Tags

, , , , , , , , , , , , ,

Kali ketiga menyambangi Jogja, saya pergi sendiri. Hanya berselang 2 bulan dari kunjungan kali kedua saya ke Jogja sama Mas Bayu. Kenapa segitu dibela-belainnya ke Jogja sendirian?! Karena waktu kali terakhir saya kesana, saya tidak sempat melipir ke Borobudur dan Prambanan. Saya belum pernah ke Prambanan dan ‘sudah lupa’ dengan kemegahan Borobudur, karena kali terakhir kesana, saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Berhubung saya sedang berada diΒ  Semarang, maka langsung saya niatin buat mampir ke Jogja dulu sebelum pulang.

Sampai di Jogja, saya langsung mencari info travel agent yang menawarkan paket wisata Borobudur – Prambanan. Saya dikasih tau pihak hotel kalau ada beberapa travel agent di jalan Sostrowijayan yang menawarkan paket wisata seperti yang saya maksud. Jalan Sostrowijayan lokasinya bersinggungan dengan Malioboro. Bisa ditempuh dengan becak atau berjalan kaki.

Harga yang ditawarkan untuk paket wisata Borobudur – Prambanan berkisar antara 60.000 – 85.000 per orang untuk keberangkatan minimal 2 orang. Karena saat itu bukan weekend, jadi peminatnya sedikit sekali. Hanya ada 2, paling banyak 3 orang di setiap travel agent yang saya tanya. Milih waktu keberangkatannya juga pagi sekali. Yang jam 5 pagi. Mungkin biar bisa menikmati sunrise kali ya. Waktu saya tanya apakah pesertanya perempuan atau laki-laki, travel agentnya bilang gak tau karena mereka cuma booking via telpon. huahh.. saya jadi ragu mau menggunakan jasa travel. Ngeri juga kalau sampai pesertanya cowo semua. Berangkatnya pagi-pagi buta pula. hiiiyy.. ogah ahh!!

Maka saya pun mencari alternatif lain.

Ternyata ke Prambanan bisa ditempuh dengan trans jogja hanya sekali bis, tanpa transit. Dari Malioboro naik trans jogja yang trayeknya 1A, turun di halte terakhir. Tarifnya cuma 3.000 rupiah aja. Nyaman dan aman. Gak sepadat busway di Jakarta. Dari halte tinggal nyambung becak deh sampai Prambanan.

Tarif masuknya 20.000 untuk Prambanannya saja, 30.000 kalau plus Ratu Boko (udah termasuk transport PP Prambanan – Ratu Boko). Dari Prambanan saya diantar dengan menggunakan minibus sampai ke pintu masuk Ratu Boko. Minibus berangkat tiap 10 menit. Dan tetap akan berangkat walau penumpangnya cuma satu orang. hhehe.. Saya sih ogah kalau cuma sendirian. Pokoknya akan menunggu sampai ada ‘temen’nya :mrgreen:

Saat itu masih pukul 9 pagi. Prambanan sudah mulai ramai dengan rombongan tur. Tapi Ratu Boko masih sepi. Saya tanya ke petugasnya, katanya baru ada 7 orang sejak pagi tadi yang berangkat kesana. Untunglah gak sampai sepuluh menit menunggu, akhirnya saya ada ‘temennya’. Seorang perempuan dari Balikpapan yang juga sendirian. Tadaaa… jadilah kami berwisata bersama. Mba Uga namanya, sedang hamil 4 bulan, dan kemarin baru saja keliling Borobudur sendirian. Kece yah beliau?! πŸ˜†

Ratu Boko terletak di atas bukit. Jaraknya kira-kira 2 km dari Prambanan. Ada beberapa buah candi yang bisa dinikmati di kawasan Ratu Boko, juga gardu pandang dan beberapa goa: Goa Wadon (untuk bersemedi perempuan) dan Goa Lanang (untuk bersemedi laki-laki). Saat siang menjelang, kami pun diantar kembali menuju Prambanan.

Gerbang Kedua Ratu Boko

Nggak sampai 1 jam keliling Prambanan, Mba Uga sudah menyerah lelah dan pamit pulang. Berhubung masih betah, akhirnya saya melanjutkan jalan-jalan berkeliling Prambanan sendirian. Masuk dari satu candi ke candi lain. Mengelilingi candi yang sama berkali-kali. Memperhatikan setiap detail reliefnya. Mengagumi. Berdecak sendiri. Bergumam takjub. Lalu kemudian duduk santai di bawah pohon. Mengamati orang-orang yang lalu-lalang; menontoni gaya berfoto mereka.

Puas berkeliling Prambanan, saya beralih ke areal lain. Masih ada 3 candi lagi yang bisa dikunjungi dengan berjalan kaki, menggunakan kereta wisata, atau menyewa sepeda yang boothnya langsung kelihatan begitu keluar areal Prambanan. Tarifnya 5.000 per orang kalau menggunakan kereta wisata dan 10.000 untuk sewa sepeda. Karena matahari sudah mulai bersahabat, saya memilih bersepeda. Ada plang penunjuk arah trek sepeda yang akan mengarahkan kita menuju ke ketiga candi. Mulai dari Candi Lumbung, Candi Bubrah, dan berakhir di Candi Sewu.

Candi Sewu

Huahh.. Ternyata berkeliling Ratu Boko dan Prambanan memakan waktu seharian. Tapi saya benar-benar puas. Kalau menggunakan jasa travel agent, tentu saya tidak bisa berlama-lama menikmati keindahan Prambanan karena diburu waktu. Tidak pergi ke Ratu Boko karena paket wisatanya hanya Prambanan dan Borobudur. Dan tidak ada sesi bersepeda santai. Tidak apa-apa saya tidak jadi ke Borobudur. Saya jadi punya alasan untuk kembali ke Jogja lagi lain waktu nanti πŸ˜†

Sepanjang sisa sore itu saya habiskan untuk berkeliling di sekitar Jalan Malioboro dengan becak. Mengunjungi sentra penjualan batik, kaos dagadu, dan bakpia pathok. Berfoto narsis di halaman Keraton. Mencari buku di Taman Pintar. Dan mencoba tantangan melewati Beringin Kembar. Konon katanya kalau kita berhasil melewati jalan diantara kedua pohon beringin dengan mata tertutup maka keinginan kita akan terkabul.

Beringin Kembar

Saya, sih, gak percaya dengan mitosnya. Cuma penasaran aja, bisa gak yaa saya melewatinya. Akhirnya dengan percaya diri yang tinggi saya berjalan sendiri dari tengah lapangan menuju beringin kembar dengan mata tertutup. Dan.. Astaga! Ternyata saya melenceng jauuuh! Hampir aja nabrak pagar kalau nggak dikasih tau abang becak yang nganter saya tadi. Kok bisa yaa?! Padahal sebelum mulai tadi saya sudah mengatur posisi berdiri saya tepat berada di tengah-tengah kedua beringin lho. Langkah saya juga kayaknya lurus-lurus aja kok. Kata si abang becak, di sekitar beringin itu memang ada kekuatan gaibnya yang akan ‘membimbing’ dan ‘mengarahkan’ langkah kita. He?! Apa iyaa bang?! Ciyuss? πŸ™„ Saya mencobanya sampai 3 kali. Dipercobaan kedua dan ketiga selalu berhasil dong πŸ˜†

Advertisements