Tags

, , , , , , , , , , , , , ,

Pura Ulun Danu Danau Beratan

Lambaian hangat dan sapa senyum manis menyambut kami di terminal kedatangan Bandara Ngurah Rai Denpasar malam itu. Adalah Marina, cewe bule asal Spanyol yang menyita perhatian kami semua seketika. Marina adalah person in charge yang akan mengurus segala keperluan akomodasi dan transportasi kami selama di Bali. Well., kami yang saya maksud disini bukanlah dua atau lima orang saja, melainkan keluarga besar yang terdiri dari 6 keluarga, 24 orang jumlahnya!

Dengan ‘santai’ Marina membagikan roti yang dibawanya sambil menyapa kami satu per satu dalam Bahasa Indonesia yang sangat baku. Seperti halnya kita yang taat patuh pada grammar. Kemampuan Marina berbahasa Indonesia tentu saja membuat saya tersanjung dan merasa superior sekaligus. Tapi perasaan asing turut menyelinap malam itu. Saya jadi merasa bak tamu di rumah sendiri. πŸ˜• Selebihnya, seandainya saya lelaki, saya pasti telah jatuh hati dengan Marina pada pandangan pertama :mrgreen:

Marina and Me

Swastiastu“, sapa Bli Wayan pada penjaga pelataran parkir resto di kawasan Jimbaran. “Itu salam orang Hindu seperti halnya Muslim mengucap Assalamualaikum“, kata Bli Wayan menjelaskan. Bli Wayanlah yang akan menemani liburan kami selama di Bali. Mengantar kami kesana kemari. Dan berhubung saya duduk di sampingnya, saya jadi dapet banyak cerita. Mulai dari proyek-proyek besar yang saat ini sedang digarap di Bali seperti pembangunan Bandara Internasional baru di Buleleng, perluasan Bandara Ngurah Rai, proyek pembangunan jalan tol di atas laut yang menghubungkan Nusa Dua, Tanjung Benoa, dan Bandara Ngurah Rai, juga proyek underpass pertama di Bali yang diyakini dapat mengurai kemacetan di sejumlah ruas jalan di Bali, dimana tingkat keparahannya hampir menyerupai Jakarta. 😯

Bli Wayan juga menceritakan sejumlah upacara adat di Bali yang menurutnya sedikit merepotkan karena saking terlalu banyaknya. Dia juga menjawab sejumlah pertanyaan yang membuat saya penasaran, tentang silsilah dan kasta, juga leak yang ternyata masih ada. Bli Wayan bahkan tanpa sungkan menceritakan kisah adiknya yang menikah muda karena hamil duluan. Aihh.. Bli Wayan ini sangat terbuka dan blak-blakan yaa?! πŸ™„

Makan, barangkali, bukanlah tujuan utama wisatawan mengunjungi Jimbaran. Melainkan lebih kepada ingin menikmati suasananya. Dinner di tepi pantai dengan penerangan seadanya yang justru disuka karena suasana romantis mudah tercipta tanpa perlu usaha ekstra. Apalagi sesekali pengunjung akan dihibur dengan penampilan musisi pantai bergantian dengan tari-tarian khas Bali. Sayang sekali saat itu saya tidak sedang bersama kekasih :mrgreen:

Musisi Pantai di Jimbaran

Villa Desa CangguVilla Desa Canggu

Dari Jimbaran kami diantar menuju penginapan. Bukan di kawasan Seminyak, Kuta, atau Legian seperti yang saya kira. Bukan. Melainkan di sebuah desa, jauh dari hingar bingar, di daerah Canggu. Malam disini semaraknya justru oleh orkestra tuan jangkrik dan kawan-kawan. Tempat yang tepat bagi wisatawan yang ingin bercinta dengan alam. Sambil sikat gigi, saya bisa menikmati pemandangan sawah di luar jendela. Sebelum tidur, bisa star gazing dulu dari gazebo lantai 3, yang kerlipnya saya kira ratusan jumlahnya. Bangun pagi, bisa menghirup udara sehat sepuasnya, menikmati lukisan alam pedesaan lengkap dengan peternakan sapinya. Mau ke pantai, tinggal koprol seratus kali, sampai deh di pantai Echo Beach yang masih perawan lagi sepi. Ahhh.. Ini surga dunia. πŸ™‚

Kata Bli Wayan, pantai ini dulunya ditemukan bule bernama Echo yang kini memiliki resto bernama sama di tepi pantainya. Keistimewaan pantai ini ada pada ombaknya yang cukup tinggi di pagi dan sore hari sehingga klop dengan papan surfing. Pasirnya yang meski hitam tapi bersih dan berkilau, terlihat sangat menarik di bibir pantainya. Seperti membentuk ruas-ruas daun, atau barangkali lebih mirip gurat serat pohon, selepas disapu ombak. Airnya yang jernih membuat biota laut di pesisir mudah terlihat.

