Tags

, , , , , , , ,

Telah beberapa kali menyambangi Jogja sempat membuat saya bingung juga. “Ke Jogja asyiknya kemana lagi yaa?”. Karena sepertinya hampir semua objek wisata kece di Jogja telah saya sambangi. *pamer.com* :mrgreen:

Selepas libur lebaran kemarin, saya ada agenda ke Jogja yang kebetulan menyisakan waktu luang lumayan panjang yang sangat sayang kalau tidak dihabiskan untuk melanjutkan liburan. Meskipun tak ada rasa bosan menyambangi sejumlah objek wisata di Jogja berkali-kali, tapi kali ini saya ingin mengunjungi objek wisata berbeda yang belum pernah saya sambangi. Tujuan mulianya tentu saja supaya ada cerita baru yang bisa saya bagikan di blog saya πŸ˜†

Lalu teringatlah saya dengan perjalanan darat Semarang – Jogja beberapa bulan lalu yang melewati jalur kawasan wisata Candi Gedong Songo, Museum Kereta Api, dan Rawa Pening. Seingat saya, kawasan wisata ini berada di tengah-tengah antara Semarang – Jogja. Kalau dari Semarang ke Jogja bisa di tempuh dalam waktu tiga jam, berarti perjalanan dari Jogja ke kawasan wisata ini gak terlalu jauhlah yaa. Masih sanggup ditempuh dengan beroda dua. Ahaa!! πŸ’‘ Melanconglah saya bersama Mas Bayu kesana. πŸ˜‰

Ternyata perjalanan ini memakan waktu tiga jam, kami tempuh dengan santai, tanpa macet dan sudah termasuk sesi sarapan dulu. πŸ˜€ Rutenya dari Jogja melewati Magelang – Ambarawa – Bandungan. Mungkin karena masih dalam suasana libur lebaran, pagi menjelang siang ketika kami sampai, sekitar pukul setengah sebelas, kompleks Candi Gedong Songo terlihat telah ramai pengunjung. Begitu melewati gerbang pintu masuk, kami langsung disambut dan dirayu seorang bapak agar mau menggunakan jasanya, mengelilingi kompleks candi dengan berkuda. Dengan mempertimbangkan faktor stamina dan waktu, mengingat info yang saya dapat dari hasil browsing di internet, saya terimalah rayuan si bapak dengan senang hati. :mrgreen:

Sejujurnya, ini adalah kali pertama saya menunggang kuda. Dapet bangetlah sensasinya! Grogi pada mulanya. Apalagi saya sering berselisih jalan dengan pejalan kaki yang datang dari arah berlawanan. Merinding disko dehh ketika kuda harus melewati jalur menanjak atau turunan tajam dimana jurang hanya berjarak sekitar satu meter dari jalur. Oleh si bapak saya diajari agar menegakkan badan dan meluruskan kaki ketika jalur menurun, lalu agak membungkuk ketika jalur menanjak. Meskipun selalu didampingi, tetap saja saya ngeri setengah mati. Apalagi pas kudanya agak melompat-hentak karena jalur menanjak. Haduh.. jantung rasanya mau ikutan lompat juga. :mrgreen:

Setelah menit demi menit berlalu, saya mulai bisa beradaptasi dengan geliat si kuda. Beberapa kali saya bicara dengan si kuda agar berjalan pelan-pelan saja, barangkali dia mengerti. Secara kalau si bapak bilang ‘opp’, kudanya langsung berhenti. Hhehe.. Tapi beberapa kali kudanya berhenti sendiri tanpa instruksi. “Kudanya lagi beol“, kata si bapak. Wah, sembarangan banget beolnya. Dan si bapaklah yang harus bertanggung jawab membersihkan kotorannya, menepikan ke pinggir jalan atau membuangnya ke jurang.

Serupa tapi tak sama dengan Kompleks Candi Arjuna di Dieng Plateau, kedua kompleks candi ini sama-sama terletak di dataran tinggi sehingga dilatar-belakangi pemandangan alam nan spektakuler. Berada di lereng Gunung Ungaran membuat udara di kompleks candi ini terasa sejuk meskipun matahari bersinar cerah. Saya kira kami beruntung karena tiba disana ketika cuaca cerah sehingga bisa memiliki cerita dan koleksi foto yang berbeda. Kebanyakan cerita yang saya peroleh dari internet, menceritakan pengalamannya menjelajah kompleks Candi Gedong Songo saat hujan gerimis dan berkabut sehingga latar belakang candi yang indah ini tak bisa dinikmati: barisan pohon pinus, rangkaian bukit, dan gugusan pegunungan yang terlihat malu-malu di kejauhan. Meskipun sepertinya berkuda dikala cuaca berkabut bisa jadi memiliki sensasi yang lebih fantastis mengingat jalur yang licin, udara yang dingin, jarak pandang yang dekat, dan jurang yang tak terlihat. Aihhh, sensasi menyibak tirai kabut memang luar biasa, selalu membuat debar membuncah πŸ˜‰

