Tags

, , , , ,

Waktu menyambangi Semarang, saya menginap di hotel yang letaknya di Jalan Pemuda. Jalan strategis di Kota Semarang karena dekat kemana-mana. Termasuk ke Lawang Sewu dan Tugu Muda.

Waktu itu sore hari sekitar pukul setengah 5 sore, saya berjalan kaki sendiri menyusuri Jalan Pemuda menuju Lawang Sewu sambil menikmati mentari senja. Suasana sore itu cukup menyenangkan untuk dinikmati sendirian. Matahari senja yang beranjak ramah. Lalu lintas sekitar ramai tapi lancar. Saya tidak melihat angkutan kota yang berhenti seenaknya. Jalan rayanya juga tidak riuh dengan suara klakson. Polusinya?? Yaa., setidaknya tidak separah Jakarta πŸ˜†

Jalan Pemuda menurut saya cukup nyamanlah untuk ditelusuri dengan berjalan kaki. Di sekitar saya silih berganti orang-orang berlalu lalang. Anak sekolah. Karyawan. Karyawati. Ada yang terburu-buru. Beberapa sambil bercengkerama. Bagusnya sepanjang jalan sore itu, saya tidak berselisihan dengan sepasang muda-mudi. Jadi gak bikin iri. hhehe..

Sampai di pintu gerbang Lawang Sewu, saya dikasih tau satpam yang jaga kalo Lawang Sewu sudah tutup. hua.. Padahal kata info yang saya dapat di internet, jam operasional Lawang Sewu itu dimulai pukul 6 pagi sampai dengan pukul 6 sore. Jadilah saya hanya berwira-wiri, berfoto-foto di depan pagarnya saja.

Saya menyapa banyak orang yang lalu-lalang di sekitar Lawang Sewu. Minta tolong difotoin πŸ˜† Mereka ramah-ramah lho. Gak ada satupun yang menolak dimintain bantuan. Malah ada yang minta nambah :mrgreen: Padahal tiap kali berfoto, saya cuma minta difotoin 2 kali aja. Mungkin karena saya kece kali yaa 😎 Ada juga yang berbaik hati memberi tahu saya lokasi yang oke untuk berfoto. Kesimpulan: penduduk lokal Kota Semarang ramah bersahabat πŸ˜€

Sayap Kanan Lawang Sewu

Lokomotif di Sayap Kanan Gedung

Dari hasil tanya-tanya sama om gugel, saya jadi tahu kalau dulunya Lawang Sewu ini difungsikan sebagai Kantor Pusat Perusahan Kereta Api Swasta pada masa kependudukan Belanda di Indonesia. “Ooo.. Jadi itu penjelasannya kenapa ada lokomotif di sayap kanan gedung ini”. Saya baru tahu itu ketika saya sudah kembali ke Jakarta lagi :mrgreen:

Lawang Sewu juga pernah digunakan sebagai penjara bawah tanah oleh serdadu Jepang. Terdapat penjara berdiri dan penjara jongkok di ruang bawah tanahnya yang sempit, gelap, dan lembab. Sayang sekali saya tidak sempat masuk dan melihat langsung penjara bawah tanah yang menguapkan aroma kental kekejaman masa penjajahan Jepang itu.

Konon katanya aura mistis sangat terasa di area bangunan ini. Saya sih gak merasa serem waktu berada di sekitar Lawang Sewu sore itu. Mungkin baru akan merinding kalau sudah berada di dalamnya kali yaa.. πŸ™„ Bagi kalian yang penasaran dengan hal-hal yang berbau mistis, Lawang Sewu membuka paket ‘tur hantu’ mengitari Lawang Sewu pada tengah malam. Siapa tau akan bertemu ‘sesuatu’ :mrgreen:

Lawang Sewu dalam bahasa jawa berarti seribu pintu. Dinamakan Lawang Sewu oleh penduduk lokal karena bangunan ini memiliki banyak pintu dan jendela-jendela yang tinggi lagi lebar. Tapi sih sebenarnya jumlah pintu dan jendelanya juga gak sampai seribu. Hiperbola yang serupa dengan Kepulauan Seribu yang jumlah pulaunya ternyata hanya 105 buah. :mrgreen:

Puas berfoto-foto di sekitar Lawang Sewu, saya menyeberangi jalan menuju Tugu Muda. Tidak ada yang spesial menurut saya dengan tugu ini. Sebuah tugu berbentuk menyerupai lilin yang dikelilingi air mancur dan sepetak taman. Tapi berhubung landmark sebuah kota itu penting bagi kebanyakan turis, termasuk saya πŸ˜† Maka saya pun berpose di depan tugu ini sebagai bukti saya pernah menginjakkan kaki di Kota Semarang, hhehe..

Advertisements