Echo BeachEcho Beach

Berjalan sedikit memutar dari villa, saya menemukan sepetak kebun melon dan semangka yang baru kali pertama itu saya melihat langsung rupanya. Sangat menarik perhatian dan memancing keingintahuan, tentu saja. Saya menyapa Kang Diman (bukan nama sebenarnya) yang saat itu sedang sibuk dengan melon-melonnya, tapi lalu menghentikan aktivitasnya begitu melihat kedatangan saya. Sambil tersenyum, Kang Diman menyapa. Kang Diman ini perantau dari Jawa rupanya. “Petani Bali mana ada yang bisa nanam melon dan semangka mba”, begitu katanya bangga sambil menunjukkan hasil panen semangkanya yang lebih besar dua kali lipat dari semangka yang biasa saya lihat. Menurutnya, menanam melon lebih sulit daripada menanam semangka, meskipun siklus hidup keduanya hanya berbeda 5 hari. Apalagi kebunnya dekat dengan pantai yang sangat rentan terpaan angin kencang. Kang Diman sendiri tinggal di sebuah gubuk 2×2 meter yang berdiri di tengah kebun, diantara bayang-bayang deret villa mewah. Bersama buah-buahan yang ia tanam, Kang Diman menikmati hempasan angin pantai tiap malam.

Kebun Melon Desa Canggu

Tapi sepertinya semua keindahan dan ketenangan yang saya nikmati di Desa Canggu ini tak kan bertahan lama. Hanya dalam hitungan dua sampai lima tahun ke depan, Desa Canggu saya prediksi akan tidak lagi seindah ini. Secara pembangunan sejumlah villa terlihat dimana-mana, mengkonversi lahan pertanian yang ada. Barangkali, kelak, orkestra tuan jangkrik dan kawan-kawan juga akan tergantikan oleh hingar bingar klub malam seperti di Legian. Entahlah..

Dari sekian puluh objek wisata menarik yang ada di Bali, saya hanya sempat mengunjungi beberapa. Dan inilah dia tempat-tempat yang sempat saya kunjungi selama dua-hari-tiga-malam di Bali :

#1 Bedugul

Bedugul merupakan salah satu kawasan wisata dataran tinggi yang ada di Bali. Sekitar satu setengah jam waktu tempuh dari Canggu. Keindahan alam Bedugul ini sedikit banyak mengingatkan saya pada Dieng Plateau. Seperti halnya Dieng yang memiliki sejumlah danau/telaga, begitupun Bedugul yang memiliki tiga buah danau. Kalau Dieng terkenal dengan Telaga Warnanya, Bedugul memiliki Danau Beratan yang eksotis karena Pura Ulun Danu-nya. Tak ada retribusi resmi ketika memasuki kompleks pura ini. Kami hanya diminta membayar 10 ribu untuk tiket masuk per orang. Di Bedugul saya juga sempat mengunjungi Kebun Raya Bedugul yang lokasinya tidak jauh dari Danau Beratan.

Danau Beratan, Bedugul

Kebun Raya Bedugul

Bedugul, Bali

#2 Tanah Lot

Tanah Lot hari itu sangat padat pengunjung, membuat saya kurang begitu excited mengeksplor tiap inchinya. Nyesel sih ujung-ujungnya, karena koleksi foto saya jadi kurang kecelah hasilnya. πŸ˜₯ Di sepanjang jalan menuju Tanah Lot, mulai dari pintu masuknya, dipadati lapak-lapak pedagang aneka souvenir. “Pandai-pandailah menawar nanti yaa”, kata Bli Wayan. “Tawar sepertiga harganya”, katanya lagi. Pedagang disini emang kemaruk banget ngambil untungnya. Topi pantai yang seharga 25 ribu misalnya, dibuka dengan harga 80 ribu. Jagung bakar yang 5 ribuan, mulanya ditawarkan seharga 15 ribu. Meskipun jelas-jelas kami berwajah pribumi, tetep aja dikasih harga turis asing. 😑 Ehh., Apa jangan-jangan, saya dikira turis dari Uzbekistan yaa?! Hhaha.. Tapi sih, asalkan pinter nawar, gak akan rugilah belanja disini. Pedagang disini juga gak akan tersinggung kalau dagangannya ditawar sampai sepertiga harga. :mrgreen:

