Tags

, , , , ,

Hujan yang mereda dan langit yang bersalin rupa menjadi penanda jumpa pertama kami dengan Amed, sebuah wilayah di timur Bali yang memesona karena keindahan bawah lautnya. Dua jam berkendara dengan roda dua di bawah linangan air hujan membuat lapar kami datang lebih cepat. Mengenyangkan perut pun segera menjadi agenda utama, selepas menemukan penginapan.

Tidaklah sulit mencari tempat makan di Kawasan Amed. Sejumlah cafe dan resto tumbuh subur menjamuri tepi jalan utamanya. Tapi menemukan menu makanan yang sesuai dengan selera dan isi kantong memang sedikit membutuhkan usaha. Untuk alasan itu, kami putuskan untuk menyusuri Kawasan Amed lebih dulu. Sekalian cuci mata. :mrgreen:

Dari penginapan kami menyusuri jalan sampai ke Desa Bunutan, kemudian putar balik ke arah Desa Culik. Pantulan cahaya dari rumah makan dan penginapan silih berganti menerangi perjalanan kami, hingga tiba saatnya mata saya berserobok dengan papan bertuliskan ‘Warung Makan Balinese Food’. Saya telusuri sekelebat daftar menu yang tertera.

“Ayang, kita makan disini aja”, seru saya pada Mas Bayu.

Seperti tempat makan berlabel warung pada umumnya, Warung Makan Balinese Food tidaklah besar. Ruang makannya hanya terisi empat meja yang bisa menampung tak lebih dari dua puluh orang pengunjung. Sewaktu kami tiba, hanya terlihat sepasang turis asing yang tengah asyik bercengkerama. Tanpa perlu menunggu lama, menu pesanan kami pun segera terhidang di atas meja.

Berhubung terasa begitu akrab di telinga, saya pun memilih menu Tipat Tahu lantaran penasaran ingin membandingkan rasanya dengan Kupat Tahu yang biasa saya temukan di sekitar kosan. Secara harfiah, keduanya sama-sama bernama Ketupat Tahu. Yang satu ala Bali, satunya lagi ala Bandung.

Seperti halnya Kupat Tahu, Tipat Tahu terdiri atas potongan ketupat dan tahu goreng, serta rebusan tauge. Hanya spring roll yang terdapat dalam Tipat Tahu yang membedakan isi dari keduanya. Namun dari segi komposisi bumbu, keduanya tidaklah sama. Bumbu Tipat Tahu lebih kental, serupa dengan bumbu Sate Madura, dimana tingkat kepedasannya ditentukan oleh banyaknya potongan cabai rawit yang disembunyikan dalam campuran bumbu. Sedangkan bumbu Kupat Tahu sedikit lebih encer, dimana bulir-bulir kacang bisa dengan mudah terdeteksi lidah lantaran tidak tergerus dengan sempurna. Bila menginginkan rasa yang lebih pedas, bukan potongan cabai rawit solusinya. Melainkan dengan mencampur sambal cabai rawit matang ke dalam bumbu.

Dalam hal penyajian, keduanya pun berbeda penampilan. Bumbu kacang pada Kupat Tahu dilumuri paling akhir, setelah potongan ketupat, tahu, dan tauge ditata dalam piring. Sedangkan pada Tipat Tahu, bumbu diracik lebih dulu, baru kemudian dilengkapi dengan isinya. Dengan penyajian yang seperti ini, saya lebih suka menikmati Tipat Tahu tanpa mengaduk isi dengan bumbunya terlebih dulu. Secara bergantian ketupat, tahu, dan spring roll dicocol ke bumbu dengan garpu, satu per satu. Saat hanya tinggal tauge yang tersisa, barulah saya mengaduk bumbunya. ‘Seni menikmati tipat tahu’, begitu saya menyebutnya. 😉

Sebagai penyuka makanan berbumbu kacang seperti Sate, Ketoprak, Pecel, dan Gado-gado, tidaklah sulit bagi saya untuk terpikat pada Tipat Tahu. Apalagi bumbunya serupa dengan bumbu Sate Madura, jenis bumbu kacang yang paling saya suka.

Mengingat bumbu Tipat Tahu yang serupa dengan Sate Madura, saya jadi bertanya-tanya: adakah hubungannya kuliner satu ini dengan Orang Madura? Mungkinkah Tipat Tahu sebenarnya merupakan hasil kreasi pendatang dari Madura yang menetap di Bali?

Penjelasan yang saya temukan dari hasil browsing tidak memberikan jawaban pasti. Ada yang mengklaim bahwa Tipat Tahu merupakan kuliner khas yang berasal dari Buleleng. Ada juga yang mengatakan bahwa sebagian besar penjual Tipat Tahu berasal dari tanah Jawa, yang barangkali bisa berarti memang ada hubungannya antara Tipat Tahu dengan pendatang dari Madura.

Terlepas siapa yang menciptakannya pertama kali, yang pasti kuliner satu ini cukup mudah ditemukan di seluruh penjuru Bali. Mayoritas penjualnya menjajakan dengan menggunakan gerobak, layaknya penjual Ketoprak. Di Bali bagian selatan dekat Kampus Udayana misalnya, acap saya temukan penjual Tipat Tahu kaki lima. Kalau ingin makan di tempat yang lebih nyaman, bisa juga mendatangi Warung Tipat Tahu Gerenceng di Denpasar yang sudah cukup ternama. Tepatnya di Jalan Sutomo No. 9. Kabarnya warung ini telah ada sejak tahun 1960-an dan menjadi rujukan utama bagi para pemburu Tipat Tahu.

Warung Tipat Tahu Gerenceng (Photo by wisatakuliner.com)

Warung Tipat Tahu Gerenceng (Photo by wisatakuliner.com)

Bila Kupat Tahu identik sebagai menu sarapan dimana penjualnya hanya bisa ditemukan di waktu pagi, tidak ada waktu khusus untuk menikmati Tipat Tahu. Warung Tipat Tahu Gerenceng misalnya, sudah mulai buka sejak pukul 9 pagi hingga pukul 9 malam. Begitupun dengan penjual kaki lima, acap saya temukan di waktu siang maupun malam.

Jam makan malam telah tiba saat Tipat Tahu dalam piring kami tandas tak bersisa. Warung Makan Balinese Food kini berangsur-angsur dipenuhi pengunjung yang sebagian besar turis asing. Seulas senyum terlukis di bibir selepas saya membayar tagihannya. Dua porsi Tipat Tahu, kami tebus hanya dengan selembar uang dua puluh ribu. Hmmn.. Tipat Tahu memang betul sesuai kriteria. Pas dengan selera saya yang penyuka bumbu kacang, pas untuk Mas Bayu yang semi vegetarian, dan pastinya pas juga dengan kantong kami yang sedang melancong dengan gaya backpacker. :mrgreen:

Advertisements