Tags

, , , , , , ,

Namaku Rhinoceros Sondaicus. Kalian bisa memanggilku ‘Rhino’. Aku ini sejenis binatang bercula satu. Badak Jawa, begitu mereka menyebutnya. Sebenarnya, aku ini sangat pemalu. Tapi aku tidak pernah merasa terganggu jika ada yang ingin berteman denganku. Apakah kalian mau menjadi temanku?

Aku tahu segelintir dari kalian sangat tertarik ingin memburu spesiesku. Aku tidak tahu kenapa segelintir dari kalian bisa sangat membenci spesiesku. Membantai keluargaku satu per satu. Pernah suatu kali aku tanyakan hal ini pada Ibu. Kata Ibu, mereka memburu bukan karena membenci keluargaku. Mereka memburu semata-mata karena ingin mengambil cula spesiesku dan memanfaatkannya sebagai obat tradisional. Selama 2000 tahun lamanya cula keluargaku dijadikan komoditas perdagangan. Bayangkan berapa banyak keluargaku yang telah mati diburu selama periode itu. Cula spesiesku, yang memiliki panjang tidak lebih dari 20 cm ini, bisa mereka jual dengan harga $30.000 per kilogramnya. Sialnya, banyak diantara keluargaku yang mendiami daerah miskin, sehingga berburu keluargaku menjadi aktifitas yang sangat menjanjikan.

Tapi itu dulu, sewaktu keluargaku masih tersebar di banyak kota. Kini keberadaan spesiesku semakin langka. Bahkan dianggap sebagai lima spesies badak paling langka di dunia. Perburuan bukan lagi menjadi ancaman utama spesiesku, karena sekarang kami semakin dilindungi. Segelintir dari kalian mulai menyayangi kami. Bahkan berupaya sekuat tenaga melindungi kami dari kepunahan. Dan aku sangat berterima kasih untuk itu.

Kini aku dan keluarga besarku yang tersisa (tidak sampai 50 ekor jumlahnya), mendiami rumah kami yang luas bernama Taman Nasional Ujung Kulon. Taman ini dianggap sebagai habitat yang paling baik bagi keluargaku karena memiliki nilai ekologi dan kekayaan alam yang tinggi. Aku pribadi sangat menyukai taman ini. Disana aku bisa melakukan hobiku dengan leluasa. Bermain di kubangan lumpur dengan culaku. Atau sekedar menyendiri dan bersembunyi.

Seperti yang telah kalian ketahui, aku ini sangat pemalu. Jadi jangan heran kalau nanti kalian bertamu ke rumahku, melihatku dari jauh, aku justru lari bersembunyi. Apakah menurut kalian aku ini penakut? Mungkin iyaa. Mungkin sifatku ini terbentuk akibat trauma masa lalu. Atau bisa jadi sebagai bentuk adaptasi terhadap tekanan populasi. Tapi satu hal yang perlu kalian tahu, aku tidak akan segan-segan menyerang jika ada seseorang/sesuatu apapun itu yang datang mengganggu.

Percayalah, selama kalian tidak menggangguku, aku akan bersikap baik pada kalian. Karena aku bukan tipikal binatang yang gemar berkelahi. Aku tidak pernah memakai culaku untuk bertarung, kecuali kalau terpaksa sekali. Aku lebih suka menggunakan culaku untuk bermain lumpur. Mencari dan menemukan lubang alami atau kubangan bekas binatang lain untuk kemudian kuperbesar lagi dengan culaku, itulah hobi utamaku. Mungkin menurut sebagian dari kalian aku ini binatang yang jorok karena senang bermain di lumpur. Tapi tahukah kalian, bermain di kubangan lumpur sebenarnya adalah bentuk upaya spesiesku untuk mempertahankan diri dari kepunahan. Karena dengan berkubang dalam lumpur, suhu tubuhku bisa terjaga, dan aku bisa terhindar dari parasit dan penyakit.

Apakah ceritaku mulai membuat bosan kalian? Aku harap tidak. Karena aku masih ingin bercerita lebih banyak lagi tentang diriku pada kalian. Seandainya kalian tahu, sebenarnya aku ini bukan jenis binatang yang suka banyak bicara. Aku hanya ingin kalian bisa menyayangi aku setelah mengenalku lebih jauh. Karena kata Ibu, jika tak kenal maka tak bisa sayang. Jadi, ijinkan aku untuk melanjutkan kisahku yaa. Selanjutnya aku akan bercerita tentang rumahku.

Rumah adalah segalanya bagiku. Seperti yang telah kukatakan padamu di awal ceritaku, aku sangat menyukai rumahku. Disanalah aku bisa bermanja, melakukan semua hal yang kusuka. Rumah memanjakanku dengan kubangan lumpur tempatku bermain, rerimbunan pohon tempatku bersembunyi menyendiri, juga rupa-rupa tumbuhan, makanan kesukaanku. Dan aku benci harus berbagi semua ini dengan si banteng. Itulah hal yang paling tidak aku sukai: keberadaan mereka di rumahku. Bukannya apa-apa. Aku ini kan tukang makan. Dalam sehari saja aku bisa menghabiskan 50 kilogram makanan. Aku malas kalau harus berebut makanan dengan mereka. Kalian tahu kan aku tidak suka berkelahi. Dan yang lebih menyebalkan lagi, jumlah si banteng terus bertambah dari tahun ke tahun.

Kondisi ini diperparah dengan kehadiran Arenga. Dia adalah sejenis tumbuhan yang menghalangi masuknya sinar matahari ke dalam rumahku. Akibatnya, makanan kesukaanku jadi susah tumbuh. Kalau begini terus kondisinya, bisa-bisa aku terancam mati kelaparan kan?!

Kudengar, itulah sebabnya kenapa segelintir dari kalian begitu berusaha mencarikan rumah kedua bagi keluargaku. Dan aku sungguh bersyukur untuk itu. Aku ingin mengucapkan terima kasihku yang terdalam pada kalian yang masih mau peduli padaku. Pada kalian yang bersedia menjadi temanku dengan mengadopsiku. Dan pada kalian yang menginginkan aku tetap ada dengan men-Dukung Pelestarian Badak Jawa. Juga pada kalian yang sudah dengan sabar mendengarkan ceritaku. Terima kasih 🙂

Aku yang ingin menjadi temanmu,

-Rhino-

Tulisan ini sepenuhnya diadaptasi dari penjelasan Wikipedia dan WWF Indonesia tentang Badak Jawa dengan tambahan referensi dari Majalah Tempo Online. Foto Si Jampang dipinjam dari sini.

Advertisements