Tags

, , , , , , , , , , ,

Selama ini, tiap kali saya traveling ke luar kota, kalau bukan karena urusan kerjaan, pastilah melulu bersenang-senang, melegakan dahaga akan tempat-tempat berpemandangan surga, atau menikmati bangunan, budaya, dan tradisi yang seringkali kita labeli dengan istilah eksotis. Perjalanan selalu melulu tentang bagaimana memanjakan panca indera dan mengumpulkan foto sebanyak-banyaknya.

Tapi tidak dengan perjalanan saya kali ini. Bersama Sarihusada dalam event bertajuk ‘Jelajah Gizi’, perjalanan kali ini terasa lebih bernuansa dan sarat makna. Pasalnya, selama melipir ke enam pulau di Kepulauan Seribu nanti, kami tidak hanya sekedar plesiran ‘melihat-lihat’ apa yang tampak di ‘permukaan’, tapi juga mencoba melebur-baur bersama warga lokal, mendengar cerita serta banyak belajar dari mereka. Serunya lagi, kali ini saya akan pergi bersama teman-teman blogger yang, entah karena sama-sama blogger atau dasar kita emang asik berat, seperti bertemu teman lama yang tak perlu waktu lama untuk bisa akrab bercengkerama. Lalu ada juga teman-teman wartawan dari berbagai media (cetak dan online) yang akan meliput aktivitas kami selama di jelajah gizi. Besar kemungkinan wajah keren kami akan muncul di berbagai media terbitan minggu ini. :mrgreen:

Petualang Jelajah Gizi

***

“Nanti tidak perlu panik yaa kalau kapal tiba-tiba berhenti di tengah perjalanan, itu berarti baling-baling kapal baru saja terbelit sampah”. Begitu kira-kira pesan Pak Aris, pemandu yang menemani rombongan jelajah gizi selama island hopping di Kepulauan Seribu, seperti ingin mengantisipasi reaksi kami akan fenomena yang pasti akan terjadi selama perjalanan nanti. Dan benar saja, tak lama berselang setelah peringatan dari Pak Aris berkumandang, kapal yang kami tumpangi pun sejenak berhenti berdendang, membuat seisi kapal hanya saling memandang tenang tanpa sedikit pun tersemburat ekspresi tegang. Dan selama satu jam perjalanan dari Marina menuju Pulau Pari, tak kurang dari dua kali, kapal cepat Bidadari Express ini mendadak berhenti.

Pak Aris kemudian menjelaskan kalau kondisi sampah di perairan Teluk Jakarta ini sudah termasuk kategori parah. Pasalnya, Teluk Jakarta merupakan muara bagi 13 aliran sungai dari seluruh penjuru Jakarta, dimana dua sungai diantaranya belum memiliki penyaring sampah yang memadai. “Jadi jangan heran kalau kasur bekas pun bisa sampai meluncur ke Teluk Jakarta”, begitu kata Pak Aris kemudian. Entah benar atau hanya kelakar hiperbola Pak Aris yang ingin menegaskan betapa seriusnya masalah sampah di Teluk Jakarta.

Ganasnya sampah di Teluk Jakarta ini juga sempat membuat resah warga Pulau Pari yang sebagian besar mata pencahariannya sebagai nelayan rumput laut. Sebagaimana yang kemudian saya ketahui, sepulang dari jelajah gizi, sampah dan limbah merupakan musuh utama perkembangbiakan rumput laut. Aktivitas nelayan rumput laut di Pulau Pari bahkan sempat terhenti selama dua tahun lamanya akibat selalu mengalami gagal panen, terimbas limbah yang mengganas.

Banyak dari nelayan ini yang kemudian sempat beralih profesi, melayani wisatawan yang ingin berlibur ke Pulau Pari dengan menyewakan kapal dan peralatan snorkeling, demi tetap bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Ada juga sejumlah warga yang kemudian menyewakan sebagian bangunan tempat tinggalnya untuk dijadikan penginapan. Menurut bapak nelayan, yang saya lupa namanya, yang mengantar kami menanam rumput laut, tarif menginap di Pulau Pari berkisar antara 275 ribu sampai 350 ribu per orang per malam. Tergantung banyaknya anggota rombongan yang datang. Semakin banyak, maka akan semakin murah tentu saja, dimana tarif tersebut sudah termasuk fasilitas peralatan snorkeling dan makan siang – makan malam selama di Pulau Pari.

Tak seperti kebanyakan wisatawan yang datang ke Pulau Pari untuk menikmati keragaman alam bawah lautnya, sebagai petualang jelajah gizi, kami akan menimba ilmu dari para nelayan disini. Mempelajari seluk beluk budidaya rumput laut, mulai dari pembibitan, penanaman, perendaman, sampai rumput laut dikeringkan dan siap diolah menjadi aneka produk. Bersama Prof. Ahmad Sulaeman dari IPB dan Chef Opik dari MasterChef Indonesia, kami juga akan dibekali pengetahuan tentang kandungan gizi rumput laut serta bagaimana cara mengolahnya agar semakin menggugah selera.