Tanah Lot

#3 Tanjung Benoa

Disinilah tempatnya wisatawan uji nyali kecil-kecilan. Mau snorkeling, parasailing, flying fish, atau main jetski dan banana boat, semua ada disini. Setiba di lokasi sekitar jam 12 siang, saya mengulur waktu untuk mencoba parasailing karena alasan matahari sedang sangar-sangarnya, padahal lagi mengumpulkan sebungkah keberanian tuh :-P. Gak taunya ternyata sekitar jam 2an ada pengumuman kalau aktivitas permainan air dihentikan karena air laut surut. Haduhh.. Beneran dehh, saya menyesal berkepal-kepal. Well, kalau ngeliat ombaknya yang tenang, sih, sepertinya pantai ini asik buat berenang, juga untuk aktivitas snorkeling bagi pemula. Tak ada retribusi untuk masuk ke pantai ini. Paling-paling hanya akan dikenakan biaya parkir. Untuk tarif permainannya, memang cukup mahal kalau belinya per permainan. Biar lebih murah, mendinglah beli paket yang ditawarkan travel agent. Saya sempat melihat infonya di brosur yang tersedia di booth-booth bandara.

Tanjung Benoa

Tanjung Benoa

#4 Pantai Dreamland

Seperti Echo Beach, pantai ini juga digemari para peselancar karena ombaknya yang besar. Pasirnya yang berwarna cokelat muda lagi bersih, juga air lautnya yang biru kehijauan, bikin betah berlama-lama leyeh-leyeh di pesisirnya. Kalau mau lebih asik, berjalanlah sedikit ke sisi kiri pantai, melewati karang pembatas. Disana saya menemukan Pantai Dreamland yang sepi, dengan tebing-tebingnya yang tinggi. Pantai berasa milik pribadi. :mrgreen: Puas bermain dengan ombak, bersiaplah kaget ketika hendak bersih-bersih. Fasilitas toilet disini tarifnya lumayan mahal. Cuci kaki doang aja bisa kena 3 ribu. Apalagi kalau mandi, kenanya 10 ribu, bo! Mahal kan?! Mahal, sih, kalau kata saya yang mindsetnya backpacker budget oriented. Dari sekian puluh pantai yang pernah saya kunjungi, pantai inilah yang sejauh ini paling keterlaluan tarif toiletnya. Ada satu cerita lucu yang diceritakan salah satu anggota rombongan pada saya. Jadikan ceritanya dia buang air kecil, lalu membayar dengan uang 10 ribu untuk tarif toilet yang 3 ribu. Karena gak ada kembalian, dia cuma dikasih kembali 5 ribu, sambil dengan santainya si penjaga toilet bilang gini, “Bapak kencing aja dikit lagi”. Bwahhaha.. Konyol banget!

Pantai Dreamland

Tibalah waktunya untuk mencari oleh-oleh. Bli Wayan mengantar kami ke Khrisna, supermarket oleh-oleh super lengkap. Segala jenis souvenir dan makanan khas Bali ada disini. Harganya juga cukup terjangkau. Tiap kali keluar kota, saya pasti hanya mengincar kaos berciri khas atau bergambar objek wisatanya. Sayang koleksinya Krisna kurang kece gambar-gambarnya.

Liburan dua-hari-tiga-malam ini ditutup dengan cerita pesawat yang didelay. ‘Cuma’ tiga jam, sih. Tapi yang namanya delay, kan, tetep aja bikin sewot. Dipikir-pikir, perusahaan penerbangan ini enak banget yaa. Kalau pesawat delay, tinggal minta maaf melalui pengeras suara, sambil mempersilakan kita untuk mengambil jatah makan. Coba kalau telat check-in 5 menit aja, tiada ampun bagimu! Mana lagi, begitu masuk pesawat, penerbangan masih terancam tertunda pula. Ada sejumlah penumpang yang gak kebagian kursi karena ternyata beberapa nomor kursinya double. Entah bagaimana buruk sistemnya sampai bisa kejadian seperti itu. Naik pesawat ini pun bikin saya berasa bak naik kereta ke Jawa. Sering sekali goncangannya. Mana lagi pramugarinya jualan popmie. Nah kan, makin mirip kereta ke Jawa kan?! Mau tau saya naik kereta pesawat apa?

Ada dehh.. Kasih tau gak yaa?! πŸ˜†

Advertisements