamera yang dipegangnya meluncur membentur karang, lalu tergenang air laut. Fatal yang membuat rusak total. Pupuslah seketika keinginan untuk bisa memiliki foto-foto kece di Pantai Siung. πŸ˜₯

Pantai Siung juga memiliki bentang tebing karang yang cantik. Konon pesona tebing-tebing karang ini sudah tersiar hingga ke berbagai penjuru benua Asia. Tiap tahunnya, pemanjat tebing baik lokal maupun mancanegara mendatangi pantai ini untuk menaklukan tebing-tebing karangnya yang hingga saat ini telah memiliki 250 jalur panjat tebing.

Keistimewaan lainnya, di banyak sudut, hamparan karang Pantai Siung ditumbuhi oleh rumput laut. Hanya saja, rumput laut yang ini bukan rumput laut seperti yang biasa dijadikan campuran es buah. Oleh warga lokal, rumput laut ini biasa dimasak menjadi sayur. Rasanya? Entahlah. Saya hanya nyicip mentahnya. Petik langsung makan :mrgreen: .

Hamparan rumput laut di Pantai Siung

Pantai Wediombo

Bila Pantai Siung tersohor akan jalur panjat tebingnya, Pantai Wediombo pun terkenal karena arena memancingnya: di atas bukit karang, berhadapan langsung dengan laut lepas! Aksesnya dicapai dengan menyusuri bibir pantai, naik turun batu karang terjal yang dihempas ombak. Menyenangkan sepertinya. Ekstrim dan menantang.

Mengingat letaknya yang menghadap barat, kabarnya Pantai Wediombo memiliki penampakan matahari terbenam yang sangat indah. Tapi, berhubung takut kemalaman di jalan, sore menjelang senja kami sudah meninggalkan Wediombo. Tak sempat menikmati mentari senja. Ngeri secara Gunung Kidul di siang hari saja sangat sepi. Apalagi malam hari. Mana lagi sepanjang jalan minim penerangan dan kami mesti melewati deretan tebing-tebing menjulang. Khawatir kalau-kalau ban bocor atau motor ngambek di tengah gelap gulita malam. πŸ˜•

Dari Wediombo kami memilih jalan pulang melalui Wonosari, ibukota Gunung Kidul. Jalur yang lebih terang dan lebih ramai. Mendekati kota Jogja, tanpa sengaja kami ‘menemukan’ Bukit Bintang. Tempat di mana kita bisa menikmati bentang Kota Jogja yang bertabur cahaya lampu kota di malam hari. Di sana banyak terdapat rumah makan a.k.a tempat nongkrong yang sengaja dibangun menjorok ke lembah seperti halnya di Puncak – Bogor atau di Bukit Moko – Bandung. Bentang Kota Jogja yang seakan menyatu dengan langit malamnya membuat gemerlap lampu kota nampak seperti taburan gemintang di angkasa malam. Asyik ya?! Seharian menikmati pesona pantai di Gunung Kidul, malamnya masih disuguhi gemerlap ‘gemintang’ Bukit Bintang. πŸ˜†

Advertisements