Selama berada di Pulau Pari, semua peserta jelajah gizi difasilitasi dengan sepeda mini berkeranjang besi yang akan dipakai berkeliling menyambangi Pusat Penelitian Oseanografi – LIPI, tempat kami mempelajari cara menanam rumput laut, juga ke Pantai Pasir Perawan, tempat pengeringan rumput laut dilakukan. Bersepeda di pulau dengan view pantai di sepanjang jalan, sempat membawa saya pada sensasi serupa seperti ketika berada di Gili Trawangan. Meskipun kedua pulau ini sebenarnya sangat berbeda. Pulau Pari sangat jauh dari kesan hingar bingar dan hedonis. Tapi sayangnya, Pulau Pari membolehkan kendaraan bermotor wara-wiri disini, tak seperti Gili Trawangan yang bebas asap polusi.

Pantai Pasir Perawan merupakan salah satu objek andalan Pulau Pari yang sayangnya masih sangat minim fasilitas. Toiletnya yang masih berupa bilik terpal sederhana, bakal bikin kita waswas saat buang hajat karena parno diintipin. :mrgreen: Fasilitas mushola juga masih belum tersedia, sehingga tak ada pilihan lain selain sholat di gazebo kayu dengan arah kiblat yang tak tentu, tebak-tebak buah manggis gitu. Tapi sejumlah warung makan sudah lumayan bertebaran, mengeliminasi ancaman kelaparan selama berada di Pantai Pasir Perawan.

Selepas memenuhi perut dengan aneka olahan seafood persembahan ibu-ibu PKK Pulau Pari, rombongan jelajah gizi pun berpamitan untuk kembali bertualang gizi di pulau kedua, Pulau Lancang. Di pulau ini kami mendatangi sentra pengolahan ikan teri dan rajungan yang menjadi komoditas utama Pulau Lancang. Di sentra pengolahan rajungan, saya sempat bertemu dan berbincang dengan Ibu Ika Atika yang banyak bercerita tentang seluk beluk usaha rajungan yang telah dimulainya sejak tahun 2002. Hingga kini Ibu Ika telah membina sepuluh orang nelayan di Pulau Lancang dan masih berharap bisa bersama-sama mengolah rajungan menjadi produk jadi, tidak hanya menjual mentah ke perusahaan industri.

Tanpa terasa, hari pun hampir menginjak senja. Waktunya rombongan jelajah gizi kembali berlayar menuju pulau berikutnya, Pulau Putri. Tak seperti di dua pulau sebelumnya, di Pulau Putri ini aktivitas kami murni bersenang-senang. Menghabiskan waktu luang dengan berenang, lalu makan sampai kenyang, dan kemudian tidur dengan tenang. πŸ˜†

Menurut Pak Aris, pulau-pulau yang ada di Kepulauan Seribu ini diklasifikasikan ke dalam tiga jenis, yakni pulau berpenduduk, pulau pribadi, dan pulau resort. Nah, Pulau Putri ini merupakan pulau resort yang katanya, sih, merupakan yang terbaik di Kepulauan Seribu. Beragam fasilitas mulai dari snorkeling, glass bottom boat, sunset cruise, sampai akuarium bawah laut macam seaworld tersedia di pulau ini. Dengan fasilitas lengkap dan berkelas seperti ini, tak heran bila resort Pulau Putri mematok tarif menginap yang sangat tinggi per malamnya, dengan rentang antara 1,5 sampai 2,5 jutaan per orang per malam. Makin ngiri, kan, sama petualang jelajah gizi?! :mrgreen:

Bersama @nesatasyaa (peserta jelajah gizi asal Jakarta), saya ditempatkan di salah satu bungalonya yang lumayan jauh dari peradaban (baca: restoran). Sekitar tiga ratusan meter jauhnya, dengan dua alternatif jalan: melewati pinggir laut atau jalan tengah pulau yang agak rimbun pepohonannya. Kami sih seneng-seneng saja, sampai saat makan malam tiba dan hujan deras menyapa. Ngebayangin keluar kamar dengan resiko ketemu biawak, kesambar petir, kemasukan makhluk halus (secara waktu itu malam jumat) lalu nyemplung ke laut sempat membuat kami galau buat keluar kamar. Tapi, rasa lapar yang semakin menjadi mengalahkan semua kegalauan tadi. πŸ˜†

Selepas makan malam, acara dilanjutkan dengan FGD yang diskusinya tentu saja nggak seserius FGD seperti saat melamar kerja. FGD disini tak lain merupakan ajang untuk kami para peserta bisa saling mengenal dan berbagi cerita. Ada pula sesi dimana beberapa blogger diminta bercerita tentang kuliner yang ditulisnya, yang mengantarkan kami menjadi petualang jelajah gizi. Dan gara-gara menulis tentang kuliner berbahan dasar cacing nyale, sejak malam itu dengan kompaknya semua peserta jelajah gizi memangil saya dengan sebutan ‘Mbak Cacing’! bwahhaha.. Tapi saya juga tahu, sejak malam itu, kesan mereka terhadap cacing pun berubah drastis, 180 derajat. Cacing yang dulu terkesan menggelikan, kini menjelma cantik menawan. πŸ˜‰

Advertisements