Tags

, , , , , , , , , ,

Setelah hampir seharian menggoda nyali di jalur menantangnya Curug Seribu, kami masih menyempatkan diri untuk mampir ke Curug Cigamea, melakukan ‘pendinginan’ sebelum pulang. Tadinya, sih, mau langsung pulang saja karena badan sudah berasa banget rontoknya. Hujan pun enggan berhenti sedari siang tadi. Tapi berhubung ada pengunjung yang ngasih tau kami kalau akses ke Curug Cigamea itu mudah, jadilah kami sambangi juga curug satu itu. Mumpung masih di Bogor πŸ˜†

Sebenarnya Curug Cigamea ini lokasinya paling dekat dengan pintu masuk belakang kawasan wisata Gunung Salak Endah (GSE). Hanya berjarak (sekitar) dua kilometer. Dari jalan raya utama sudah langsung terlihat pintu masuknya. Nggak perlu susah-payah jalan jauh seperti waktu ke Curug Seribu.

Sangat berbeda dengan Curug Seribu, Curug Cigamea ini sudah touristy sekali. Akses jalan mulai dari pintu masuk sampai ke curug sudah dipercantik dan dilengkapi dengan pagar pembatas. Hanya 400 meter jaraknya curug dari pintu masuk. Meskipun jalannya berundak-undak dan cukup tinggi tiap undakannya, tapi nggak akan berasa capek deh. Deretan bukit yang memenuhi pemandangan di sepanjang jalan lumayan ampuh untuk mengalihkan perhatian.

Ada dua air terjun utama di kawasan Curug Cigamea ini; masing-masing memiliki karakter dan pesona tersendiri. Air terjun pertama memiliki debit air yang lebih kecil. Tercurah menyebar di sepanjang tebing batu hitam. Menikmati air terjun yang ini, sih, asyiknya sambil berdiri di bawah curahannya yang terasa seperti rintik hujan. Dan memang nggak memungkinkan juga buat berenang karena nggak ada kolam memadai di bawah curahannya.

Curug Cigamea Pertama

Air terjun kedua memiliki karakter yang hampir mirip dengan Curug Seribu. Tercurah dari sela-sela tebing diantara tetumbuhan. Meskipun nggak setinggi Curug Seribu, tapi curug kedua ini sebenarnya cukup tinggi juga. Ketinggian sebenarnya dari curug ini nggak akan terlihat dari bawah, karena pandangan terhalang oleh rimbunnya pepohonan. Jadi ketinggian curug yang terlihat hanya (kurang lebih) setengahnya saja. Sebelum menuruni undakan lebih jauh dari pintu masuk, coba deh perhatikan sisi kiri tebing di depan, maka akan terlihat rupa ketinggian curug yang sebenarnya.

Curug Cigamea Dari Atas Tebing

Nah, kalau mau berenang ya di kolam air terjun yang kedua ini. Debit air dan kolam limpahannya terlihat lebih bersahabat ketimbang Curug Seribu. Tapi mesti tetap waspada ya. Sebab debit air saat hujan bisa melonjak seketika. Seperti yang kami alami sendiri waktu itu. Air terjun yang tenang tau-tau meradang. Bikin kocar-kacir kami yang lagi asyik foto-foto di bebatuan sungainya; antara terkejut bercampur takut.

Aliran Sungai Curug Cigamea

Coba perhatikan perubahan debit air terjun di foto berikut :

Sesaat Sebelum Debit Air Melonjak

Debit Air Melonjak Drastis

Makin Meradang

Drastis banget, kan?! Bayangkan fenomena serupa di Curug Seribu. Bayangin gimana dahsyat perubahan debit airnya. Ngeri! Jadi nggak heran lagi kenapa Curug Seribu bisa sampai menelan korban.

Advertisements