Tags

, , , , , , , , , , , ,

Two Feet and a Heartbeat Walking TourAda banyak cara yang bisa dilakukan wisatawan untuk mengenal lebih dekat seluk beluk destinasi yang dikunjungi. Berjalan kaki menyusuri tiap sudut kota merupakan salah satunya. Seperti yang kami lakukan di hari pertama menjejakkan kaki di kota Perth. Bersama Ryan Zaknich dalam sebuah tur bertajuk two feet and a heartbeat walking tour of Perth and Northbridge, kami berjalan tak kurang dari 2 jam menyusuri ruas-ruas kota di tengah gigitan udara musim gugur Australia Barat di bulan April.

Bermula dari Perth Ambassador Hotel, salah satu hotel berbintang di Perth yang letaknya strategis karena dekat dengan Perth CBD (kawasan bisnis Perth), kami berjalan menyusuri Adelaide Terrace hingga tiba di ujung jalan yang bersinggungan dengan Victoria Avenue, tempat berdirinya patung John Septimus Roe.

Ryan memperkenalkan Roe sebagai surveyor-general pertama Australia Barat sekaligus sebagai tokoh yang memiliki kontribusi besar dalam pembentukan tata kota Perth dan pembangunan sejumlah wilayah Australia Barat di masa silam. Di masa mudanya, Roe banyak menghabiskan waktu melakukan penjelajahan mengelilingi bagian barat negeri kangguru ini.

John Septimus RoeMenurut catatan sejarah, Roe memulai ekspedisinya di usia 32 tahun dengan mengelilingi Swan River dan Canning River. Selama 20 tahun menjelajah, Roe telah mengelilingi puluhan wilayah di Australia Barat dan menginspirasi penjelajah lainnya, hingga para sejarawan menjulukinya sebagai “the father of Australian explorers“.

Dari Adelaide Terrace, Ryan mengajak kami menyeberangi Victoria Avenue menuju Perth Concert Hall, tempat digelarnya berbagai pertunjukan seni musikal. Namun tentu saja kami ke sana bukan untuk menonton konser. Dari halaman belakang Perth Concert Hall yang terhubung dengan Terrace Rd, Ryan ingin menunjukkan sepotong kerlip lanskap kota Perth di waktu malam yang sebentar lagi akan kami simak secara utuh.

Dingin semakin menggigit kala kami berjalan melintasi Terrace Rd menuju kawasan Elizabeth Quay. Dari arah Supreme Court Gardens yang kami lewati, suara serak kicauan burung-burung kota menghadirkan nuansa misterius di sepanjang Terrace Rd yang mulai menyepi; sementara waktu baru beranjak menuju pukul tujuh. “Cepat sekali warga kota Perth mengakhiri aktivitas hariannya”, gumam saya dalam hati.

Swan Bell Tower“Itu Swan Bell Tower“, ujar Ryan saat kami bersua dengan menara lancip, tinggi menjulang bak hendak menusuk langit malam. Swan Bell Tower merupakan salah satu ikon Kota Perth sekaligus merupakan salah satu menara lonceng termegah di dunia. Di dalam bangunannya yang berketinggian 82,5 meter, bernaung 18 set lonceng, dimana 12 di antaranya berasal dari abad ke-14. Kabarnya, lonceng-lonceng bersejarah tersebut diambil dari gereja St. Martin di Trafalgar Square, London. “Besok kalian akan naik ke puncaknya dan mencoba membunyikan lonceng-loncengnya”, Ryan menambahkan sambil tersenyum simpul. “Asyik!!”

Lalu tibalah kami di arena ruang publik yang sangat luas, tempat masyarakat lokal dan wisatawan berbagi udara malam: Elizabeth Quay. Berlatar kerlip ribuan cahaya yang bersumber dari gedung-gedung pencakar langit di Perth CBD, Elizabeth Quay merupakan tempat yang ideal bagi masyarakat lokal untuk menghabiskan sisa harinya dengan berolahraga atau bercengkerama. Sementara bagi para wisatawan, Elizabeth Quay merupakan destinasi yang sempurna untuk menikmati semarak lampu kota di malam hari.