Kompleks Candi Gedong Songo merupakan kompleks Candi Hindu peninggalan budaya Wangsa Syailendra yang letaknya menyebar di lereng Gunung Ungaran. Sekilas dari namanya, kita bisa tahu kalau jumlah seluruh candi di kompleks ini ada sembilan buah (Songo : Sembilan). Tapi candi yang saya temui disana hanya berjumlah 8 buah yang tersebar di enam lokasi. Dari enam lokasi ini, hanya lima kompleks candi yang diberi label nomor urut Candi Gedong I sampai dengan Candi Gedong V. Kalau hanya tersisa 8 buah candi, berarti ada satu candi yang telah undur diri dari eksistensi. Tapi bingungnya, saya menjumpai jejak reruntuhan candi di dua lokasi berbeda, satu di Candi Gedong IV dan satu lagi di Candi Gedong V. Apakah reruntuhan di kedua lokasi itu berasal dari candi yang sama?! Entahlah. Rasanya kok kurang kerjaan banget yaa membagi sisa reruntuhan ke dalam dua lokasi yang berbeda secara jarak kedua lokasi tidak bisa dibilang dekat dan lagi lokasi Candi Gedong V berada di atas bukit. Tapi sejumlah artikel yang saya baca di internet menjelaskan bahwa saat ini hanya tersisa lima kompleks candi, empat lainnya hanya tinggal reruntuhannya saja. Kalau begitu berarti, yang dimaksud dengan ‘Songo’ disini adalah sembilan kompleks candi.

Lalu dimanakah lokasi keempat kompleks candi lainnya? Kenapa dari enam kompleks candi, hanya lima kompleks yang diberi label nomor urut? Apakah kompleks yang tidak diberi label itu merupakan bagian dari kompleks lainnya? πŸ™„ Saya sungguh penasaran, ingin tahu apakah yang dimaksud dengan ‘Songo’ adalah ‘sembilan candi’ atau ‘sembilan kompleks candi’. Sayang sekali tidak ada papan penjelasan memadai di lokasi wisata yang bisa menjawab rasa penasaran saya πŸ˜•

Kondisi kedelapan candi yang tersisa pun cukup memprihatinkan. Keberadaannya dieksploitasi secara berlebihan oleh pengunjung ‘banci kamera’ yang asyik aja bergaya, berdiri di tepi bangunan candi. Dan yang lebih menggemaskan adalah para abg yang menjadikan sisi-sisi candi sebagai tempat ‘mojok’. Saya sampai bingung sewaktu akan mengambil gambar di kompleks Candi Gedong IV karena tiap sisinya dijejali muda-mudi mabuk kepayang yang asyik saja bermesraan di undakan candi. Haduhh.. Sadarkah mereka bahwa bobot tubuhnya berpotensi meruntuhkan candi?! 😑

Selesai mengitari Kompleks Candi Gedong Songo, ternyata masih banyak waktu yang tersisa. Maka kami putuskan untuk melanjutkan wisata menyambangi Museum Kereta Api dan Rawa Pening. Sayangnya begitu kami tiba di Museum Kereta Api ternyata sedang ada perbaikan jalur kereta sehingga lori wisatanya tidak bisa dinikmati. Sayang sekali. πŸ˜•

Siang hingga sore menjelang akhirnya kami habiskan untuk menikmati keindahan Rawa Pening, sebuah danau alami yang terletak di cekungan terendah lereng Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo, dan Gunung Ungaran. Kebayang, kan, gimana kecenya penampilan danau alami ini secara dilatar-belakangi tiga buah gunung sekaligus?! Kalau dari lereng Gunung Ungaran tadi gugusan pegunungan ini masih terlihat malu-malu, dari sini kita bisa puas melihatnya lebih dekat. Hamparan permadani hijau yang membingkainya adalah perhiasan sederhana yang membuat penampilannya semakin memukau, memaksa saya untuk tak bisa tidak berdecak kagum.

Kondisi Rawa Pening ini sempat mengkhawatirkan karena mengalami pendangkalan yang disertai invasi eceng gondok yang tumbuh secara massive menutupi permukaan danau. Bahkan sempat diprediksi bahwa Rawa Pening akan menjadi daratan dalam jangka waktu sepuluh tahun ke depan. Namun setelah melihat kondisi yang ada di lapangan, saya berkesimpulan kalau langkah-langkah konservasi sepertinya telah mulai dilakukan. Setidaknya, permukaan danau bagian tengah telah bersih dari eceng gondok sehingga baik perahu motor maupun perahu dayung dapat dengan leluasa menyusuri danau ini. Memang tidak seluruhnya dimusnahkan karena tanaman ini juga merupakan sumber penghidupan bagi ratusan pengrajin eceng gondok di sekitar Rawa pening.

Sektor pariwisata di sekitar Rawa Pening menjadi lebih hidup dengan adanya persewaan atv dan becak air serta kehadiran rumah makan apung Kampung Rawa. Pengembangan daya tarik pariwisata tentu baik adanya, selama pengembangan itu tidak merusak potensi alam dan ekosistem yang ada. Saya senang ketika senja menjelang saya masih bisa menikmati matahari tenggelam dari tengah sawah, masih pula bisa menyaksikan serombongan bebek kembali ke kandangnya. Semoga pemda setempat tidak sampai kebablasan dalam mengalih-fungsikan lahan pertanian yang ada. πŸ˜‰

Advertisements