Elizabeth QuayTak hanya bersumber dari Perth CBD, sejumlah konstruksi yang menghiasi Elizabeth Quay seperti Bell Tower dan Elizabeth Quay Bridge juga disandingkan dengan lampu warna-warni yang silih berganti. Bersama dengan lampu taman yang memantul pada permukaan Swan River, semua sumber cahaya ini kompak berkolaborasi membentuk harmoni nuansa malam yang gempita di tengah kota.

Elizabeth Quay BridgeSwan RiverBeranjak dari Elizabeth Quay, Ryan mengajak kami menyeberangi St Georges Terrace, melintasi lorong-lorong pertokoan yang dipenuhi graffiti, hingga berjumpa dengan sepotong arsitektur bergaya Eropa di London Court. Dibangun pada tahun 1937 oleh seorang pengusaha bernama Claude de Bernales, London Court sejatinya merupakan shopping arcade yang hingga kini masih difungsikan sesuai dengan tujuan awal pembangunannya.

Di lorong pertokoan yang menjadi salah satu daya tarik wisata kota Perth ini, pengunjung bisa menemukan sejumlah cafe serta jajaran toko yang menjajakan souvenir dan aneka barang sandang. Sebagai penggemar Harry Potter, London Court sejenak mengingatkan saya pada salah satu setting legendarisnya di Diagon Alley. Sementara bagi penikmat sejarah dan arsitektur, London Court dapat menjelma lorong waktu yang memuaskan dahaga akan nuansa Eropa di masa silam. Namun sayangnya, seperti kebanyakan pusat perbelanjaan di kota Perth, pertokoan di London Court sudah mulai tutup sejak jam 5 sore.

London CourtSebelum mengakhiri tur singkatnya, Ryan membawa kami menyusuri kawasan pinggiran kota Perth di Northbridge yang lebih semarak kehidupan malamnya. Di kawasan ini, tempat hiburan malam seperti bar dan pub tumbuh subur berdampingan dengan cafe dan restaurant yang menghidangkan citarasa dari beragam negara. Aktivitas malam yang mencolok juga terlihat dari salah satu ruang publiknya di Northbridge Piazza yang dimanfaatkan oleh sekelompok anak muda untuk bermain bola.

Tak hanya lekat dengan kehidupan malamnya, kawasan Northbridge sejatinya juga dikenal sebagai pusat budaya kaum urban yang kreatif dan bercitarasa seni. Citra ini diperkuat dengan kehadiran cultural center, art gallery, state theatre, dan institusi seni di sejumlah ruas sudutnya. Sayang sekali kami tak punya cukup waktu untuk mengeksplorasi kawasan ini di siang hari yang sepertinya akan jauh lebih menarik.

Northbridge PiazzaUsai bersantap malam di Lot Twenty yang terletak di kawasan Perth cultural center, kami berpisah dengan Ryan dan kembali menuju hotel dengan tetap berjalan kaki karena bus gratis yang rencananya hendak kami tumpangi sudah berhenti beroperasi.

Malam semakin meninggi, belaian angin semakin membuat gigil. Namun saya masih bisa menikmati perjalanan pulang kami yang menempuh jarak 2 km jauhnya. Keteraturan yang terbangun di kota ini benar-benar membuat nyaman para pejalan kaki: trotoar yang lebar, lalu lintas yang lengang, bahkan perasaan aman yang entah bagaimana tercipta kala saya melintasi arterinya. Bagi saya yang kurang menyukai hiruk pikuk kota, Perth merupakan kota idaman yang membuat saya jatuh cinta sejak hari pertama.

Two feet and a heartbeat

Phone: +61 (0) 8 6143 4620

Free call from Australia: 1800 459 388

Email: info@twofeet.com.au

Website: www.twofeet.com.au/

Note: Tulisan ini merupakan bagian dari rangkaian catatan perjalanan selama 6 hari menyusuri Western Australia bersama Tourism Western Australia dan National Geographic Indonesia. Artikel selengkapnya bisa ditelusuri di #NGTravelMate.

Advertisements